Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
IdeAksi
IdeAksi adalah platform kolaboratif insan pelajar dan sivitas akademika untuk berbagi ide, menyalurkan inovasi, menunjukkan aksi nyata, serta merayakan prestasi. Di sinilah ruang generasi muda berkumpul, saling menginspirasi, berkolaborasi, dan menciptakan perubahan.

Inovasi UB: Tes Kebuntingan Sapi dan Suplemen Ayam untuk Peternak Blitar

Kompas.com, 4 Desember 2025, 15:53 WIB

Penulis: Prof Herawati, Profesor Universitas Brawijaya

KOMPAS.com - Dua guru besar Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan solusi berbasis riset untuk mendorong produktivitas peternakan rakyat di Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Melalui program pengabdian masyarakat, Prof Aulanni'am dan Prof Herawati menghilirisasi dua inovasi unggulan hasil riset UB, yakni alat tes kebuntingan sapi non-invasif dan suplemen kurkumin untuk ayam potong. Program ini didanai melalui “Hibah Program Terobosan Teknologi dan Inovasi (PTTI) dari Kemdiktisaintek.”

Kedua produk telah dipatenkan oleh UB serta melalui uji laboratorium dan uji lapangan terbatas. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya pada sektor produksi daging dan susu berbasis peternakan rakyat.

Deteksi Kebuntingan Lebih Presisi dan Aman

Prof Aulanni'am menjelaskan bahwa alat tes kebuntingan sapi yang dikembangkan mampu mendeteksi bunting dengan tingkat presisi lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Teknologi ini membantu peternak dalam pengambilan keputusan operasional, khususnya dalam manajemen reproduksi ternak.

“Hibah Program Terobosan Teknologi dan Inovasi (PTTI) ini menargetkan hilirisasi produk riset. Produk yang kami luncurkan sudah melalui riset mendalam, memiliki paten UB, serta telah diuji laboratoris dan digunakan untuk penelitian mahasiswa sarjana dan pasca sarjana,” kata Prof Aulanni'am saat kegiatan pengabdian masyarakat bersama peternak sapi yang tergabung dalam Kelompok Ternak Lembu Jaya di Desa Gembongan, Blitar.

Baca juga: Inovasi Beton Ramah Lingkungan Karya Unigoro Curi Perhatian di Pimnas 2025

Pada peternak sapi, alat tes kebuntingan ini memberikan informasi krusial terkait kondisi sapi betina pasca inseminasi buatan (IB). Keunggulan utama teknologi ini terletak pada sifatnya yang non-invasif. Berbeda dengan palpasi rektal yang berisiko menyebabkan keguguran pada kebuntingan dini, alat ini lebih aman digunakan.

“Dengan harapan melalui deteksi kebuntingan lebih awal, peternak dapat memperkirakan waktu kelahiran dan merencanakan manajemen induk dengan lebih baik,” ujarnya.

Kurkumin, Alternatif Antibiotik pada Ayam Potong

Inovasi lain datang dari Prof Herawati yang mengembangkan suplemen kurkumin berbahan dasar kunyit untuk meningkatkan produktivitas ayam potong. Riset ini berawal dari penelitian sejak 2020 yang menguji sejumlah tanaman herbal, seperti kunyit, jahe, dan temulawak.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kunyit memberikan dampak paling signifikan terhadap peningkatan bobot badan dan imunitas ayam. Selain itu, suplemen kurkumin dinilai mampu menekan ketergantungan peternak terhadap antibiotik sebagai bahan tambahan pakan yang selama ini digunakan untuk meningkatkan efisiensi pakan dan menurunkan tingkat kematian ternak.

Penggunaan antibiotik secara berlebihan diketahui berisiko meninggalkan residu dalam daging. Karena itu, pemerintah melarang penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) sebagai feed additive, sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Permentan 2017.

Inovasi pakan berbahan kunyit ini diharapkan dapat meningkatkan imunitas unggas, menekan mortalitas, sekaligus menghasilkan produk unggas yang lebih aman dan bebas residu antibiotik.

Peternak Sambut Positif

Kepala Desa Gembongan, Agus Anto, menyambut positif kehadiran inovasi dan teknologi dari UB. Menurutnya, program ini memberi dampak langsung bagi peningkatan kapasitas dan produktivitas peternak lokal.

“Penyuluhan dari Prof Herawati dan Prof Aulanni'am menambah wawasan peternak kami, baik untuk sapi perah, sapi penggemukan, maupun unggas. Ini membantu kami menjaga kesehatan ternak dan mengantisipasi penurunan produktivitas, serta meningktkan pendapatan para peternak,” ujar Agus.

Program hilirisasi riset perguruan tinggi ke masyarakat dinilai strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Kolaborasi antara akademisi dan peternak diharapkan terus berlanjut agar inovasi berbasis sains benar-benar memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan peternak rakyat.

Baca juga: Binus University Dapat Penghargaan Ajang Inovasi Internasional

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau