Penulis
BELGRADE, KOMPAS.com - Presiden Serbia Aleksandar Vucic menyatakan bahwa pihaknya tengah memantau ketat peningkatan kerja sama militer antara Kroasia, Albania, dan Kosovo.
Vucic bahkan mengeklaim bahwa Serbia kini dalam posisi bersiap menghadapi kemungkinan serangan dari aliansi ketiga negara tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Vucic dalam sebuah wawancara bersama Radio Television of Serbia (RTS) pada Kamis (12/3/2026).
Baca juga: Presiden Serbia Turuti Pedemo Gelar Pemilu, Gen Z Ajukan Daftar Capres
Menurutnya, pergerakan militer di negara-negara tetangga tersebut merupakan ancaman serius bagi keamanan Serbia, sebagaimana dilansir TRT World.
"Mereka sedang menunggu momen yang menguntungkan. Kami sedang bersiap menghadapi serangan mereka," ujar Vucic.
Ketegangan ini berakar pada deklarasi kerja sama pertahanan yang ditandatangani oleh Kroasia, Albania, dan Kosovo di Tirana pada 18 Maret 2025.
Kesepakatan tersebut bertujuan untuk memperkuat keamanan kawasan serta meningkatkan interoperabilitas militer di antara ketiga negara.
Baca juga: Demo Anti-Pemerintah di Serbia Memanas, Tuntut Presiden Digulingkan
Menanggapi hal itu, Vucic menegaskan bahwa Serbia tidak tinggal diam.
Dia menonjolkan kekuatan alat utama sistem pertahanan (alutsista) Serbia yang semakin modern sebagai bentuk pertahanan diri.
"Kami memiliki rudal hipersonik China, jenis udara-ke-darat, dengan jangkauan hingga 400 kilometer," tutur Vucic.
Dia menyebut sistem persenjataan tersebut sebagai salah satu yang paling canggih saat ini.
Meski memperkuat militer dan menyatakan kewaspadaan tinggi, Vucic menegaskan bahwa Serbia tetap menjaga hubungan baik dengan NATO.
Baca juga: Desa di Serbia Klaim Jadi Tempat Lahir Vampir, Ada Keanehan di Makam
Dia menyatakan Belgrade akan terus melanjutkan kebijakan netralitas militer di tengah dinamika geopolitik Balkan.
Di sisi lain, Vucic melontarkan kritik tajam kepada pemerintah Kroasia.
Dia juga menuduh Zagreb telah mencoba merusak posisi Serbia selama satu setengah tahun terakhir dan kerap mencampuri urusan dalam negeri mereka.
Pernyataan pemimpin Serbia ini muncul di tengah perdebatan sengit mengenai kebijakan keamanan dan pertahanan di wilayah Balkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan tersebut memang mengalami perluasan modernisasi militer yang dibarengi dengan meningkatnya ketegangan politik antarnegara.
Baca juga: Serbia Membara, Ratusan Ribu Orang Blokade Jalan Tuntut Pemilu
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang