Penulis
KOMPAS.com - Kepolisian mengungkap perkembangan baru dalam kasus pembunuhan berencana disertai mutilasi di Samarinda, Kalimantan Timur.
Dua saksi kunci yang masih anak di bawah umur diketahui melihat langsung peristiwa tersebut.
Selain itu, penyidik juga mengungkap pembagian peran antara dua tersangka dalam kasus ini.
Lantas, apa yang perlu diketahui dari kasus ini? Berikuf 5 fakta kasus mutilasi di Samarinda.
Baca juga: Motif Mutilasi di Samarinda Terkuak, Polisi Sebut Dendam hingga Perebutan Harta
Polisi menyatakan terdapat dua saksi yang berada di lokasi saat peristiwa terjadi pada dini hari sekitar pukul 02.30 WITA.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar, keduanya melihat langsung kejadian yang menimpa korban.
"Kita sudah mempunyai dua saksi yang merupakan cucu dari tersangka R. Mereka melihat langsung saat J alias W mengenai korban di jam 02.30 dini hari tersebut," terang Hendri, dikutip dari Tribun Kaltim, Rabu (25/3/2026).
Baca juga: Kronologi Lengkap Mutilasi di Samarinda: Direncanakan Sejak Januari, Dieksekusi Jelang Idul Fitri
Kedua saksi diketahui berusia 17 tahun dan sekitar 8 tahun. Polisi menyebut keduanya masih berstatus anak di bawah umur.
"Karena memang mereka ini dua-duanya masih di bawah umur, sekarang terus kita dalami. Keterangan dua orang ini benar-benar menjadi saksi kunci bagi kami," imbuhnya.
Untuk itu, kedua saksi mendapatkan pendampingan selama penyelidikan berlangsung.
Baca juga: Kasus Mutilasi di Samarinda, Suami Siri dan Rekannya Ditangkap, Motif Sakit Hati
Polisi mengungkap peran tersangka Rusmini (56) dalam kasus ini.
Ia disebut sebagai pihak yang mengatur rangkaian kejadian atau otak pembunuhan.
"Si Ibu (Rusmini) itu yang mengatur, jadi Ibu ini otaknya. Dia yang menyusun rencana, menyiapkan tempat eksekusi di rumahnya, hingga menentukan lokasi pembuangan jasad," ujar Hendri, dikutip dari Tribun Kaltim, Rabu.
Baca juga: 5 Fakta Kasus Mutilasi WN Ukraina Igor Komarov di Bali, Motif Uang hingga Red Notice Interpol
Polisi menyebut tersangka Jakpar alias Wahyu berperan sebagai pelaksana dalam peristiwa tersebut.
"Peralatan disiapkan oleh Ibu itu. Si J ini hanya eksekutornya," kata Hendri.