Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Punggahan, Tradisi Masyarakat Indonesia Sambut Bulan Puasa

Kompas.com, 25 Juni 2024, 22:00 WIB
Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ada banyak tradisi yang bisa ditemui di Indonesia yang digelar untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Salah satu tradisi yang dimaksud adalah Punggahan atau Munggahan, yang dilakukan oleh umat Islam di beberapa daerah di Indonesia menjelang Ramadan.

Punggahan biasanya dilaksanakan antara seminggu hingga dua hari menjelang hari pertama puasa Ramadan.

Tradisi ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur dan mempererat tali silaturahmi.

Baca juga: Manao, Tradisi Sakral Masyarakat Sumba Barat

Apa itu tradisi Punggahan?

Nama tradisi Punggahan atau Munggahan berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yakni "munggah", yang berarti naik.

Sedangkan tradisi Munggahan atau Punggahan terkadang diartikan berbeda di beberapa daerah.

Melansir lampung.nu.or.id, Punggahan artinya menaikkan puasa, atau naik dari bulan Sya'ban menuju bulan Ramadan yang mulia, yang mengindikasikan bahwa Ramadan adalah puncak dari bulan mulia sebelumnya, yaitu Rajab dan Sya'ban.

Ada pula yang mengartikan Punggahan berarti menaikkan iman sebelum masuknya bulan Ramadan.

Terlepas dari perbedaan tersebut, pada intinya tradisi Punggahan adalah sarana masyarakat untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan berdoa kepada Allah.

Punggahan bertujuan untuk mengingatkan para umat Islam bahwa bulan suci Ramadan yang penuh berkah akan segera tiba sehingga mereka dapat menyambutnya dengan iman yang lebih kuat, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Selain itu, Punggahan juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan, sarana mempererat tali persaudaraan di antara sesama, dan untuk mengirim doa pada orang-orang yang telah meninggal dunia.

Baca juga: Malamang, Tradisi Unik Masyarakat Minang Jelang Hari Besar Islam

Dalam praktiknya, tradisi Punggahan dilakukan dengan mengadakan acara makan bersama keluarga, kerabat, dan tetangga.

Lokasi pelaksanaannya bisa di masjid, musala, atau di rumah salah satu orang dengan agenda melakukan tahlil dan doa.

Jika acara dilakukan di masjid, masyarakat biasanya membawa makanan dari rumah masing-masing, tetapi bila diadakan di rumah salah satu warga, tuan rumah biasanya yang menyiapkan makanan.

Makanan tersebut kemudian dikumpulkan dan didoakan bersama sembari mengucap rasa syukur atas datangnya bulan Ramadan.

Setelah doa bersama selesai, barulah semua peserta menyantap hidangan yang telah disiapkan.

Dengan demikian, tradisi ini merupakan sarana silaturami, bersedekah, dan bentuk syukur akan datangnya bulan suci Ramadan.

Hingga saat ini, tradisi Punggahan masih dilakukan oleh umat Islam di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Kendati setiap daerah bisa memiliki cara pelaksanaan Punggahan yang berbeda-beda, pada intinya tradisi ini digelar dengan doa agar diberi kelancaran dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau