Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makam di TPU Semper Terendam Banjir, Peziarah Minta Pemerintah Lakukan Pengurukan

Kompas.com, 15 Februari 2026, 20:29 WIB
Nurpini Aulia Rapika,
Abdul Haris Maulana

Tim Redaksi

BEKASI, KOMPAS.com – Seorang warga Jakarta Utara bernama Edo (50) berharap agar pemerintah melakukan pengurukan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper, Cilincing, Jakarta Utara, yang kerap terendam banjir.

"Buat kami yang keluarganya dimakamkan di sini, berharap sekali kuburan ini bisa diuruk, dibikin tinggi lagi," ujar Edo saat ditemui Kompas.com di TPU Semper, Minggu (15/2/2026).

Selain pengurukan makam, Edo juga meminta pemerintah memperbaiki akses jalan di sekitar TPU Semper agar memudahkan para peziarah.

Baca juga: Pelaku Tawuran di Depok Selama Ramadhan Akan Dibina lewat Pesantren Kilat

"Harapannya kepada pihak pemerintah, supaya akses disini bisa diperlebar lagi dan aksesnya juga dibikin dua pintu masuk," ujar Edo.

Meski kondisi sejumlah makam di TPU Semper terendam banjir, serta akses jalan licin dan berlumpur, hal ini tidak mengurungkan niat Edo untuk berziarah ke makam sanak saudaranya.

Edo datang bersama keluarganya sekitar pukul 14.00 WIB. Ia mengaku rutin berziarah, terutama menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

"Kalau saya biasanya sama keluarga enggak tentu ya. Kadang bisa sebulan sekali. Tapi yang jelas kalau mau puasa ini kita berziarah, begitupun nanti mau Lebaran berziarah lagi," kata Edo.

Bagi Edo, ziarah kubur bukan sekadar membaca doa, surah yasin, dan menabur bunga. Ia memaknai ziarah sebagai pengingat bahwa setiap makhluk hidup pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan.

"Buat saya makna ziarah kubur ini sebagai pengingat kepada leluhur yang sudah mendahului kita. Bahwasanya kita yang hidup saat ini akan mengikuti jejak mereka yang sudah tiada," katanya.

Ia menambahkan, meskipun telah berbeda alam, keluarga yang telah meninggal tetap membutuhkan doa dari mereka yang masih hidup.

Baca juga: Pramono Dorong Kaum Betawi Gunakan Monas untuk Berbagai Kegiatan, Bukan Hanya Pihak Lain

"Meskipun mereka sudah beda alam dengan kita, tetapi secara agama juga mereka membutuhkan kehadiran kita untuk melantunkan doa-doa," ujarnya.

Edo juga mengapresiasi upaya pengelola makam yang dinilai telah berusaha meminimalisir banjir dengan membangun turap di sejumlah titik.

"Mudah-mudahan blok makam disini semuanya dipasang turap atau pembangunan baru. Harapan kami pemerintah punya perhatian juga untuk pemakaman ini," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana TPU Zona 4 Semper, Sukino, menjelaskan banjir yang merendam sebagian blok makam disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya limpasan Kali Begog.

"Pertama limpasan Kali Begog yang ketika sudah terkurung airnya enggak bisa balik lagi karena datarannya lebih rendah. Tapi enggak semua, paling dari blad 30 sampai blad 50," ujar Sukino.

Halaman:


Terkini Lainnya
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Megapolitan
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Megapolitan
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
Megapolitan
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Megapolitan
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Megapolitan
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Megapolitan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Megapolitan
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Megapolitan
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Megapolitan
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Megapolitan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Megapolitan
Pelayanan Publik di Tangsel Dipastikan Tetap Normal meski ASN WFH Tiap Jumat
Pelayanan Publik di Tangsel Dipastikan Tetap Normal meski ASN WFH Tiap Jumat
Megapolitan
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Megapolitan
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Makam di TPU Semper Terendam Banjir, Peziarah Minta Pemerintah Lakukan Pengurukan
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat