Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

608 SPBU di Australia Kehabisan BBM akibat Perang Iran, Krisis Terburuk Sejak 1970

Kompas.com, 26 Maret 2026, 21:31 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

CANBERRA, KOMPAS.com - Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Australia kian meluas. Menteri Energi Australia Chris Bowen mengonfirmasi bahwa jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang kehabisan stok BBM kini telah melampaui angka 600 unit.

Hingga Kamis (26/3/2026), tercatat sebanyak 608 SPBU di seluruh Australia tidak memiliki persediaan solar maupun bensin. 

Angka ini mencakup sekitar 8 persen dari total 7.798 SPBU yang ada di "Negeri Kanguru" tersebut, sebagaimana dilansir The Nightly.

Kondisi ini menandai krisis bahan bakar terburuk di Australia sejak guncangan minyak tahun 1970-an, yang kini mulai mengancam rantai pasokan pangan nasional.

Baca juga: Bos Minyak Dunia Ketar-ketir Krisis Energi Kian Nyata akibat Perang Iran

Wilayah terdampak

Data terbaru menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan laporan sebelumnya yang menyebutkan angka 521 SPBU. 

Negara Bagian New South Wales (NSW) menjadi wilayah yang paling terdampak parah. 

314 SPBU alias 13 persen dari total di negara bagian tersebut kekurangan setidaknya satu jenis BBM. Sebanyak 48 SPBU benar-benar kehabisan stok.

Sementara itu di Western Australia, jumlah SPBU tanpa solar melonjak drastis menjadi 40 unit, dari yang sebelumnya hanya 4 unit.

Sedangkan di Negara Bagian Victoria, sebanyak 45 SPBU kehabisan solar dan 72 lainnya kehabisan bensin.

Baca juga: Selat Hormuz Lumpuh, WTO Wanti-wanti Krisis Pupuk Dunia

Di samping itu, Negara Bagian Queensland melaporkan 55 SPBU tanpa solar dan 33 tanpa bensin reguler.

Bowen mengakui adanya kelangkaan nyata, terutama di wilayah regional.

"Ada kekurangan yang nyata, terutama di daerah regional, yang perlu segera ditangani," ujar Bowen dalam sesi Question Time di parlemen, Kamis.

Menurutnya, lonjakan permintaan yang drastis pasca serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari menjadi pemicu utama.

"Kami melihat permintaan meningkat sangat tajam. Para pemasok, secara wajar dan sah secara hukum, memastikan bahwa mereka menyuplai bensin kepada pihak yang telah memesan sebelumnya, yaitu orang-orang dalam kontrak," tambahnya.

Baca juga: Ketika Negara Asia Kembali ke Batu Bara di Tengah Krisis Energi...

Upaya pemulihan pasokan

Meskipun situasi sulit, Bowen menegaskan bahwa pemerintah berhasil mengamankan pasokan alternatif untuk menggantikan enam pengiriman yang sempat dibatalkan atau ditunda.

Halaman:


Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau