Editor
KOMPAS.com – Nagari Koto Gadang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan perak terkemuka di Indonesia, bersanding dengan Kotagede di Yogyakarta dan Bali.
Memiliki akar sejarah yang kuat sejak era kolonial Belanda pada tahun 1911, kerajinan perak Koto Gadang dahulu menjadi primadona yang sangat diminati oleh kaum bangsawan Eropa. Namun kini, kilau perak dari tanah Minang tersebut perlahan mulai meredup akibat tergerus zaman dan minimnya minat generasi muda.
Baca juga: 4 Tips Membuat Kue Sapik Khas Minang, Renyah Anti Lengket
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Koto Gadang, Jurian Andika, mengungkapkan bahwa penetrasi kerajinan perak Koto Gadang ke pasar internasional sudah dimulai sejak abad ke-19.
"Awalnya untuk dijual ke bangsa Eropa. Sejarah berdasarkan dokumen, abad 19 sudah mulai ada perajin perak khususnya pria," ujar Jurian dalam sesi wawancara di RRI Pro3, Selasa (24/3/2026).
Bagi masyarakat setempat, perak bukan sekadar aksesori, melainkan urat nadi ekonomi. Uniknya, di Koto Gadang, perhiasan perak memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan emas dalam prosesi adat pernikahan.
"Nilai ekonomi sangat segmented, orang Minang beli perhiasan atau orang asing beli miniatur perak. Sekarang berkembang misal cincin kawin atau perhiasan, bros yang lebih umum dan market luas," tambahnya.
Baca juga: Saat Aroma Bilih dan Jariang Bawa Ardi dan Keluarga Pulang ke Ranah Minang...
Kejayaan perak Koto Gadang mulai goyah saat krisis moneter menghantam Asia Tenggara pada tahun 1998. Pesanan anjlok drastis, memaksa banyak perajin beralih profesi menjadi petani, pedagang, hingga pengemudi ojek online demi menyambung hidup.
Situasi diperparah dengan hantaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Saat ini, jumlah perajin yang masih aktif berproduksi di rumah masing-masing hanya tersisa delapan orang, mayoritas berusia di atas 40 tahun.
Uwais Akarni, salah satu perajin yang masih bertahan, mengakui tantangan berat yang dihadapi, mulai dari penurunan permintaan hingga mahalnya bahan baku.
"Sekarang mulai menurun. Bahan mentah juga mahal, mencapai Rp 45.000 per gram," kata Uwais. Untuk bertahan, ia kini mengandalkan pemasaran digital secara online.
Baca juga: Tips Memasak Rendang Asli Minang, Bisa Tahan Tanpa Kulkas
Ilustrasi perhiasan perakAisyah, seorang pemudi asal Koto Gadang yang memilih berkarier sebagai jurnalis, menyebut bahwa fokus utama orang tua di daerahnya adalah memastikan anak-anak mereka sukses di bidang akademis.
"Prinsip Koto Gadang merantau untuk pendidikan. Kembali ke sini fokus utama bukan melanjutkan kerajinan tapi melestarikan prinsip yang mereka ambil, misal di bidang teknologi, pangan, dan ilmu lainnya," jelas Aisyah.
Senada dengan Aisyah, Fauzi Rahman, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, mengaku tidak memiliki keterampilan di bidang seni perak meskipun ia menaruh minat untuk mempelajari proses pembuatannya.
Baca juga: Harga Emas dan Perak Dunia Anjlok di Tengah Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi Global
Meski diambang kepunahan, kualitas perak Koto Gadang tetap tak tertandingi. Proses pembuatannya masih mempertahankan teknik tradisional melalui 12 tahapan rumit, mulai dari peleburan biji perak hingga pembentukan motif menggunakan benang perak yang halus.
Oktri Yeni Ulfa, karyawan Amai Setia wadah penjualan kerajinan warga lokal, mengatakan bahwa produk perak Koto Gadang memiliki ciri khas ukiran yang sangat detail dan elegan.
"Motif dan proses pembuatan beda dari yang lain, lebih sulit dan rumit dengan motif seperti garis kecil dibuat ukiran. Yang paling dicari biasanya cincin Minang," tutur Oktri.
Untuk menjaga agar tradisi ini tidak hilang ditelan waktu, Pokdarwis Koto Gadang mulai melirik strategi baru, yakni menjual "pengalaman" melalui kelas pembuatan perak bagi turis, serupa dengan model yang sukses diterapkan di Bali dan Yogyakarta.
"Dalam dua tahun terakhir ini kita berjuang. Kalau menjual produk sulit, maka yang kita jual adalah kelas membuat perak. Sehingga turis pulang membawa oleh-oleh yang dia buat sendiri," kata Jurian.
Baca juga: Harga Perak Melonjak Tiga Kali Lipat dalam Setahun, Apa Pemicunya?
Selain itu, muncul usulan agar kerajinan perak dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal di Sekolah Dasar (SD) setempat, sebagaimana kerajinan batik di Jawa. Harapannya, tangan-tangan muda kembali terampil mengukir perak, memastikan warisan sejarah ini tetap berkilau di masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang