Penulis
BELGRADE, KOMPAS.com — Presiden Serbia Aleksandar Vucic pada Kamis (12/3/2026) mengonfirmasi bahwa negaranya memiliki rudal jelajah supersonik buatan China yang dipasang pada jet tempur Serbia.
Pengakuan itu muncul setelah foto-foto yang memperlihatkan rudal tersebut menempel pada pesawat tempur MiG-29 Serbia beredar luas di media sosial dan blog pertahanan.
Gambar tersebut menarik perhatian negara-negara tetangga Serbia di Balkan. Ketegangan kawasan pun meningkat karena sebelumnya Vucic menyebut Serbia bersiap menghadapi kemungkinan serangan dari tiga negara sekaligus.
Baca juga: Potensi Perang Baru, Serbia Bersiap Hadapi Serangan 3 Negara Sekaligus
Foto yang beredar sejak awal pekan ini memperlihatkan rudal yang diyakini sebagai CM-400AKG buatan China terpasang pada pesawat tempur MiG-29 milik Serbia.
Menanggapi hal tersebut, Vucic akhirnya mengakui keberadaan persenjataan tersebut dalam wawancara dengan televisi nasional Serbia.
“Kami memiliki hal-hal yang tidak kami tunjukkan,” kata Vucic.
Ia menambahkan bahwa Serbia memiliki cukup banyak rudal tersebut dan berencana menambah jumlahnya.
“Kami memiliki jumlah rudal itu yang signifikan, dan kami akan memiliki lebih banyak lagi,” ujar Vucic.
Namun, ia menolak membeberkan detail lebih lanjut. Vucic hanya menyebut rudal tersebut “sangat mahal” dan “sangat efektif”.
Menurut para pakar militer, rudal CM-400AKG diyakini merupakan versi ekspor dari rudal China YJ-12. Senjata ini diperkirakan mampu melaju mendekati kecepatan hipersonik.
Kemunculan foto jet Serbia yang membawa rudal baru itu langsung memicu perhatian dari negara-negara tetangga yang pernah menjadi bagian dari Yugoslavia.
Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic mengatakan bahwa pemerintahnya akan memperingatkan NATO mengenai perkembangan tersebut.
Ia menyebut persenjataan itu sebagai “jenis senjata baru dalam arsenal tentara Serbia”.
Reaksi ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan Balkan. Sehari sebelumnya, Vucic menyatakan Serbia tengah memantau peningkatan kerja sama militer antara Kroasia, Albania, dan Kosovo.
“Mereka sedang menunggu momen yang menguntungkan. Kami sedang bersiap menghadapi serangan mereka,” ujar Vucic dalam wawancara dengan Radio Television of Serbia (RTS).