Editor
KOMPAS.com- Indonesia Lighthouse berkolaborasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di San Francisco menggelar perayaan World Angklung Day 2025 di Mills Theater, San Francisco.
Perayaan ini menandai 15 tahun pengakuan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan menjadi tonggak baru dalam pelestarian budaya Indonesia melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Acara yang berlangsung meriah tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan cara baru dalam merawat tradisi. Salah satu puncak perayaan adalah peluncuran aplikasi AI (Angklung Indonesia) Note yang dikembangkan oleh Utara by GITS.id. Inovasi ini memungkinkan ratusan penonton memainkan angklung secara imersif melalui smartphone mereka.
Baca juga: 1.000 Lansia ‘Guncang’ Bundaran HI, Angklung Massal Bikin CFD Riuh Meriah
Selama pertunjukan, seluruh auditorium Mills Theater bergema dengan alunan angklung, baik yang dimainkan langsung oleh musisi tradisional di panggung maupun oleh penonton melalui angklung asli atau perangkat digital mereka. Pengalaman interaktif ini memperlihatkan bagaimana teknologi dapat memperluas akses terhadap budaya tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.
“Hari ini kita menyaksikan bagaimana teknologi tidak menggantikan tradisi, tetapi memperpanjang umurnya,” ujar Co-Founder Indonesia Lighthouse Ari Sufiati, dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Jumat (21/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa 15 tahun lalu, UNESCO mengakui angklung sebagai warisan dunia. Kini, melalui inovasi digital, jutaan orang di seluruh dunia dapat mengalami keindahan angklung tanpa batas geografis.
Baca juga: Angklung Indonesia Menggema di Festival Jazz Internasional Uzbekistan
Sebagaai informasi, perayaan tersebut turut dihadiri oleh Wali Kota Millbrae Andres Fung, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Prof Dr Ir Dwisuryo Indroyono Soesilo, dan Konsul Jenderal RI di San Francisco Yohpy Ichsan Wardana.
Acara juga menampilkan penampilan spesial dari Manshur Angklung, yakni maestro yang dikenal berhasil mengadaptasi angklung sebagai instrumen musik modern layaknya piano. Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut telah mendedikasikan kariernya untuk membawa alat musik bambu tradisional ke panggung internasional melalui pendekatan kontemporer.
Peluncuran aplikasi Angklung Indonesia semakin menegaskan komitmen Indonesia dalam melestarikan warisan budaya melalui adaptasi teknologi. Aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai simulator angklung, tetapi juga sebagai platform edukasi yang dapat diakses lebih banyak orang.
Baca juga: Angklung Indonesia Menggema di Festival Jazz Internasional Uzbekistan
“Ini adalah contoh sempurna dari preservation through innovation. Kami percaya bahwa teknologi dapat menjadi kendaraan untuk memperpanjang umur tradisi, membuatnya accessible, engaging, dan sustainable untuk masa depan,” tambah perwakilan Utara by GITS.id Ray Rizaldy.
Perlu diketahui, pengakuan angklung oleh UNESCO pada 2010 sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity menjadi pijakan penting bagi Indonesia dalam mempromosikan kekayaan budayanya ke dunia. Kini, 15 tahun setelah penetapan tersebut, World Angklung Day 2025 menunjukkan bahwa tradisi dan teknologi dapat berjalan beriringan, menciptakan jembatan antara generasi dan budaya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya