Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Kapten Zulmi yang Gugur di Lebanon, Kebanggaan Keluarga dan Tetangga di Cimahi

Kompas.com, 1 April 2026, 13:12 WIB
Bagus Puji Panuntun,
Eris Eka Jaya

Tim Redaksi

CIMAHI, KOMPAS.com - Suasana dukacita menyelimuti rumah keluarga Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar di Kota Cimahi, Jawa Barat, setelah kabar gugurnya prajurit TNI itu dalam misi perdamaian di Lebanon.

Di mata keluarga, Zulmi bukan hanya seorang prajurit, melainkan juga anak yang saleh, penurut, dan menjadi kebanggaan keluarga hingga akhir hayatnya.

Kabar duka dari Lebanon pertama kali diterima keluarga pada Senin (30/3/2026) malam.

Suasana santai di rumah sederhana keluarga Zulmi dan istrinya mendadak berubah menjadi penuh tanda tanya.

Keluarga sempat tidak percaya hingga akhirnya kepastian kabar gugurnya Kapten Zulmi diterima pada Selasa (31/3/2026) sore.

Baca juga: Profil Kapten Inf Zulmi Aditya, Prajurit Kopassus Asal Cimahi yang Gugur di Lebanon

Kapten Inf Zulmi gugur dalam tugas di usia 33 tahun. Ia merupakan bagian dari East Mobile Reserve (SEMR) dan meninggal saat mengawal konvoi kendaraan UNIFIL di wilayah Lebanon Selatan.

Sejak Selasa malam, pelayat mulai berdatangan ke rumah duka. Jumlah pelayat semakin ramai pada Rabu siang.

Karangan bunga dari sejumlah tokoh publik berderet hingga menutupi pagar rumah tetangga almarhum.

Keluarga kini masih menunggu kepastian rencana pemulangan jenazah Kapten Zulmi dari Lebanon ke Indonesia.

Rencananya, jasad ayah dua anak itu akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kota Bandung.

Pribadi Sederhana

Di mata keluarga, Zulmi dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan religius.

Hal itu disaksikan keluarga yang melihat bagaimana tumbuh kembang Zulmi sedari kecil.

Kakak sepupunya, Risman Efendi, mengatakan almarhum merupakan sosok anak dan adik yang selalu menjadi kebanggaan keluarga.

"Ya dia sosok adik dan anak yang sampai detik terakhirnya sangat jadi kebanggaan kami di keluarga ya. Dia ini memang saleh, selalu bicara soal agama. Makanya, kami sangat kehilangan," ucap Risman di rumah duka, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Prajurit di Lampung Gelar Salat Gaib untuk 3 TNI Gugur di Lebanon

Zulmi menempuh pendidikan dasar di Kota Bandung, kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Cimahi dan SMAN 3 Cimahi.

Setelah lulus sekolah menengah atas, ia mendaftar Akademi Militer dan langsung lolos pada percobaan pertama.

"Mungkin karena orangtuanya TNI, kemudian kakaknya juga di AU, dia lalu termotivasi daftar TNI. Dia Akmil 2015, sejak awal dinas di Kopassus Grup 2/Para Komando, dinas di Lebanon baru kali ini," kata Risman.

Selama bertugas sebagai bagian dari Satgas TNI Konga XXIII-S UNIFIL sejak sekitar satu tahun terakhir, Zulmi disebut selalu menyempatkan diri mengabari keluarga di rumah.

"Terakhir kirim foto sama rekannya di sana. Ya kalau komunikasi dia tanya keluarga di sini bagaimana, terus selalu minta didoakan sama keluarga,” tutur Risman.

Kekhawatiran Keluarga

"Dia enggak pernah mengeluh, melaksanakan tugasnya dengan baik, mungkin dia enggak cerita sepenuhnya bagaimana kondisi dia di sana," ucap Risman.

Keluarga sebenarnya sempat khawatir dengan kondisi keamanan di Lebanon setelah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Apalagi, masa tugas Zulmi sebagai Satgas Perdamaian UNIFIL sebenarnya akan berakhir pada April mendatang.

"Jadi, adik saya ini sudah setahun dinas jadi Satgas Perdamaian, bulan depan itu tugasnya selesai. Kami sekeluarga sudah ikhlas, semoga adik kami diterima Allah SWT," kata Risman.

Kenangan baik tentang sosok Kapten Zulmi juga datang dari tetangganya, Rusmin.

Ketua RT di lingkungan rumah orangtua Zulmi itu mengenang almarhum sebagai sosok yang baik dan tidak pernah membuat masalah.

"Ya dia terkenal baik di sini, saleh, enggak macem-macem, pintar juga anaknya. Ya kami sebagai tetangga tentunya sangat kehilangan," sebut Rusmin.

Sebagai orang yang harus dekat dengan warga, Rusmin mengenal betul bagaimana Zulmi menjadi kebanggaan akan terlibat di misi kemanusiaan baik di keluarga maupun tetangganya.

"Seingat saya di lingkungan ini yang jadi TNI apalagi sampai jadi Satgas PBB itu cuma dari keluarga Pak Iskandar, orangtua Kapten Zulmi," ucap Rusmin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Asal-usul Nasi Jamblang Khas Cirebon, Kenapa Dibungkus Daun Jati?
Asal-usul Nasi Jamblang Khas Cirebon, Kenapa Dibungkus Daun Jati?
Bandung
Pemkot Bandung Jamin Gaji 121 Pekerja Bandung Zoo Selama Masa Transisi, Sesuai UMK
Pemkot Bandung Jamin Gaji 121 Pekerja Bandung Zoo Selama Masa Transisi, Sesuai UMK
Bandung
BI Ungkap Uang Palsu di Bogor Berkualitas Rendah, Dicetak Pakai Printer Biasa
BI Ungkap Uang Palsu di Bogor Berkualitas Rendah, Dicetak Pakai Printer Biasa
Bandung
Di Tengah Konflik Perang Iran-Israel, 4 Warga Subang Berangkat Kerja ke Timur Tengah
Di Tengah Konflik Perang Iran-Israel, 4 Warga Subang Berangkat Kerja ke Timur Tengah
Bandung
KA Ciremai Tertahan di Jalur Maswati-Sasaksaat akibat Longsor, KAI Lakukan Penanganan
KA Ciremai Tertahan di Jalur Maswati-Sasaksaat akibat Longsor, KAI Lakukan Penanganan
Bandung
Kereta Api Ciremai Anjlok di Maswati-Sasaksaat, Warga: Tabrak Material Longsor
Kereta Api Ciremai Anjlok di Maswati-Sasaksaat, Warga: Tabrak Material Longsor
Bandung
Pelari Tewas di Lebarun Sentul Ultra, Bima Arya: PP ALTI Serukan Evaluasi Total Keselamatan
Pelari Tewas di Lebarun Sentul Ultra, Bima Arya: PP ALTI Serukan Evaluasi Total Keselamatan
Bandung
Hemat Energi, ASN Pemkab Bogor Gunakan Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor Tiap Rabu
Hemat Energi, ASN Pemkab Bogor Gunakan Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor Tiap Rabu
Bandung
Longsor Tutup Rel Maswati–Sasaksaat, KA Ciremai Alami Gangguan Perjalanan
Longsor Tutup Rel Maswati–Sasaksaat, KA Ciremai Alami Gangguan Perjalanan
Bandung
Daftar Sektor ASN di Karawang yang Tak WFH, Tetap Kerja di Kantor
Daftar Sektor ASN di Karawang yang Tak WFH, Tetap Kerja di Kantor
Bandung
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Bandung
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Bandung
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
Bandung
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Bandung
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Bandung
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau