Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sarapan ala Minang di Padang, Coba Seporsi Katupek Gulai Tunjang

Kompas.com, 31 Oktober 2025, 09:14 WIB
Krisda Tiofani,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

PADANG, KOMPAS.com - Bukan roti maupun buah, masyarakat Minangkabau biasa memulai hari dengan menikmati santapan berat, seperti ketupat sayur padang.

Di kota makanan ini berasal, ketupat sayur padang dikenal dengan sebutan katupek. Nama menunya beragam, sesuai sayur pendamping dan lauk yang digunakan.

Kompas.com menikmati sarapan ala ranah Minang di warung pinggir jalan dekat Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang, Sumatera Barat pada Senin (27/10/2025).

 Baca juga: Warung Ketupat Cap Go Meh Legendaris di Jakarta, Buka Sejak 1965

Dari jejeran warung makan dekat bandara, saya dan rombongan Familiarization Kementerian Pariwisata RI bersama Trip Travel Agent Malaysia, memilih Warkop Rahmah untuk tempat singgah mengisi perut keroncongan.

Warung ini tampak ramai pelanggan pagi itu, sebagian di antaranya berseragam coklat khas pegawai negeri sipil.

Ada tiga opsi katupek gulai yang ditawarkan: katupek gulai tunjang, katupek gulai pakis, dan katupek gulai tauco.

Baca juga: 4 Cara Simpan dan Hangatkan Ketupat Lebaran, Saran dari Koki

Katupek gulai tunjang atau ketupat sayur gulai di Warkop Rahmah. Lokasi warungnya dekat Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang, Sumatera Barat.Kompas.com/Krisda Tiofani Katupek gulai tunjang atau ketupat sayur gulai di Warkop Rahmah. Lokasi warungnya dekat Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang, Sumatera Barat.
Saya memilih katupek gulai tunjang yang paling populer di warung ini. Seporsi ketupatnya disajikan dengan sayur nangka, kikil, dan gulai tunjang.

Porsinya cukup besar. Isi katupek bersama kuah gulainya memenuhi piring keramik, bahkan hampir tumpah.

Kuah gulai berwarna oranye terasa medok. Cita rasa pedas perlahan-lahan memenuhi tenggorokan, meninggalkan jejak gurih dari santan dan rempah yang berpadu sempurna di dalam tubuh.

Baca juga: Resep Ayam Bakar Padang, Bumbu Melimpah yang Pekat dan Meresap

Katupek gulai tunjang atau ketupat sayur gulai di Warkop Rahmah. Lokasi warungnya dekat Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang, Sumatera Barat.Kompas.com/Krisda Tiofani Katupek gulai tunjang atau ketupat sayur gulai di Warkop Rahmah. Lokasi warungnya dekat Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang, Sumatera Barat.
Isi gulai tunjangnya pun tidak pelit. Penjual memberikan banyak potongan kikil dan tunjang yang empuk, kenyal, juga berlemak gurih.

"Kalau Sabtu-Minggu biasanya habis 10 kilogram per hari. Kalau hari-hari biasa cuma lima kilogram," kata Rahmah kepada Kompas.com.

Berkilo-kilogram tunjang ini dihabiskan dalam waktu 24 jam berjualan setiap hari. Jadi, katupek gulai tunjang tak hanya tersedia saat sarapan.

Baca juga: Resep Gulai Tunjang Khas Padang, Kikil Sapi Kuah Santan

Selain potongan tunjang atau bagian kaki yang terbilang besar, potongan kikil dalam sajian ini juga berlimpah.

"Disebut tunjang kalau ada tulangnya. Kalau kikil berarti tanpa tulang. Sama-sama daging kaki," jelas Rahmah.

Menikmati seporsi gulai tunjang yang pedas dengan potongan ketupat gurih cukup untuk mengisi tenaga hingga siang hari.

Tidak perlu khawatir soal harga. Ketupat sayur dengan porsi melimpah dan cita rasa medok ini dijual dengan harga cukup terjangkau, yakni Rp 20.000 per porsi.

Baca juga: Grebeg Syawal, 1.000 Ketupat Bakal Dibagikan di Bukit Sidoguro Klaten, Apa Maknanya?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau