BANDA ACEH, KOMPAS.com – Suasana Pendopo Wali Kota Banda Aceh pada hari ketujuh Ramadhan siang itu terasa tenang dan syahdu.
Di ruang rapatnya, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal justru tidak membicarakan jalan, drainase, atau proyek pembangunan kota seperti lazimnya seorang kepala daerah.
Kali ini, ia berbicara tentang sesuatu yang lebih halus, yakni aroma.
Aroma tersebut berasal dari daun nilam. Tanaman aromatik itu selama berabad-abad tumbuh di perbukitan Aceh dan kini menjadi salah satu bahan kunci dalam industri parfum dunia.
“Nilam adalah bahan kunci dalam industri parfum sebagai pengikat aroma atau fixative yang membuat aroma lebih tahan lama dan aman di kulit. Sejak zaman kolonial, nilam Aceh sudah menjadi primadona ekspor,” ujar Illiza membuka perbincangan dengan Kompas.com, Rabu (25/2/2026).
Dari tanaman itulah Banda Aceh mulai meracik mimpi yang tidak kecil, yakni menjadi kota parfum kedua di dunia setelah Grasse di Prancis. Seperti diketahui, sejak abad ke-18, Grasse dikenal sebagai pusat industri wewangian global.
Namun, perjalanan menuju mimpi tersebut tidak sederhana.
Selama ini, Aceh memang dikenal sebagai salah satu penghasil minyak nilam terbaik di dunia. Akan tetapi, sebagian besar nilai tambah industri parfum justru terjadi jauh dari tempat tanaman itu tumbuh.
Petani di Aceh umumnya hanya menjual bahan mentah, sedangkan peracikan aroma hingga pembentukan merek dilakukan oleh industri besar di luar negeri, termasuk Prancis.
“Kami tidak mau petani hanya menikmati fluktuasi harga bahan baku. Nilai tambah terbesar sering terjadi di luar daerah. Ke depan, kami ingin pusat inovasi dan produksi parfum ada di Banda Aceh,” kata Illiza.
Baca juga: Nilam Aceh Bangkit di Tengah Regulasi EUDR
Secara historis, Banda Aceh memang bukan kota yang asing dengan perdagangan komoditas aromatik. Sejak berabad-abad lalu, pelabuhan kota ini menjadi titik singgah pedagang dari berbagai belahan dunia, mulai dari Turki, Arab, India, hingga Eropa.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa?aduddin Djamal saat berbincang dengan Kompas.com di Pendopo Wali Kota Banda Aceh, Rabu (25/2/2026). Rempah-rempah dan bahan aromatik pernah menjadikan kota ini salah satu simpul perdagangan internasional di Asia Tenggara.
“Kota ini dulu dikenal sebagai kota perdagangan dan persinggahan komunitas internasional. Dahulu, pusat perdagangan internasional berada di kota ini,” kata Illiza.
Jejak sejarah itu kini bertemu dengan realitas industri parfum modern yang melirik tajam ke arah nilam Aceh.
Mimpi Banda Aceh untuk menjadi kota parfum kedua setelah Grasse bukan tanpa dasar. Dalam industri parfum global, nilam memiliki posisi yang sangat penting.
Di laboratorium Atsiri Research Center (ARC) di Universitas Syiah Kuala, berbagai riset dilakukan untuk memahami dan meningkatkan kualitas minyak asiri dari tanaman tersebut.
Setelah tiga tahun riset dan pengembangan, ARC berhasil menciptakan teknologi distilasi molekuler untuk memurnikan minyak nilam hingga grade parfum, skincare, dan bahkan kristal nilam murni dengan kandungan mencapai 99,64 persen.
Kepala ARC Syaifullah Muhammad menjelaskan bahwa Indonesia merupakan pemain utama dalam perdagangan nilam dunia.
“Indonesia menguasai sekitar 90 persen pasokan minyak nilam dunia yang digunakan di 41 negara,” kata Syaifullah.
Baca juga: Nilam, Masihkah Primadona?
Dia menjelaskan, sebagai pengikat aroma, minyak nilam berfungsi menyatukan berbagai komponen aroma dalam satu formulasi. Karena sifat itulah, nilam menjadi salah satu bahan yang sulit tergantikan oleh bahan sintetis.
“Kalau pemerintah melihat ini sebagai komoditas strategis, nilam bisa menjadi bargaining position Indonesia terhadap perusahaan-perusahaan besar dunia,” ujarnya.
Secara historis, perdagangan nilam Aceh telah berlangsung sejak masa kolonial. Saat itu, komoditas ini dikelola oleh perusahaan Belanda bernama Netherlands Indische Leinboe Aceh Mascapai (NILAM). Dari perusahaan ini lah nama nilam berasal.
Hingga kini, tanaman nilam jenis Pogostemon cablin yang tumbuh di Aceh dikenal memiliki karakter aroma yang khas dan unggul jika dibandingkan daerah lain.
“Kalau pasokan terganggu, mereka (perdagangan nilam dunia) juga terdampak. Di situlah sebenarnya posisi tawar Indonesia,” kata Syaifullah.
Dalam beberapa tahun terakhir, komoditas nilam Aceh menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Harga minyak nilam yang sempat berada di kisaran Rp 350.000–Rp 400.000 per kilogram kini melonjak hingga sekitar Rp 850.000 per kilogram. Bahkan, menjelang akhir tahun, harga diproyeksikan dapat mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per kilogram.
Kepala Atsiri Research Center (ARC) Syaifullah Muhammad menceritakan tentang sejarah nilam Aceh dan peta industri parfum dunia di laboratorium Atsiri Research Center (ARC) di Universitas Syiah Kuala Aceh, Rabu (25/2/2026)Syaifullah menilai, lonjakan harga tersebut mendorong semangat baru di kalangan petani.
Jika sebelumnya budidaya nilam hanya tersebar di empat kabupaten di Aceh, kini telah berkembang hingga 18 kabupaten.
“Artinya, ada optimisme baru di tingkat petani. Ekosistemnya kembali tumbuh,” ujar Syaifullah.
Baca juga: Saat Petani Nilam di Aceh mulai “Bankable”, Ini Peran Data dalam Inklusi Keuangan
Menurut dia, pengembangan nilam juga perlu dimasukkan ke dalam dokumen pembangunan daerah agar keberlanjutannya terjaga.
“Kalau sudah masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), itu jadi amanah pembangunan. Siapa pun kepala daerahnya, program tetap berjalan,” ujarnya.
Optimisme tentang nilam dirasakan betul oleh petani-petani nilam di berbagai daerah di Provinsi Aceh. Para petani mulai mencoba meracik masa depan mereka sendiri dari tanaman aromatik ini. Salah satunya adalah Teuku Razuan.
Berawal dari lahan perkebunan kecil, Razuan kini menjelma menjadi eksportir minyak nilam Aceh. Ia mengaku bahwa usahanya dimulai dari rasa penasaran terhadap komoditas ini.
“Saya mulai akhir 2020, masih skala kecil sebatas uji coba. Dasarnya cuma penasaran. Katanya ini komoditas terbaik dunia, tapi kenapa skala pertaniannya kecil-kecil,” kata Razuan.
Ketertarikannya semakin kuat setelah mendengar pemaparan tim ARC yang menyebut bahwa satu hektare nilam mampu mencukupi kebutuhan hidup seorang petani selama setahun.
Pada 2021, ia pun mencoba menanam nilam di lahan seluas satu hektare. Hasilnya cukup menjanjikan.
Dia mencontohkan, dengan biaya tanam sekitar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per hektare dan produktivitas rata-rata 200–300 kilogram per tahun, petani berpotensi memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp 10 juta per bulan.
“Kalau satu hektare itu, meskipun hanya menghasilkan 150 kilogram per tahun, pendapatannya sudah setara upah minimum (provinsi Aceh),” kata Razuan.
Di bawah kepemimpinan petani nilam Aceh, Teuku Razuan, Razma Agro Jayana sukses menjangkau China, Singapura, India, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Eropa.Dari percobaan tersebut, Razuan perlahan memperluas skala tanam, mulai dari 5 hektare, kemudian 12 hektare, hingga mencapai sekitar 20 hektare pada 2025.
Baca juga: Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
Kini, usaha Razuan berkembang tidak hanya pada budidaya, tetapi juga penyulingan, pengumpulan minyak, hingga ekspor dengan nama Razma Agro Jayana. Minyak nilam yang dikelolanya pun telah menjangkau pasar China, Singapura, India, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Eropa.
Bagi Razuan, pengembangan komoditas ini bukan sekadar bisnis.
“Persoalan nilam dari dulu sampai sekarang sama, yaitu fluktuasi harga yang ekstrem. Saya bagian dari keluarga besar orang bernilam. Jadi, ini juga bentuk tanggung jawab moral (terhadap komoditas khas Aceh),” ujarnya.
Kisah Razuan menunjukkan bahwa bahan-bahan untuk membangun industri nilam sebenarnya sudah tersedia.
Namun, seperti meracik parfum, potensi tersebut membutuhkan formulasi yang lebih besar, yakni sebuah ekosistem yang menghubungkan petani, riset, industri kreatif, hingga pasar global.
Di titik inilah Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh mencoba mengambil peran dengan menyiapkan strategi untuk membangun ekosistem industri parfum dari hulu hingga hilir.
Pemkot Banda Aceh menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan Kota Parfum 2025–2030.
Strateginya mencakup pembangunan ekosistem yang utuh, mulai dari riset, laboratorium formulasi, pelatihan peracik parfum, hingga pemasaran digital.
Pemerintah juga mendorong pembentukan komunitas aromatik serta revitalisasi sentra industri kecil menengah di kawasan Ulee Lheue yang dirancang menjadi pusat laboratorium dan inkubasi usaha parfum.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah mendirikan sekolah parfum khusus melalui Banda Aceh Academy.
“Kami ingin ada generasi muda kreatif yang meracik parfum khas Aceh. Nantinya, wisatawan bisa datang, meracik sendiri, dan membawa pulang parfum racikan khas Banda Aceh sebagai suvenir,” kata Illiza.
Baca juga: Minyak Nilam Aceh Tembus Pasar Eropa
Pemkot bahkan berencana menyekolahkan lima anak muda Aceh ke Grasse untuk mempelajari ilmu parfum secara profesional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi membangun identitas kota berbasis ekonomi kreatif.
“Kami bermimpi ada kota kecil di ujung Sumatera yang dibangun melalui branding tertentu dan pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bagian dari strategi memperkuat identitas tersebut, Pemkot Banda Aceh juga mulai membangun jejaring internasional dengan komunitas industri parfum dunia.
Langkah yang ditempuh termasuk menjajaki kerja sama sister city dengan Grasse. Kerja sama ini diharapkan membuka peluang transfer pengetahuan, pengembangan riset, dan kolaborasi industri kreatif parfum antara kedua kota.
“Kami sedang menjajaki kerja sama internasional, termasuk dengan kota parfum dunia Grasse. Ini bagian dari upaya memperkuat identitas Banda Aceh sebagai kota parfum,” ujar Illiza.
Pemkot juga berencana berpartisipasi dalam festival parfum di Prancis sebagai bagian dari diplomasi aroma untuk memperkenalkan potensi nilam Aceh ke pasar global.
Illiza juga tengah menyiapkan revitalisasi pusat UMKM yang akan dilengkapi laboratorium formulasi parfum.
Seluruh upaya tersebut, lanjutnya, juga tak akan berjalan tanpa kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, seperti Universitas Syiah Kuala (USK), pusat riset, hingga petani dan pelaku UMKM.
Produk parfum dengan bahan baku minyak nilam hasil kolaborasi Atsiri Research Center (ARC) di Universitas Syiah Kuala dan ILO.Salah satu dukungan juga datang dari organisasi internasional, seperti Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) melalui program Promise II Impact yang mendorong pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi daerah.
Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif untuk memperkuat pembangunan ekonomi yang inklusif di Aceh dengan mendukung sektor-sektor yang memiliki potensi rantai nilai kuat, termasuk komoditas nilam.
Lewat Promise II Impact, berbagai pihak didorong untuk bekerja bersama membangun ekosistem usaha yang lebih berkelanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan jaringan pasar, hingga pengembangan produk bernilai tambah di tingkat lokal.
Bagi Illiza, seluruh langkah itu bermuara pada satu keyakinan sederhana tentang masa depan Banda Aceh.
Ia merangkum arti nilam bagi kota ini dalam tiga kata.
“Nilam itu 'modal'. Nilam itu 'berharga'. Dan, nilam adalah 'citra' bagi Banda Aceh,” ujarnya.
Jika rencana itu berjalan, daun kecil yang tumbuh di perbukitan Aceh itu bukan sekadar bahan baku industri parfum dunia.
Dari sanalah Banda Aceh berharap dapat meracik identitas barunya, yakni kota yang dikenal dunia melalui aroma.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya