KOMPAS.com - Selain rendang, salah satu makanan tradisional yang khas disajikan di Sumatera Barat, khususnya oleh orang Minang saat Lebaran yaitu kue sapik.
Kue sapik sekilas serupa dengan kue semprong, teksturnya renyah, dan agak lebih tebal dibanding semprong.
Seperti namanya, kue sapik khas Minang dimasak dengan cara dijepit menggunakan alat khusus. Umumnya, kue sapik yang baru matang, langsung dilipat ataupun digulung.
Baca juga: Resep Kue Semprong, Bisa DItambahkan Kacang Tanah
"Kue sapik bisa digulung, dan bisa pula dilipat. Kalau saya bikin digulung, supaya bentuknya rapi saat ditata di dalam stoples," kata etek Mar, pembuat kue homemade di Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat saat Kompas.com temui di lokasi, Selasa (17/3/2026).
Kue Sapik tidak hanya disajikan saat Lebaran, tetapi juga pada saat acara-acara tertentu, misalnya saat acara pernikahan sebagai camilan.
Baca juga: Resep Kue Semprong Lipat, Pakai Wijen dan Kacang Tanah
Potrait pembuatan kue sapik khas Minang. Rasanya manis, perpaduan antara manis dari gula pasir dan legit santan kelapa yang diperas secara tradisional.
Cara membuat kue sapik sekilas tampak mudah, tetapi jika salah teknik akan membuat kue sapik berakhir gagal.
Baca juga: Kue Semprong Yuta, Hadirkan Jajanan Klasik dengan Tepung Mocaf
Beberapa hal yang kerap tejadi saat kue sapik gagal, yaitu adonan yang lengket di cetakan, sehingga membuat bentuk kue sapik menjadi tidak proporsional.
Simak tips membuat kue sapik asli Minang yang renyah dan antilengket, ala etek Mar berikut:
Untuk membuat kue sapik, adonan harus diaduk menggunakan tangan secara perlahan, dan jangan aduk menggunakan mikser atau alat bantu sejenis.
"Jangan pakai mikser, nanti adonannya mengembang," kata etek Mar.
Baca juga: Resep Semprong Wijen Renyah untuk Isi Stoples Camilan di Rumah
Potrait pembuatan kue sapik khas Minang. Penting untuk tau urutan bahan saat membuat adonan. Mula mula, masukkan tepung beras, telur, adas/vanila, dan air hangat.
Kata etek Mar, untuk membuat satu bungkus tepung beras, perlu satu butir telur ayam biasa.
Pertama, aduk adonan dengan santan dan jangan dulu tambahkan air. Setelah adonan tercampur rata, pindahkan sebagian adonan ke wadah yang lebih kecil.
Baca juga: Tips Memasak Rendang Asli Minang, Bisa Tahan Tanpa Kulkas
"Untuk pengadukan pertama, kekentalannya bisa diperkirakan, dan jangan terlalu encer. Nanti saat mencetaknya, pindahkan sebagian adonan ke wadah kecil untuk diencerkan," katanya.
Pemisahan adonan ke wadah yang lebih kecil ini penting dilakukan. Ini bisa membantu menghindari semua adonan terbuang jika pengadukkan semua adonan terlalu encer.
Alat pencetak kue sapik khas Minang. Sebelum mencetak kue sapik, disarankan untuk mengoles cetakan dengan minyak sayur. Tujuannya, supaya cetakan tidak lengket.
"Kalau kue sapik lengket, biasanya juga karena kurang kelapa (santan) dan gula," kata etek Mar.
Baca juga: Resep Bubur Kampiun, Dessert Tradisional Khas Minang
Kata etek Mar, alat pencetak kue sapik tidak disarankan untuk dibasuh menggunakan air, apalagi dengan tambahan sabun pencuci piring.
Sebaiknya, bersihkan permukaan cetakan menggunakan tisu kering, kemudian simpan di tempat yang kering supaya bisa digunakan kembali.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang