Editor Travel & Food
Penulis: Gian Felanroe Pardamean Sitorus
Peneliti dan Praktisi Komunikasi Publik, Mahasiswa S2 Universitas Sahid Jakarta
KOMPAS.com – Perkembangan media digital, meningkatnya tekanan publik, serta kompleksnya arus informasi membuat komunikasi publik tak lagi sekadar soal menyampaikan pesan.
Cara berkomunikasi dengan publik kini berubah jauh dibanding beberapa tahun lalu.
Menurut peneliti dan praktisi komunikasi publik, Gian Felanroe, tantangan yang dihadapi lembaga pemerintah maupun swasta tidak lagi sesederhana menyampaikan informasi.
Mereka harus mampu membangun kepercayaan, menjaga citra, merespons krisis dengan cepat, dan memastikan narasi yang mereka sampaikan sesuai dengan apa yang dirasakan publik.
“Sekarang bukan lagi soal menyampaikan pesan saja. Organisasi harus bisa dipercaya, bisa merespons krisis dengan tepat, dan menjembatani jarak antara apa yang mereka katakan dan apa yang dialami publik,” ujar Gian.
Baca juga: Sinergi Akademisi dan UMKM Dongkrak Produk Pangan Magelang Tembus Pasar Lebih Luas
Gian menjelaskan pandangannya dengan tiga kacamata utama: citra, krisis, dan kesenjangan realitas.
Ia juga merujuk pada teori-teori komunikasi yang sudah lama menjadi acuan di dunia akademik, seperti Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dari W. Timothy Coombs dan Image Restoration Theory (IRT) dari William L. Benoit.
Menurut Gian, teori-teori ini tetap relevan untuk membantu organisasi memahami cara berkomunikasi yang efektif di tengah derasnya arus informasi digital.
Gian menekankan bahwa citra adalah modal awal yang menentukan bagaimana publik menilai sebuah organisasi. Citra tidak bisa dibangun hanya dengan slogan atau kampanye komunikasi yang rapi.
Publik akan melihat apakah narasi yang disampaikan sesuai dengan tindakan nyata di lapangan.
Baca juga: Program Inovasi Anti Kesel: Ciptakan Ruang Aman Digital
Saat reputasi terganggu, organisasi perlu melakukan langkah pemulihan yang tepat. Mengacu pada teori Benoit, strategi itu bisa berupa pengakuan kesalahan, permintaan maaf, atau tindakan korektif yang jelas.
Gian mengatakan, “Kalau reputasi sudah rusak, komunikasi harus diarahkan untuk memulihkan kepercayaan publik. Tidak bisa setengah-setengah.”
Menurut Gian, krisis adalah momen paling sensitif bagi organisasi. Jenis krisis menentukan respons seperti apa yang seharusnya diberikan.
Ada krisis yang membuat organisasi menjadi korban, ada yang terjadi karena kesalahan tidak sengaja, dan ada yang sebenarnya bisa dicegah. Setiap jenis memerlukan pendekatan berbeda.