Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel
Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com
KOMPAS.com - Hasil skrining kesehatan yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan ratusan ribu anak di Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi.
Temuan tersebut diperoleh setelah sekitar 7 juta anak mengikuti pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada periode 2025–2026.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder).
Baca juga: Ratusan Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Alami Cemas dan Depresi, Waspadai Tandanya
Sementara itu, sekitar 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak lainnya menunjukkan gejala depresi (depression disorder).
Melihat kondisi tersebut, para psikolog menilai orangtua memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental anak. Salah satu cara yang disarankan adalah menyediakan waktu khusus untuk membangun kedekatan dengan anak.
Psikolog klinis anak dan remaja Lydia Agnes Gultom, M.Psi. mengatakan, salah satu langkah sederhana namun penting yang dapat dilakukan orangtua adalah membangun kedekatan emosional melalui waktu khusus bersama anak.
“Rekomendasi realistis yang sering saya sampaikan dan ajak ke orang tua biasanya adalah membangun bonding dengan special time,” jelas dia saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).
Menurut Lydia, waktu khusus tersebut tidak harus berlangsung lama. Orangtua hanya perlu menyediakan waktu singkat, tetapi berkualitas untuk berinteraksi dengan anak.
“Biarkan anak yang me-lead aktivitas atau kegiatannya, bisa bermain, membuat sesuatu atau hanya misalnya ngobrol,” ujarnya.
Psikolog anak dan remaja Gloria Siagian, M.Psi. juga menekankan, kehadiran orangtua dalam kehidupan sehari-hari anak sangat penting untuk membangun koneksi emosional.
“Biasakan untuk punya waktu buat anak. Sibuk kerja boleh, tapi paling tidak setiap hari punya waktu,” kata Gloria.
Dengan kehadiran orangtua yang konsisten, anak akan merasa diperhatikan dan memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaannya.
Baca juga: Banyak Anak Indonesia Alami Gejala Cemas dan Depresi, Psikolog Jelaskan Penyebabnya
Lydia menjelaskan bahwa waktu khusus bersama anak tidak perlu berlangsung lama. Bahkan, waktu sekitar 15 hingga 20 menit setiap hari sudah dapat memberikan dampak positif bagi hubungan orangtua dan anak.
“Special time ini tanpa disambi oleh kegiatan lain dan bebas distraksi. Tahan juga keinginan untuk menasehati atau memberikan koreksi ke anak,” ujar Lydia.
Dalam waktu tersebut, orangtua dianjurkan untuk benar-benar hadir dan fokus pada anak. Aktivitas yang dilakukan juga sebaiknya mengikuti keinginan anak agar mereka merasa didengarkan dan dihargai.
Gloria menambahkan, waktu yang singkat pun tetap dapat bermakna selama orangtua benar-benar memberikan perhatian penuh.
“Fokuskan diri pada anak untuk menjalin koneksi, menanyakan kabar, memperhatikan anaknya. Jangan bilang bahwa nggak punya waktu, 10 menit pun bisa sebenarnya,” ujar Gloria.
Menurut dia, kualitas interaksi jauh lebih penting dibandingkan lamanya waktu yang dihabiskan.
Agar memberikan dampak yang lebih baik, Lydia menyarankan agar waktu khusus bersama anak dilakukan secara konsisten setiap hari.
“Tentukan saat kapan orangtua mampu melakukan special time ini dan lakukan secara konsisten setiap hari, sedini mungkin,” katanya.
Kebiasaan ini dapat membantu membangun kedekatan emosional yang kuat antara orangtua dan anak. Kedekatan tersebut penting agar anak merasa aman untuk berbagi cerita maupun perasaan yang mereka alami.
Gloria juga menilai, hubungan yang hangat antara orangtua dan anak akan berdampak hingga anak tumbuh dewasa.
“Ketika orangtua benar-benar bisa berfokus, anak juga dengan senang hati. Nantinya, sampai dia besar dia dengan senang hati juga untuk bercerita pada orang tuanya,” ujarnya.
Selain menyediakan waktu khusus, dukungan dari kedua orangtua juga menjadi faktor penting dalam membangun lingkungan keluarga yang sehat bagi anak.
Gloria menambahkan, orangtua dapat saling membantu dalam membagi peran pengasuhan.
“Antara pasangan juga bisa saling support dan bantu. Ketika salah satu pasangan cukup sibuk, mungkin pasangan yang lain yang bisa bergantian support,” kata Gloria.
Dengan adanya kerja sama dalam pengasuhan, kebutuhan emosional anak tetap dapat terpenuhi meski orangtua memiliki kesibukan masing-masing.
Upaya sederhana seperti menyediakan waktu khusus setiap hari dinilai dapat membantu memperkuat hubungan antara orangtua dan anak, sekaligus menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan mental mereka.
Baca juga: Bermain dan Tertawa Bersama Anak Tanpa Gadget Bantu Perkuat Hubungan Keluarga
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang