KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk mengambil alih minyak Iran di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu (29/3/2026), sebagaimana juga dilaporkan sejumlah media internasional.
“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil alih minyak di Iran,” ujar Trump. Ia bahkan menyebut kritik terhadap gagasan tersebut sebagai “bodoh”.
Trump juga membandingkan rencana itu dengan pendekatan Amerika Serikat di Venezuela, ketika Washington berupaya mengendalikan sektor minyak setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap.
Baca juga: Demo Anti-Trump “No Kings” Meluas di Berbagai Kota AS, Apa Saja Tuntutannya?
Berbeda dengan Venezuela, langkah terhadap Iran disebut berpotensi dilakukan melalui operasi militer langsung.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah merebut Pulau Kharg, yang menjadi pusat ekspor sekitar 90 persen minyak Iran sekaligus lokasi strategis di dekat Selat Hormuz.
Reuters melaporkan bahwa pemerintah AS bahkan mempertimbangkan pengiriman pasukan darat ke pulau tersebut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pihaknya telah bersiap menghadapi kemungkinan tersebut.
“Pasukan kami sedang menunggu tentara Amerika memasuki wilayah tersebut,” ujarnya, dikutip kantor berita Tasnim.
Meski demikian, Trump belum memastikan apakah operasi itu benar-benar akan dilakukan.
“Mungkin kita akan merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita punya banyak pilihan,” kata Trump.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri AS terkait rencana tersebut.
Baca juga: Pro Kontra Tanda Tangan Trump di Dolar AS, Mulai Dicetak Juni 2026
Pernyataan Trump muncul saat konflik antara AS-Israel dan Iran memasuki minggu kelima dan semakin meluas.
Ketegangan ini berdampak langsung pada sektor energi global. Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia telah mengalami gangguan serius, memicu lonjakan harga energi.
Harga minyak mentah pun melonjak tajam. Minyak Brent tercatat naik hingga kisaran 115 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate juga menembus lebih dari 100 dolar AS per barel.