Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
IdeAksi
IdeAksi adalah platform kolaboratif insan pelajar dan sivitas akademika untuk berbagi ide, menyalurkan inovasi, menunjukkan aksi nyata, serta merayakan prestasi. Di sinilah ruang generasi muda berkumpul, saling menginspirasi, berkolaborasi, dan menciptakan perubahan.

Strategi Komunikasi Publik yang Humanis: Praktisi Tawarkan Pendekatan Berbasis Kepercayaan

Kompas.com, 21 November 2025, 09:01 WIB
Ayunda Pininta Kasih

Editor Travel & Food

Penulis: Gian Felanroe Pardamean Sitorus
Peneliti dan Praktisi Komunikasi Publik, Mahasiswa S2 Universitas Sahid Jakarta

KOMPAS.com – Perkembangan media digital, meningkatnya tekanan publik, serta kompleksnya arus informasi membuat komunikasi publik tak lagi sekadar soal menyampaikan pesan.

Cara berkomunikasi dengan publik kini berubah jauh dibanding beberapa tahun lalu.

Menurut peneliti dan praktisi komunikasi publik, Gian Felanroe, tantangan yang dihadapi lembaga pemerintah maupun swasta tidak lagi sesederhana menyampaikan informasi.

Mereka harus mampu membangun kepercayaan, menjaga citra, merespons krisis dengan cepat, dan memastikan narasi yang mereka sampaikan sesuai dengan apa yang dirasakan publik.

“Sekarang bukan lagi soal menyampaikan pesan saja. Organisasi harus bisa dipercaya, bisa merespons krisis dengan tepat, dan menjembatani jarak antara apa yang mereka katakan dan apa yang dialami publik,” ujar Gian.

Baca juga: Sinergi Akademisi dan UMKM Dongkrak Produk Pangan Magelang Tembus Pasar Lebih Luas

Gian menjelaskan pandangannya dengan tiga kacamata utama: citra, krisis, dan kesenjangan realitas.

Ia juga merujuk pada teori-teori komunikasi yang sudah lama menjadi acuan di dunia akademik, seperti Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dari W. Timothy Coombs dan Image Restoration Theory (IRT) dari William L. Benoit.

Menurut Gian, teori-teori ini tetap relevan untuk membantu organisasi memahami cara berkomunikasi yang efektif di tengah derasnya arus informasi digital.

Membangun Citra yang Nyata, Bukan Sekadar Kata-kata

Gian menekankan bahwa citra adalah modal awal yang menentukan bagaimana publik menilai sebuah organisasi. Citra tidak bisa dibangun hanya dengan slogan atau kampanye komunikasi yang rapi.

Publik akan melihat apakah narasi yang disampaikan sesuai dengan tindakan nyata di lapangan.

Baca juga: Program Inovasi Anti Kesel: Ciptakan Ruang Aman Digital

Saat reputasi terganggu, organisasi perlu melakukan langkah pemulihan yang tepat. Mengacu pada teori Benoit, strategi itu bisa berupa pengakuan kesalahan, permintaan maaf, atau tindakan korektif yang jelas.

Gian mengatakan, “Kalau reputasi sudah rusak, komunikasi harus diarahkan untuk memulihkan kepercayaan publik. Tidak bisa setengah-setengah.”

Krisis: Ujian Terbesar Cara Organisasi Berkomunikasi

Menurut Gian, krisis adalah momen paling sensitif bagi organisasi. Jenis krisis menentukan respons seperti apa yang seharusnya diberikan.

Ada krisis yang membuat organisasi menjadi korban, ada yang terjadi karena kesalahan tidak sengaja, dan ada yang sebenarnya bisa dicegah. Setiap jenis memerlukan pendekatan berbeda.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau