Penulis
KOMPAS.com - Penyakit campak tengah menjadi perhatian publik selepas adanya peningkatan kasus di beberapa wilayah.
Terlebih, saat ada seorang dokter magang di Cianjur yang diberitakan meninggal akibat campak pada 26 Maret lalu.
Kementerian Kesehatan pun mengambil langkah preventif, salah satunya dengan mengeluarkan mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Kewaspadaan terhadap Penyakit Campak bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan guna mengantisipasi penularan dan peningkatan kasus campak, khususnya pada tenaga medis dan kesehatan.
Sementara itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menggelar konferensi pers mengenai bahaya campak pada dewasa dan penangananannya yang tepat.
Baca juga: Kronologi Dokter Meninggal akibat Campak di Cianjur, Kemenkes Ungkap Faktor Risiko
Menurut PAPDI, penyakit campak tergolong sangat mudah menular karena dapat menyebar melalui percikan saluran napas hingga partikel di udara.
“Penularannya bisa melalui percikan liur, tapi juga bisa airborne. Artinya virus dapat bertahan di udara dan terhirup oleh orang lain,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, K-PTI, FINASIM dalam PAPDI Forum dan Konferensi Pers bertema "Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi" di Jakarta, Selasa.
Lebih lanjut dijelaskan Adityo, penularan campak terjadi secara langsung melalui droplet saat penderita batuk atau bersin, serta melalui airborne atau partikel yang dapat bertahan di udara.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak tidak langsung, misalnya saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus lalu menyentuh hidung atau mulutnya sendiri.
Dilansir dari Antara, virus campak akan masuk melalui saluran pernapasan kemudian menyebar ke dalam tubuh sebelum menimbulkan gejala pada kulit.
Baca juga: Dari Abad ke-9 hingga Kini, Campak Tetap Jadi Penyakit Paling Menular di Dunia
Gejala pada fase awal atau fase prodromal dari campak dikenal sebagai “tiga C”, yakni cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (mata merah).
Gejala Tiga C penyakit campak ini sering tidak disadari oleh pasien karena mirip gejala penyakit lain seperti flu dan infeksi saluran pernapasan.
“Kalau masih demam, batuk, pilek, itu bisa macam-macam. Kita baru curiga campak ketika muncul ruam yang khas,” ujarnya.
Adityo mengungkap, ruam campak berupa bercak kemerahan menonjol atau makulopapular biasanya muncul beberapa hari setelah gejala awal.
Kondisi ini menyebabkan adanya periode yang dalam istilah medis dikenal sebagai fase inkubasi atau fase penularan awal, ketika pasien sudah terinfeksi dan dapat menularkan virus, tetapi belum teridentifikasi sebagai campak.
“Di situ ada window di mana pasien sudah sakit dan bisa menularkan, tapi belum terdeteksi sebagai campak,” kata Adityo.
PAPDI menilai perlunya pemahaman mengenai pola penularan dan gejala awal demi meningkatkan deteksi dini serta mencegah penyebaran yang lebih luas di masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang