Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tembus Ratusan Korban, Geng Narkoba Brasil Serang Polisi Pakai Pesawat Tanpa Awak

Kompas.com, 30 Oktober 2025, 07:45 WIB
Muhammad Iqbal Amar,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Jumlah korban tewas dalam operasi besar-besaran polisi di Rio de Janeiro, Brasil, pada Selasa (28/10/2025) kembali melonjak menjadi 132 orang, menurut laporan terbaru sejumlah pejabat.

Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari data awal usai penggerebekan aparat di kawasan kumuh Alemao dan Penha di wilayah utara kota itu.

Dilansir dari BBC, Rabu (29/10/2025), Kantor Pembela Umum, lembaga bantuan hukum bagi warga kurang mampu merilis angka tersebut setelah keluarga korban berunjuk rasa dengan menempatkan puluhan jenazah di sebuah alun-alun pada Rabu (29/10/2025) pagi.

Aksi itu menjadi simbol bahwa skala kekerasan jauh lebih besar dibandingkan laporan resmi sebelumnya.

Operasi tersebut kini disebut sebagai penggerebekan paling mematikan dalam sejarah Rio, kota yang bertahun-tahun berjuang menekan pengaruh jaringan kriminal di favela (permukiman kumuh).

Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, juga dikabarkan sangat terkejut usai mendengar peningkatan jumlah korban.

Bahkan sebelum data korban melonjak, Kantor HAM PBB telah menyatakan kengeriannya terhadap operasi tersebut.

Baca juga: Kim Jong Un Disebut Pernah Kunjungi Disneyland Tokyo Gunakan Paspor Brasil

Geng narkoba Brasil serang polisi pakai pesawat tanpa awak

Situasi mencekam yang terjadi pada Selasa (28/10/2025) digambarkan warga seperti medan perang dengan aksi baku tembak dan pembakaran bus untuk barikade.

Bahkan anggota geng narkoba Brasil menggunakan drone atau pesawat tanpa awak untuk menjatuhkan bahan peledak.

“Ini bukan lagi kejahatan biasa, melainkan teror narkotika,” ujar Gubernur Castro.

Ia mengeklaim razia itu telah disiapkan selama dua bulan berdasarkan penyelidikan mendalam.

Sosok yang ditangkap termasuk pria yang diduga pemasok narkoba utama bagi kelompok Comando Vermelho (Komando Merah).

Peningkatan angka korban memicu kecaman luas, terlebih karena operasi dilakukan menjelang Rio menjadi tuan rumah KTT Wali Kota Dunia C40 dan Earthshot Prize yang dihadiri Pangeran William pada 5 November 2025.

Banyak pihak menilai langkah ini akan menarik perhatian global terhadap situasi keamanan di kota tersebut.

Baca juga: Mengintip MBG di Jerman, Norwegia, Brasil, dan India, Apa Bedanya dengan Indonesia?

Jurnalis kriminal Brasil, Rafael Soares, menilai operasi ini tak hanya menjadi upaya pemberantasan geng narkoba, tetapi juga sarat kepentingan politik menjelang pemilihan lokal tahun depan.

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau