KOMPAS.com - Mengubah cara mandi bisa membantu mengurangi proyeksi kekurangan air secara harian, menurut laporan terbaru dari University of Surrey, Inggris.
Selain itu, melaporkan kebocoran dan mengubah cara menyiram toilet juga bisa membantu mengurangi masalah tersebut.
Baca juga:
"Diperkirakan, jika tidak ada tindakan yang diambil, Inggris akan menghadapi defisit air tawar sebesar lima miliar liter per hari pada tahun 2055," tulis para peneliti, dilansir dari laman University of Surrey, Senin (30/3/2026).
University of Surrey, Inggris, ungkap cara kurangi defisit air tawar melalui perubahan kebiasaan di kamar mandi. Simak selengkapnya.Saat ini, sekitar 135-150 liter air per orang digunakan setiap harinya di negara tersebut. Rencana pemerintah Inggris untuk membatasi permintaan air dengan meteran pintar diperkirakan akan menghemat sekitar 450 juta liter pada tahun 2050.
Badan Lingkungan Hidup memperkirakan bahwa 60 persen dari defisit air yang diproyeksikan perlu diatasi melalui pengurangan permintaan air.
Penulis utama laporan sekaligus Direktur kelompok Penerapan dan Teori Kebiasaan di University of Surrey, Benjamin Gardner menilai, semua pemangku kepentingan di sektor air harus berbuat lebih banyak untuk membantu masyarakat menghemat sumber daya ini.
Saat ini, sebagian besar inisiatif berfokus pada meningkatkan motivasi masyarakat untuk menghemat air. Pendekatan tersebut dinilai memiliki keterbatasan, terutama dalam mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan air.
“Misalnya, orang tidak secara sadar memutuskan berapa lama mereka mandi. Mereka hanya melakukannya, dengan cara yang sama, setiap hari. Memberi tahu orang berapa liter air yang mereka gunakan kemungkinan besar tidak akan mengubah hal itu," ujar Gardner, dilansir dari SciTechDaily.
Laporan tersebut mengidentifikasi perbaikan atau pelaporan kebocoran air dalam rumah tangga, pola mandi, dan menyiram toilet sebagai prioritas utama untuk perubahan kebiasan.
Masyarakat Inggris menghabiskan enam sampai 15 liter air per menit untuk mandi. Sebab, terkadang kegiatan tersebut tidak hanya untuk menjaga kebersihan diri, tapi juga me-time.
Bahkan, air yang terbuang untuk menyiram toilet di rumah-rumah Inggris setara seperempat air minum yang mereka konsumsi.
Baca juga:
University of Surrey, Inggris, ungkap cara kurangi defisit air tawar melalui perubahan kebiasaan di kamar mandi. Simak selengkapnya.Laporan tersebut mengungkapkan, empat dari enam kebiasaan boros air yang menjadi prioritas tertinggi untuk diubah terjadi di kamar mandi.
Para ahli turut dikritik karena terlalu menyoroti upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghemat air saat berada di kamar mandi. Sebab, perubahan kebiasaan bisa efektif tergantung pada identifikasi pendorong di balik tindakan sebelum mencoba mengubahnya.
Apalagi, banyak kebiasaan penggunaan air bersifat otomatis dan berlanjut, bahkan ketika orang berniat untuk berubah karena rutinitas, gangguan, serta kelelahan membatasi keputusan sadar.
Menurut salah satu penulis studi dan direktur Human Insights Lab di University of Surrey, Pablo Pereira-Doel, umpan balik secara langsung saat kebiasaan di kamar mandi dilakukan akan mengurangi durasi waktunya menggunakan air.
“Intervensi semacam itu berhasil justru karena tidak bergantung pada orang untuk mengingat untuk bertindak berbeda. Intervensi tersebut menemui mereka pada saat itu juga. Laporan ini menunjukkan bahwa sektor ini perlu berinvestasi dalam memahami momen-momen tersebut secara lebih sistematis, di semua perilaku yang penting, sebelum dapat merancang solusi yang benar-benar efektif," tutur Pereira-Doel.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya