Penulis
KOMPAS.com - Kabah adalah bangunan yang dianggap sebagai salah satu tempat suci bagi umat bangunan suci umat Islam.
Bangunan ini berupa struktur batu berbentuk persegi panjang yang mendekati kubus dan diselimuti kain hitam yang dikenal sebagai kiswah.
Bentuk kotak Kabah yang kita lihat saat ini bukan tanpa sejarah. Wujud tersebut merupakan hasil perjalanan panjang rekonstruksi sejak masa pra-Islam hingga awal perkembangan Islam.
Dirangkum dari ResearchGate, dalam tradisi Islam, fondasi awal Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Struktur aslinya disebut berbentuk persegi panjang dan tidak beratap.
Bangunan tersebut menjadi simbol tauhid, sebagai "Rumah Allah" (Al-Bait), tempat manusia beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sejak awal, bentuknya dirancang sederhana, tanpa ornamen atau simbol penyembahan berhala.
Baca juga: Rahasia Lantai Tawaf di Masjidil Haram Tetap Dingin saat Cuaca Panas
Beberapa dekade sebelum kenabian Nabi Muhammad, Kabah mengalami kerusakan akibat banjir. Suku Quraisy kemudian berinisiatif membangunnya kembali.
Saat dibangun ulang, ukuran bangunan diperkecil dari rancangan semula. Sebagian area fondasi lama tidak ikut dibangun dan dibiarkan di luar struktur utama.
Area inilah yang kemudian dikenal sebagai Hatim atau Hijr Ismail, ditandai dengan dinding setengah lingkaran di sisi Kabah.
Hingga kini, banyak jamaah berusaha berdoa di area tersebut karena diyakini termasuk bagian dari fondasi asli Kabah.
Karena pengurangan ukuran itulah, bangunan hasil rekonstruksi Quraisy berbentuk hampir kubus, persegi dengan tinggi yang relatif seimbang. Desain ini kemudian menjadi bentuk yang dikenal luas hingga sekarang.
Secara simbolik, bentuk kubus mencerminkan kesederhanaan dan kemurnian tauhid. Kabah tidak dibangun untuk menampilkan kemegahan arsitektur, melainkan sebagai pusat orientasi ibadah.
Bagi umat Islam, Kabah berfungsi sebagai kiblat, yakni arah salat yang menyatukan jutaan Muslim di seluruh dunia dalam satu titik yang sama di Kota Mekkah.
Bentuk kubus melambangkan kesederhanaan dan kesucian. Ini menegaskan bahwa umat Islam tidak menyembah Kabah, melainkan hanya menjadikannya arah kiblat.
Baca juga: Jejak Sejarah Perluasan Masjidil Haram dari Masa ke Masa
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang