Penulis: Prof Herawati, Profesor Universitas Brawijaya
KOMPAS.com - Dua guru besar Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan solusi berbasis riset untuk mendorong produktivitas peternakan rakyat di Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.
Melalui program pengabdian masyarakat, Prof Aulanni'am dan Prof Herawati menghilirisasi dua inovasi unggulan hasil riset UB, yakni alat tes kebuntingan sapi non-invasif dan suplemen kurkumin untuk ayam potong. Program ini didanai melalui “Hibah Program Terobosan Teknologi dan Inovasi (PTTI) dari Kemdiktisaintek.”
Kedua produk telah dipatenkan oleh UB serta melalui uji laboratorium dan uji lapangan terbatas. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya pada sektor produksi daging dan susu berbasis peternakan rakyat.
Prof Aulanni'am menjelaskan bahwa alat tes kebuntingan sapi yang dikembangkan mampu mendeteksi bunting dengan tingkat presisi lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Teknologi ini membantu peternak dalam pengambilan keputusan operasional, khususnya dalam manajemen reproduksi ternak.
“Hibah Program Terobosan Teknologi dan Inovasi (PTTI) ini menargetkan hilirisasi produk riset. Produk yang kami luncurkan sudah melalui riset mendalam, memiliki paten UB, serta telah diuji laboratoris dan digunakan untuk penelitian mahasiswa sarjana dan pasca sarjana,” kata Prof Aulanni'am saat kegiatan pengabdian masyarakat bersama peternak sapi yang tergabung dalam Kelompok Ternak Lembu Jaya di Desa Gembongan, Blitar.
Baca juga: Inovasi Beton Ramah Lingkungan Karya Unigoro Curi Perhatian di Pimnas 2025
Pada peternak sapi, alat tes kebuntingan ini memberikan informasi krusial terkait kondisi sapi betina pasca inseminasi buatan (IB). Keunggulan utama teknologi ini terletak pada sifatnya yang non-invasif. Berbeda dengan palpasi rektal yang berisiko menyebabkan keguguran pada kebuntingan dini, alat ini lebih aman digunakan.
“Dengan harapan melalui deteksi kebuntingan lebih awal, peternak dapat memperkirakan waktu kelahiran dan merencanakan manajemen induk dengan lebih baik,” ujarnya.
Inovasi lain datang dari Prof Herawati yang mengembangkan suplemen kurkumin berbahan dasar kunyit untuk meningkatkan produktivitas ayam potong. Riset ini berawal dari penelitian sejak 2020 yang menguji sejumlah tanaman herbal, seperti kunyit, jahe, dan temulawak.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kunyit memberikan dampak paling signifikan terhadap peningkatan bobot badan dan imunitas ayam. Selain itu, suplemen kurkumin dinilai mampu menekan ketergantungan peternak terhadap antibiotik sebagai bahan tambahan pakan yang selama ini digunakan untuk meningkatkan efisiensi pakan dan menurunkan tingkat kematian ternak.
Penggunaan antibiotik secara berlebihan diketahui berisiko meninggalkan residu dalam daging. Karena itu, pemerintah melarang penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) sebagai feed additive, sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Permentan 2017.
Inovasi pakan berbahan kunyit ini diharapkan dapat meningkatkan imunitas unggas, menekan mortalitas, sekaligus menghasilkan produk unggas yang lebih aman dan bebas residu antibiotik.
Kepala Desa Gembongan, Agus Anto, menyambut positif kehadiran inovasi dan teknologi dari UB. Menurutnya, program ini memberi dampak langsung bagi peningkatan kapasitas dan produktivitas peternak lokal.
“Penyuluhan dari Prof Herawati dan Prof Aulanni'am menambah wawasan peternak kami, baik untuk sapi perah, sapi penggemukan, maupun unggas. Ini membantu kami menjaga kesehatan ternak dan mengantisipasi penurunan produktivitas, serta meningktkan pendapatan para peternak,” ujar Agus.
Program hilirisasi riset perguruan tinggi ke masyarakat dinilai strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Kolaborasi antara akademisi dan peternak diharapkan terus berlanjut agar inovasi berbasis sains benar-benar memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan peternak rakyat.
Baca juga: Binus University Dapat Penghargaan Ajang Inovasi Internasional
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang