Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Devie Rahmawati
Peneliti, pengajar dan praktisi

Doktor Devie Rahmawati, Associate Professor, Program Vokasi Univesitas Indonesia adalah pengajar dan peneliti tetap, sekaligus seorang praktisi dalam bidang Komunikasi, Edukasi, Kemanusiaan selama lebih dari 25 tahun.

Generasi Viral, tapi Gagal Profesional: Ada Apa dengan Gen Z?

Kompas.com, 30 Maret 2026, 08:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI TENGAH gegap gempita teknologi, ada ironi besar yang sedang terjadi di seluruh dunia, yaitu anak muda semakin cerdas, tetapi semakin sulit mendapatkan pekerjaan.

Padahal, mereka adalah generasi paling terdidik, paling terkoneksi, paling digital sepanjang sejarah manusia.

Di sisi lain, mereka juga generasi yang paling sering mendengar kalimat “Maaf, Anda belum sesuai dengan kebutuhan kami.”

Data global menunjukkan tren yang tidak bisa diabaikan. Seperti laporan Forbes yang mengungkap bahwa banyak manajer mulai enggan merekrut Gen Z, bukan karena mereka tidak pintar, tetapi karena mereka dinilai tidak siap secara profesional.

Temuan ini selaras dengan laporan dari media Inggris bahwa sebagian perusahaan menilai generasi muda kurang siap kerja dan sulit diarahkan.

Fenomena ini bahkan sampai pada titik ekstrem. Menurut laporan dari Euronews, Gen Z direkrut, lalu dikeluarkan hanya dalam hitungan bulan. Situasi ini sejalan dengan penelitian yang juga pernah saya lakukan beberapa tahun silam.

Tantangan lainnya ialah pekerjaan memang berubah wujud karena teknologi. Bahkan jenis pekerjaan baru bermunculan.

Namun, justru laporan global menunjukkan bahwa perusahaan lebih memilih pekerja berpengalaman, bahkan banyak posisi pemula kini mensyaratkan pengalaman 2–3 tahun, bukan langsung merekrut generasi yang lahir dan tumbuh dengan teknologi canggih seperti Gen Z.

Fenomena ini oleh CNBC disebut “shrinking pool of entry-level jobs”, kolam pekerjaan pemula yang semakin mengecil.

Lantas, ketika anak muda susah dapat pekerjaan, kita dengan mudah menyalahkan sistem, ekonomi, perang, bahkan AI.

Faktanya, ada satu jawaban tentang apa yang paling dicari di dunia kerja, menurut berbagai studi global, yaitu soft skills, utamanya komunikasi. Inilah keterampilan yang justru dinilai sudah “pasti dimiliki” pekerja yang lebih matang dari segi usia maupun lamanya bekerja.

Mengingat, dunia kerja tidak pernah hanya membutuhkan orang yang pintar, tetapi orang yang mampu menjelaskan pikirannya, merespons dengan tepat, dan membangun hubungan kerja yang sehat.

Kajian bisnis dari Second Nature UK menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan fondasi dari kepemimpinan, kolaborasi, dan kepercayaan dalam organisasi.

Tanpa komunikasi yang baik, kemampuan teknis setinggi apa pun akan kehilangan relevansinya.

Menariknya di Indonesia, jurusan komunikasi menjadi salah satu program studi ilmu sosial yang paling diminati, dari data penerimaan mahasiswa baru tahun ke tahun.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau