Penulis
WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pesawat pengebom siluman B-2 Spirit milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dikenal sebagai salah satu alutsista dengan rekam jejak misi terbang terlama dalam sejarah penerbangan militer.
Dalam operasinya di Teluk, awak pesawat ini tercatat mampu menyelesaikan misi maraton yang melintasi berbagai belahan dunia.
Namun, di balik kecanggihan teknologi yang diusung bomber mematikan tersebut, ada tantangan besar bagi para awak: bagaimana caranya istirahat dan tidur saat terbang dengan durasi puluhan jam di udara?
Dilansir dari The National Interest, berikut fasilitas dan isi kokpit dalam bomber B-2.
Baca juga: Kisah Insinyur India Curi Rahasia Jet Bomber B-2 AS, Jual ke China
Kabin B-2 Spirit memiliki desain yang unik. Meski dari luar tampak masif, ruang layak huni di dalamnya hanya seluas sekitar 2,3 meter persegi.
Di ruang terbatas inilah, dua orang awak yang terdiri atas seorang pilot di kursi kiri dan Komandan Misi di kursi kanan, harus menghabiskan waktu hingga lebih dari 44 jam.
Untuk mendukung misi panjang, kokpit pesawat ini dilengkapi dengan fasilitas dasar namun krusial.
Terdapat sebuah tempat tidur gantung atau camp bed lipat yang diletakkan di lantai di belakang kursi pelontar.
Selain itu, tersedia pula microwave mini untuk memasak, kulkas kecil, dan toilet kimia sederhana tanpa pintu privasi.
Kursi pelontar pesawat ini pun dirancang sangat fleksibel, mampu direbahkan hingga 180 derajat agar pilot bisa melakukan peregangan selama misi yang berlangsung lebih dari 30 jam.
Baca juga: Pamer Jet Bomber B-2 dan Sahkan UU Big Beautiful Bill, Cara Trump Rayakan HUT AS
Keberhasilan misi panjang B-2 Spirit sangat bergantung pada manajemen sumber daya awak atau Crew Resource Management (CRM).
Berkat sistem komputer dan avionik yang canggih, pesawat pengebom ini memungkinkan untuk diterbangkan oleh hanya satu pilot saja saat fase jelajah (cruise).
Kondisi ini memberikan kesempatan bagi pilot lainnya untuk beristirahat.
Awak pesawat biasanya membagi waktu istirahat dalam rotasi 2 hingga 3 jam.
Namun, protokol keselamatan mewajibkan kedua pilot harus berada di kursi masing-masing selama fase kritis, seperti lepas landas, pengisian bahan bakar di udara, operasi penggunaan senjata, dan pendaratan.