
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI TENGAH gegap gempita teknologi, ada ironi besar yang sedang terjadi di seluruh dunia, yaitu anak muda semakin cerdas, tetapi semakin sulit mendapatkan pekerjaan.
Padahal, mereka adalah generasi paling terdidik, paling terkoneksi, paling digital sepanjang sejarah manusia.
Di sisi lain, mereka juga generasi yang paling sering mendengar kalimat “Maaf, Anda belum sesuai dengan kebutuhan kami.”
Data global menunjukkan tren yang tidak bisa diabaikan. Seperti laporan Forbes yang mengungkap bahwa banyak manajer mulai enggan merekrut Gen Z, bukan karena mereka tidak pintar, tetapi karena mereka dinilai tidak siap secara profesional.
Temuan ini selaras dengan laporan dari media Inggris bahwa sebagian perusahaan menilai generasi muda kurang siap kerja dan sulit diarahkan.
Fenomena ini bahkan sampai pada titik ekstrem. Menurut laporan dari Euronews, Gen Z direkrut, lalu dikeluarkan hanya dalam hitungan bulan. Situasi ini sejalan dengan penelitian yang juga pernah saya lakukan beberapa tahun silam.
Tantangan lainnya ialah pekerjaan memang berubah wujud karena teknologi. Bahkan jenis pekerjaan baru bermunculan.
Namun, justru laporan global menunjukkan bahwa perusahaan lebih memilih pekerja berpengalaman, bahkan banyak posisi pemula kini mensyaratkan pengalaman 2–3 tahun, bukan langsung merekrut generasi yang lahir dan tumbuh dengan teknologi canggih seperti Gen Z.
Fenomena ini oleh CNBC disebut “shrinking pool of entry-level jobs”, kolam pekerjaan pemula yang semakin mengecil.
Lantas, ketika anak muda susah dapat pekerjaan, kita dengan mudah menyalahkan sistem, ekonomi, perang, bahkan AI.
Faktanya, ada satu jawaban tentang apa yang paling dicari di dunia kerja, menurut berbagai studi global, yaitu soft skills, utamanya komunikasi. Inilah keterampilan yang justru dinilai sudah “pasti dimiliki” pekerja yang lebih matang dari segi usia maupun lamanya bekerja.
Mengingat, dunia kerja tidak pernah hanya membutuhkan orang yang pintar, tetapi orang yang mampu menjelaskan pikirannya, merespons dengan tepat, dan membangun hubungan kerja yang sehat.
Kajian bisnis dari Second Nature UK menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan fondasi dari kepemimpinan, kolaborasi, dan kepercayaan dalam organisasi.
Tanpa komunikasi yang baik, kemampuan teknis setinggi apa pun akan kehilangan relevansinya.
Menariknya di Indonesia, jurusan komunikasi menjadi salah satu program studi ilmu sosial yang paling diminati, dari data penerimaan mahasiswa baru tahun ke tahun.