Editor Edukasi
Oleh Asna Zahra Faradis*
KOMPAS.com - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir tahun 2025 turut berdampak pada kawasan Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Selain menurunkan kualitas air, kondisi tersebut juga memperparah fenomena tubo, yaitu naiknya gas belerang dari dasar danau yang menyebabkan kematian ikan secara massal.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), sebanyak 52 mahasiswa Universitas Tidar turun langsung membantu masyarakat di Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, pada 1 - 28 Februari 2026.
Mahasiswa yang tergabung dalam tim SAPA MANINJAU membawa 5 sub program dengan 3 program utama yang menjadi fokus kegiatan, yaitu penerapan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid, diversifikasi pangan lokal berbasis hasil perikanan, serta instalasi sistem filtrasi air bersih.
Salah satu fokus program adalah pengolahan ikan nila di Danau Maninjau yang semula hanya dikonsumsi segar menjadi abon ikan dan tepung tulang ikan kaya kalsium.
“Kami melihat potensi ikan nila di sini sangat besar. Ketika terjadi fenomena tubo, banyak ikan tidak termanfaatkan. Karena itu kami mencoba menghadirkan inovasi agar ikan bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar Azlin, salah satu mahasiswa Untidar yang terlibat proyek ini.
Dalam uji produksi awal, 15 kilogram ikan nila dan 5 kilogram pepaya muda berhasil diolah menjadi 34 kemasan abon berukuran 100 gram.
Pada produksi kedua, 24 kilogram ikan nila menghasilkan 36 kemasan abon.
Secara perhitungan kapasitas, produksi ini berpotensi menghasilkan sekitar 544 kemasan abon ikan nila per bulan jika dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Baca juga: Kisah 6 Mahasiswa Umsura Asal Yaman, Tak Bisa Mudik Lebaran karena Konflik Timur Tengah
Selain itu, limbah tulang ikan juga dimanfaatkan menjadi tepung tulang ikan.
Dari sekitar 39 kilogram bahan baku ikan nila, tim mahasiswa menghasilkan sekitar 702 gram tepung tulang ikan yang berpotensi digunakan sebagai bahan tambahan pangan seperti kerupuk, bakso, atau biskuit.
Konsep ini sekaligus menerapkan prinsip zero waste dalam pengolahan hasil perikanan.
Program ini juga melibatkan ibu-ibu PKK sebagai mitra produksi melalui pelatihan pengolahan ikan, pengemasan, pemanfaatan limbah minyak menjadi lilin, hingga pemasaran produk.
Abon ikan yang dihasilkan mulai diperkenalkan ke beberapa pusat oleh-oleh di kawasan Maninjau dan Bukittinggi.
Selain pengolahan ikan, mahasiswa juga menjalankan program pendukung berupa pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid serta instalasi sistem filtrasi air bersih.
PLTS digunakan untuk mendukung proses produksi pangan, terutama untuk mengoperasikan mesin pengering dalam pembuatan abon dan tepung ikan. Sistem yang dipasang memiliki kapasitas panel 1240 watt peak (Wp) dengan baterai 24 volt 100 ampere-hour.
Sementara itu, sistem filtrasi air dibangun menggunakan bahan alami seperti pasir, kerikil, ijuk, dan arang yang disusun dalam drum berkapasitas 200 liter dan ditampung pada toren 1.000 liter untuk dimanfaatkan masyarakat.
Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat dilibatkan langsung dalam setiap tahapan program. Mahasiswa juga membentuk tim produksi dari warga serta memberikan modul dan panduan teknis agar kegiatan dapat terus berjalan secara mandiri setelah program selesai.
Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengelola potensi lokal secara lebih produktif sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan Danau Maninjau.
* Mahasiswa Universitas Tidar
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang