Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dosen UGM Ungkap Cara Mengusir Tikus di Musim Hujan Tanpa Gunakan Racun

Kompas.com, 6 November 2025, 10:00 WIB
Alicia Diahwahyuningtyas,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tikus adalah hama rumah tangga yang sering masuk ke rumah untuk mencari makanan, udara, dan tempat berlindung, terutama saat musim hujan.

“Begitu musim dingin tiba, hewan pengerat mulai mencari makanan, kehangatan, dan tempat berlindung. Dapur menjadi tempat ideal karena biasanya merupakan salah satu ruangan terhangat di rumah,” ujar pembasmi hama berlisensi, Allan Bossel.

“Di sanalah tikus-tikus dapat menemukan sumber makanan, air, serta tempat berlindung yang stabil," tambahnya, dikutip dari The Spruce (11/3/2025).

Hewan pengerat ini biasanya masuk melalui celah kecil dan bersembunyi di tempat gelap seperti di bawah lantai, di dalam dinding, atau di langit-langit.

Selain mengganggu, tikus juga sering menggerogoti furnitur, kabel, papan, hingga buku, dan dapat menyebarkan penyakit serta membawa hama lain seperti kutu dan bakteri.

Meski racun tikus sering digunakan untuk membasmi hama ini, penggunaannya perlu hati-hati karena bisa membahayakan hewan peliharaan seperti kucing atau anjing karena bisa secara tidak sengaja ikut memakan racun tersebut.

Lalu bagaimana cara mengusir tikus secara alami tanpa menggunakan racun?

Baca juga: 8 Cara Mengusir Kamitetep yang Banyak Muncul di Musim Hujan


Cara mengusir tikus tanpa racun

Dosen Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Donan Satria Yudha, menjelaskan sejumlah cara mengusir tikus secara alami tanpa perlu menggunakan racun kimia.

Cara-cara ini tidak hanya lebih aman bagi manusia dan hewan peliharaan, tetapi juga ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi lingkungan.

Berikut beberapa cara mengusir tikus secara alami dari rumah:

1. Pasang kawat atau jala di celah rumah

Donan menyarankan agar masyarakat memasang kawat strimin, jala halus, atau mist net pada area rumah yang berpotensi menjadi jalur masuk tikus.

“Pasang dengan ukuran jala terkecil, sekitar 0,5 milimeter, pada lubang atau celah yang terhubung dengan luar rumah, seperti lubang udara, ventilasi, atau saluran udara,” ujarnya kepada Kompas.com , Selasa (4/11/2025).

Ia juga menekankan pentingnya memasang secara berlapis serta melakukan pemeriksaan rutin agar jaring tetap utuh dan efektif menutup akses tikus.

Baca juga: Pengendali Hama Ungkap Cara Efektif Usir Tikus dan Kutu Busuk dengan Aman

2. Pelihara kucing atau anjing

Cara alami lainnya adalah dengan memelihara hewan predator alami tikus, seperti kucing atau anjing.

“Terutama kucing kampung yang aktif berkeliaran di sekitar rumah. Kucing merupakan predator alami tikus, sehingga kehadirannya dapat menekan populasi hewan pengganggu tersebut,” jelas Donan.

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau