
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Idul Fitri baru saja lewat, sama cepatnya dengan THR yang ‘numpang lewat’ di rekening atau amplop yang tak seberapa tebal.
Harga-harga kebutuhan hidup yang sudah terlanjur naik, mustahil turun nampaknya, bahkan cenderung semakin naik.
Keluarga-keluarga muda menengah ke bawah mulai dilanda kecemasan, bukan hanya soal merancang masa depan, tapi bertahan hidup dengan standar yang konsisten saja terasa ‘ngos-ngos-an’.
Baca juga: Bijak Merancang yang Terhidang di Hari Raya Idul Fitri
Kesehatan mental tidak lagi tentang berita-berita yang simpang siur semakin tak karuan setiap hari, tapi informasi dari rumah sendiri pun sudah cukup membuat ‘jantungan’ setiap saat: popok si bayi habis dan perlu beli lagi, plafon rembes akibat hujan deras dan harus memanggil tukang, sementara belum ada dana talangan.
Belum lagi, gas buat masak juga habis padahal rasanya baru beli belum lama, STNK motor dan PBB jatuh tempo di waktu yang sama, kipas angin mendadak tak mau menyala padahal belakangan ini panas mulai minta ampun...
Tekanan mental dan tekanan ekonomi rupanya berjalan sejajar dan semakin terasa hanya dengan kejadian sehari-hari.
Makan dan jajan seadanya, seketemunya buat isi perut pun menimbulkan rasa bersalah karena kebutuhan rumah masih ada yang belum terpenuhi.
Apalagi jika punya anak-anak yang masih balita, yang masih terancam bayang-bayang gizi kurang dan stunting. Hanya karena pasangan ‘selip kata’ sedikit saja, kemarahan menjadi-jadi dan pertengkaran hebat bisa berkobar setiap saat. Hidup semakin rentan, ringkih, riskan.
Menjadi karyawan tetap adalah anugerah yang harus dijaga. Suatu ‘priviledge’ yang tak boleh disia-sia. Apalagi, jika masih mendapat fasilitas mulai dari penggantian biaya berobat hingga tabungan pensiun.
Menjadi karyawan tidak tetap pun perlu disyukuri dengan sikap tahu diri, demi pundi-pundi. Paling pusing memang punya usaha sendiri – yang dahulu jadi sasaran kecemburuan para karyawan – sekarang terpaksa putar otak bertahan, agar anak istri bisa makan tanpa perlu menjual aset atau merumahkan pegawai.
Baca juga: Indikator Nyata Makan Bergizi, Perbaikan Asupan Pangan hingga Penurunan Insiden Penyakit
Di Indonesia, hari ini, cukup banyak keluarga-keluarga muda punya pengeluaran sehari-hari atau bulanan yang mencengangkan.
Berapa pun penghasilan mereka, pengeluaran bisa dianggap selalu boros, karena keinginan dan kecanduan tidak sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari kepercayaan susu pertumbuhan – yang digadang-gadang bikin anak gemuk dan tinggi serta pintar nantinya.
Padahal, badan kesehatan dunia WHO sudah memperingatkan klaim-klaim berlebihan dari iklan yang semakin brutal.
Padahal protein hewan yang jadi menu keluarga, murah dan mudah didapat di pasar lebih masuk akal.
Begitu pula pengaruh media sosial yang menjadi lapak pencari ‘penghasilan tambahan’, riuh rendah merekomendasikan aneka kebutuhan bayi: mulai dari ‘beras khusus’, ‘minyak khusus’ memasak makanan pendamping asi, hingga kecap bayi dan aneka bumbu masakan bayi.