Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hanya Tersisa 8 Perajin, Kerajinan Perak Koto Gadang Agam Berjuang Melawan Zaman

Kompas.com, 30 Maret 2026, 13:31 WIB
Rachmawati

Editor

KOMPAS.com – Nagari Koto Gadang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan perak terkemuka di Indonesia, bersanding dengan Kotagede di Yogyakarta dan Bali.

Memiliki akar sejarah yang kuat sejak era kolonial Belanda pada tahun 1911, kerajinan perak Koto Gadang dahulu menjadi primadona yang sangat diminati oleh kaum bangsawan Eropa. Namun kini, kilau perak dari tanah Minang tersebut perlahan mulai meredup akibat tergerus zaman dan minimnya minat generasi muda.

Baca juga: 4 Tips Membuat Kue Sapik Khas Minang, Renyah Anti Lengket

Sejarah dan Nilai Ekonomi yang Segmented

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Koto Gadang, Jurian Andika, mengungkapkan bahwa penetrasi kerajinan perak Koto Gadang ke pasar internasional sudah dimulai sejak abad ke-19.
"Awalnya untuk dijual ke bangsa Eropa. Sejarah berdasarkan dokumen, abad 19 sudah mulai ada perajin perak khususnya pria," ujar Jurian dalam sesi wawancara di RRI Pro3, Selasa (24/3/2026).

Bagi masyarakat setempat, perak bukan sekadar aksesori, melainkan urat nadi ekonomi. Uniknya, di Koto Gadang, perhiasan perak memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan emas dalam prosesi adat pernikahan.

"Nilai ekonomi sangat segmented, orang Minang beli perhiasan atau orang asing beli miniatur perak. Sekarang berkembang misal cincin kawin atau perhiasan, bros yang lebih umum dan market luas," tambahnya.

Baca juga: Saat Aroma Bilih dan Jariang Bawa Ardi dan Keluarga Pulang ke Ranah Minang...

Titik Balik Penurunan, dari Krisis Moneter hingga Pandemi

Kejayaan perak Koto Gadang mulai goyah saat krisis moneter menghantam Asia Tenggara pada tahun 1998. Pesanan anjlok drastis, memaksa banyak perajin beralih profesi menjadi petani, pedagang, hingga pengemudi ojek online demi menyambung hidup.

Situasi diperparah dengan hantaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Saat ini, jumlah perajin yang masih aktif berproduksi di rumah masing-masing hanya tersisa delapan orang, mayoritas berusia di atas 40 tahun.

Uwais Akarni, salah satu perajin yang masih bertahan, mengakui tantangan berat yang dihadapi, mulai dari penurunan permintaan hingga mahalnya bahan baku.

"Sekarang mulai menurun. Bahan mentah juga mahal, mencapai Rp 45.000 per gram," kata Uwais. Untuk bertahan, ia kini mengandalkan pemasaran digital secara online.

Baca juga: Tips Memasak Rendang Asli Minang, Bisa Tahan Tanpa Kulkas

Ancaman Putusnya Mata Rantai Regenerasi

Ilustrasi perhiasan perakFREEPIK.COM/WIRESTOCK Ilustrasi perhiasan perak
Persoalan paling krusial yang dihadapi adalah mandeknya regenerasi. Budaya merantau untuk menempuh pendidikan tinggi di luar daerah membuat anak muda Koto Gadang enggan menekuni profesi sebagai perajin perak.

Aisyah, seorang pemudi asal Koto Gadang yang memilih berkarier sebagai jurnalis, menyebut bahwa fokus utama orang tua di daerahnya adalah memastikan anak-anak mereka sukses di bidang akademis.

"Prinsip Koto Gadang merantau untuk pendidikan. Kembali ke sini fokus utama bukan melanjutkan kerajinan tapi melestarikan prinsip yang mereka ambil, misal di bidang teknologi, pangan, dan ilmu lainnya," jelas Aisyah.

Senada dengan Aisyah, Fauzi Rahman, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, mengaku tidak memiliki keterampilan di bidang seni perak meskipun ia menaruh minat untuk mempelajari proses pembuatannya.

Baca juga: Harga Emas dan Perak Dunia Anjlok di Tengah Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi Global

Keunggulan Teknik Tradisional 12 Tahap

Meski diambang kepunahan, kualitas perak Koto Gadang tetap tak tertandingi. Proses pembuatannya masih mempertahankan teknik tradisional melalui 12 tahapan rumit, mulai dari peleburan biji perak hingga pembentukan motif menggunakan benang perak yang halus.

Oktri Yeni Ulfa, karyawan Amai Setia wadah penjualan kerajinan warga lokal, mengatakan bahwa produk perak Koto Gadang memiliki ciri khas ukiran yang sangat detail dan elegan.

"Motif dan proses pembuatan beda dari yang lain, lebih sulit dan rumit dengan motif seperti garis kecil dibuat ukiran. Yang paling dicari biasanya cincin Minang," tutur Oktri.

Untuk menjaga agar tradisi ini tidak hilang ditelan waktu, Pokdarwis Koto Gadang mulai melirik strategi baru, yakni menjual "pengalaman" melalui kelas pembuatan perak bagi turis, serupa dengan model yang sukses diterapkan di Bali dan Yogyakarta.

"Dalam dua tahun terakhir ini kita berjuang. Kalau menjual produk sulit, maka yang kita jual adalah kelas membuat perak. Sehingga turis pulang membawa oleh-oleh yang dia buat sendiri," kata Jurian.

Baca juga: Harga Perak Melonjak Tiga Kali Lipat dalam Setahun, Apa Pemicunya?

Selain itu, muncul usulan agar kerajinan perak dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal di Sekolah Dasar (SD) setempat, sebagaimana kerajinan batik di Jawa. Harapannya, tangan-tangan muda kembali terampil mengukir perak, memastikan warisan sejarah ini tetap berkilau di masa depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Deretan Prank April Mop Paling Ikonik di Dunia, dari Panen Spageti hingga Burger Kidal
Deretan Prank April Mop Paling Ikonik di Dunia, dari Panen Spageti hingga Burger Kidal
Sumatera Selatan
Kenapa Ada April Mop Setiap 1 April? Ini Sejarah dan Tragedi Lucu di Baliknya
Kenapa Ada April Mop Setiap 1 April? Ini Sejarah dan Tragedi Lucu di Baliknya
Jawa Timur
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina di Pulau Sumatera dan Kepulauan Sekitarnya per 1 April 2026
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina di Pulau Sumatera dan Kepulauan Sekitarnya per 1 April 2026
Sumatera Barat
Overthinking Sebelum Tidur, Mengapa Otak Lebih Berisik di Malam Hari? Ini Kata Psikolog
Overthinking Sebelum Tidur, Mengapa Otak Lebih Berisik di Malam Hari? Ini Kata Psikolog
Banten
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026 di Pegadaian Kompak Naik, Simak Daftar Terbaru di Awal Bulan
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026 di Pegadaian Kompak Naik, Simak Daftar Terbaru di Awal Bulan
Kalimantan Barat
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina di Jawa Barat per 1 April 2026
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina di Jawa Barat per 1 April 2026
Jawa Barat
Promo Alfamart Hari Ini 1 April 2026, Ada Diskon 60 Persen di Tebus Suka Suka
Promo Alfamart Hari Ini 1 April 2026, Ada Diskon 60 Persen di Tebus Suka Suka
Jawa Tengah
Harga BBM Pertamina per 1 April 2026 di Sulsel, Ini Daftar Lengkapnya
Harga BBM Pertamina per 1 April 2026 di Sulsel, Ini Daftar Lengkapnya
Sulawesi Selatan
Harga Emas Antam Hari Ini 1 April 2026 Naik Rp 75.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya di Awal Bulan
Harga Emas Antam Hari Ini 1 April 2026 Naik Rp 75.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya di Awal Bulan
Kalimantan Barat
Promo Indomaret Hari Ini 1 April 2026, Ada Tebus Murah Hemat 50 Persen
Promo Indomaret Hari Ini 1 April 2026, Ada Tebus Murah Hemat 50 Persen
Jawa Tengah
Promo FamilyMart Hari Ini, Bayar Suka-Suka untuk FamiCafé Beverage Regular
Promo FamilyMart Hari Ini, Bayar Suka-Suka untuk FamiCafé Beverage Regular
Jawa Barat
Daftar Harga BBM Pertamina per 1 April 2026 di Jawa Timur
Daftar Harga BBM Pertamina per 1 April 2026 di Jawa Timur
Jawa Timur
Tarif Listrik Subsidi dan Non-Subsidi per 1 April 2026, Ada Kenaikan?
Tarif Listrik Subsidi dan Non-Subsidi per 1 April 2026, Ada Kenaikan?
Kalimantan Barat
Cuaca Ekstrem Picu Puting Beliung dan Longsor di Bekasi: 27 Rumah Rusak dan Warga Mengungsi
Cuaca Ekstrem Picu Puting Beliung dan Longsor di Bekasi: 27 Rumah Rusak dan Warga Mengungsi
Jawa Barat
Promo Superindo Hari Ini 1 April 2026, Buah Segar Harga Murah
Promo Superindo Hari Ini 1 April 2026, Buah Segar Harga Murah
Jawa Tengah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau