SIDOARJO, KOMPAS.com - Pernah dengar nama Tanggulangin? Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, ini terkenal sebagai kawasan khusus untuk industri tas dan koper, utamanya pada era 1990-an.
"Luar biasa lah makmur Tanggulangin saat itu (era 1990-an). Jarang pegawai negeri, bisa dihitung, enggak minat pegawai negeri. Memang bayaran pegawai negeri berapa," kata salah seorang pedagang, Munaim (65), kepada Kompas.com, Rabu (18/3/2026).
Baca juga:
Laki-laki yang merantau ke Sidoarjo tahun 1974 itu menuturkan, mulanya ia bekerja sebagai perajin koper di salah satu UMKM (usaha mikro, kecil, menengah) di Tanggulangin, lalu pindah kerja di pabrik di sekitarnya tahun 1982.
Selanjutnya, warga Desa Kludan ini beralih profesi sebagai penjual tas perempuan tahun 1996, ketika produk itu mulai banyak dicari.
Menurut Munaim, saat itu produk dari Tanggulangin sudah terkenal berkualitas dan harganya terjangkau.
"Banyak tamu (pengunjung) mencari tas wanita, hampir setiap minggu itu banyak orang dari luar pulau, bahkan luar negeri ke sini. (Karyawan dari) perusahaan besar dari Jakarta, (turis dari) Filipina, Thailand, dan orang-orang penting semua ke sini," kenang dia.
Toko Koperasi Intako di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (18/3/2026).Dalam sebuah skripsi karya Bagus Prio Utomo, UMKM dari Desa Kedensari di Kecamatan Tanggulangin sudah memproduksi koper yang berkualitas tahun 1957.
Hal tersebut tercantum dalam skripsi bertajuk "Koperasi Industri Tas dan Koper (INTAKO) Tanggulangin Sidoarjo tahun 1976-1990".
Waktu itu, para perajin koper yang juga pelaku UMKM sebenarnya buruh lepas pabrik tas dan koper milik etnis China yang merantau ke kota industri, Surabaya, sejak tahun 1933.
Setelah diberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 Tahun 1959, warga negara asing, terutama China, pergi meninggalkan Indonesia dan memicu lonjakan permintaan koper untuk mengemas barang.
"Keseharian masyarakat Kedensari yang sebagian berprofesi sebagai petani kemudian beralih menjadi aktivitas produksi koper. Di era ini kawasan Kedensari dikenal dengan istilah 'Koper Gendeng'," tulis skripsi karya Bagus Prio Utomo itu.
Kenaikan jumlah UMKM di Desa Kedensari dan wilayah sekitarnya menimbulkan berbagai permasalahan, termasuk persaingan tidak sehat dengan cara membanting harga.
Untuk mengatasinya, pemerintah daerah Sidoarjo memfasilitasi pelatihan manajemen industri dan organisasi, yang pada gilirannya melahirkan koperasi INTAKO pada 7 April 1976.
Baca juga:
Selama periode 1980-an dan 1990-an, banyak tamu pemerintahan, karyawan perusahaan, dan wisatawan mancanegara berkunjung ke Kecamatan Tanggulangin untuk berbelanja.
Bahkan, lahan parkir dan jalanan di Kecamatan Tanggulangin bisa sangat padat setiap hari Sabtu dan Minggu.
Munaim menuturkan, bos-bos perusahaan kerap menraktir karyawannya dengan membebaskan mereka membeli produk apa pun di Kecamatan Tanggulangin.
"Bos-bos pesannya (produk berbahan) kulit. Orang-orang zaman Pak Harto (Presiden kedua Indonesia, Soeharto) menghabiskan uang kantor itu lumrah, rombongan dari mana-mana ke sini semua, 'Wes entekno duit kantor (sudah habiskan duit kantor)'," tutur Munaim.
"Ada juga yang pesan tas harganya Rp 50.000, tetapi minta ditulis Rp 75.000 di notanya. Kalau beli, mereka sering rombongan," tambah dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya