Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar Memercayai Orang di Sekitar Setelah Pernah Terluka

Kompas.com, 26 Maret 2026, 21:30 WIB
Nabilla Ramadhian,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Membangun rasa percaya kembali bukanlah perkara mudah, terlebih jika kamu pernah merasakan perihnya dikhianati di masa lalu. Perasaan waspada dan cemas, bahkan meragukan niat baik orang lain adalah jejak dari rasa trauma itu.

Di satu sisi, kamu ingin membuka hati dan terhubung kembali; di sisi lain, ada ketakutan lama.

Dengan makin canggihnya modus penipuan, masyarakat kini juga cenderung lebih waspada dan jauh lebih sulit untuk menaruh kepercayaan penuh kepada orang lain.

Namun, menurut studi yang dipublikasi dalam jurnal Psychological Bulletin tahun 2025, individu yang mudah memercayai orang lain terbukti memiliki kesejahteraan hidup yang lebih tinggi.

Baca juga: Laporan Penipuan Digital di RI Tembus 1.000 Kasus per Hari

Efek sikap percaya terhadap kondisi tubuh

Dampak negatif kurang percaya pada orang lain

Studi menemukan, mereka yang memercayai orang lain, dan percaya bahwa mereka bisa mengandalkan orang lain, memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan regulasi emosi yang jauh lebih kuat.

"Semua faktor ini mendukung tidak hanya kesehatan mental tetapi juga kesehatan fisik," jelas ahli neuropsikologi dan direktur Comprehend the Mind, Sanam Hafeez, PhD.

Ketiadaan rasa percaya akan membuat seseorang terus-menerus hidup dalam kewaspadaan berlebih dan kecemasan. Kondisi tersebut secara perlahan akan merusak pertahanan biologis di dalam tubuh manusia.

Kurangnya kepercayaan membuat seseorang rentan merasa kesepian, dan stres kronis ini pada akhirnya akan memicu peradangan, penyakit kardiovaskular, hingga penurunan fungsi kognitif.

Baca juga: 9 Tanda Pasangan Punya Masalah Kepercayaan

Dampak positif percaya pada orang lain

Sebaliknya, sikap percaya mampu menurunkan kadar hormon stres atau kortisol. Hal ini memberikan perlindungan bagi tubuh, sekaligus mendorong perilaku sehat jangka panjang, seperti menjaga koneksi sosial dan tidak ragu untuk mencari bantuan medis saat dibutuhkan.

"Kepercayaan bukan hanya emosi yang menyenangkan, tetapi juga sumber daya psikologis yang ampuh. Jika dipupuk sepanjang hidup, kepercayaan dapat berkontribusi pada ketahanan emosional dan umur panjang fisik," terang Hafeez.

Riset juga menekankan bahwa interaksi interpersonal yang melibatkan keluarga dan sahabat memiliki ikatan yang paling kuat dengan tingkat kebahagiaan seseorang.

Baca juga: Punya Sahabat yang Baik Bisa Bikin Umur Lebih Panjang

Ilustrasi perempuan dengan MBTI ISFP.UNSPLASH/FUU J Ilustrasi perempuan dengan MBTI ISFP.

"Pada klien, salah satu faktor pelindung terpenting yang dapat membantu proses penyembuhan mereka adalah memiliki akses ke sistem dukungan sosial yang kuat dan positif," kata terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Patrice Le Goy, PhD.

Mengingat betapa pentingnya rasa percaya bagi kesehatan jantung dan umur panjang, kamu perlu belajar untuk membuka diri kembali secara bertahap, terutama jika pernah mengalami kekecewaan mendalam.

Baca juga: Dikenal Pemberani, 5 Zodiak yang Selalu Percaya Diri di Segala Situasi

Melatih kembali rasa percaya

Memulai dari interaksi kecil sehari-hari

Membangun rasa percaya kembali bisa menjadi tantangan yang sangat berat jika kamu pernah dikhianati di masa lalu.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau