Penulis
KOMPAS.com - Tidak sedikit orangtua menghadapi situasi ketika anak tiba-tiba marah, menangis, atau berteriak saat waktu bermain gadget dihentikan.
Psikolog Eka Renny Yustisia menjelaskan, paparan media sosial dan konten digital secara terus-menerus membuat otak anak terbiasa dengan lonjakan cepat hormon kesenangan atau dopamin.
Akibatnya, ketika akses terhadap gadget dihentikan secara mendadak, anak dapat mengalami reaksi emosional yang kuat.
Menurut Eka, penggunaan gadget yang terlalu sering dapat menciptakan pola stimulasi tinggi pada otak anak.
Video pendek, permainan interaktif, hingga media sosial memberi sensasi cepat yang membuat anak terus ingin mengulang pengalaman tersebut.
Ketika aktivitas itu dihentikan tiba-tiba, anak dapat mengalami kondisi yang menyerupai gejala withdrawal atau putus dari kebiasaan menyenangkan.
Reaksinya bisa berupa marah, menangis, sulit tenang, hingga menolak berkomunikasi.
Dalam situasi seperti ini, tantrum bukan semata-mata bentuk pembangkangan, tetapi juga respons emosional karena anak belum mampu mengelola rasa kecewa dan frustrasi.
Baca juga: Anak Tantrum di Tempat Umum, Orangtua Harus Apa? Ini Saran Pakar Pengasuhan
Salah satu langkah yang disarankan psikolog adalah memvalidasi emosi anak.
"Kami menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilaku. Orang tua perlu menunjukkan empati dengan memahami perasaan anak agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang," ujarnya dikutip dari ANTARA, Rabu (1/3/2026).
Orangtua perlu menunjukkan bahwa perasaan anak dipahami, tanpa harus membenarkan perilaku marah berlebihan.
Misalnya, orangtua bisa mengatakan, “Ibu tahu kamu masih ingin bermain dan merasa kesal karena harus berhenti.”
Kalimat sederhana seperti ini membantu anak merasa didengar sehingga emosinya perlahan menurun.
Setelah anak lebih tenang, orang tua baru dapat menjelaskan alasan mengapa waktu bermain gadget harus dibatasi.
Pendekatan ini penting karena anak cenderung lebih sulit menerima aturan ketika sedang berada dalam puncak emosi.