Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Masih Menumpuk, Pramono Tambah 20 Truk untuk Kramat Jati

Kompas.com, 1 April 2026, 12:45 WIB
Ruby Rachmadina,
Larissa Huda

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menambah 20 unit truk pengangkut sampah untuk mengatasi penumpukan yang masih terjadi di sejumlah wilayah, khususnya kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Langkah ini diambil di tengah kondisi sampah yang belum sepenuhnya tertangani, meski upaya pengangkutan terus dilakukan di berbagai titik.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, penambahan armada difokuskan untuk mempercepat penguraian tumpukan sampah yang mengganggu aktivitas warga.

Baca juga: Sampah Bikin Bongkar Muat di Kramat Jati Capai 5 Jam, Sopir: Lebih Lama dari Jakarta-Bandung

“Yang di Kramat Jati kemarin secara khusus kami tambah 20 truk baru untuk mengurangi itu,” ucap Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Pramono mengakui, penanganan sampah di Jakarta belum sepenuhnya tuntas dan masih terdapat sejumlah lokasi yang mengalami penumpukan.

“Untuk sampah memang belum semuanya selesai. Tetapi sampah yang ada di TPS yang ada mulai berkurang,” kata Pramono.

Penumpukan sampah di Jakarta terjadi setelah aktivitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dibatasi akibat longsor. Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya volume sampah usai libur Lebaran.

Berdasarkan catatan Kompas.com, penumpukan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara.

Di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawadas, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, tumpukan sampah menggunung hingga sekitar tiga meter dalam dua pekan terakhir.

Lurah Pondok Kopi, Sandy Adamsyah, menyebut kondisi ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni pembatasan operasional di Bantargebang dan lonjakan sampah pascalibur Lebaran.

Baca juga: Sempat Klaim Sudah Bersih, Pramono Kini Akui Sampah di Jakarta Masih Menumpuk

“Untuk penumpukan di TPS Rawadas RW 02 Kelurahan Pondok Kopi ini memang terjadi usai terjadinya longsor di Bantargebang dan setelah libur Lebaran. Tapi untuk hari ini alhamdulillah kita akan melakukan pengangkutan sebanyak empat truk, ungkap Sandy Adamsyah saat ditemui di TPS Rawadas, Selasa.

Kondisi serupa juga terlihat di sekitar Pasar Kopro, Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Tumpukan sampah di lokasi tersebut bahkan meluber hingga ke badan jalan.

Area sekitar tampak kotor, becek, dan menghitam akibat genangan air serta cairan dari tumpukan sampah.

Untuk mengurai tumpukan, petugas mengoperasikan alat berat jenis wheel loader berwarna kuning milik Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat.

Di wilayah lain, tepatnya TPS Kencana, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sampah juga menumpuk hingga sekitar tiga meter di kolong Tol Wiyoto Wiyono. Bau menyengat tercium hingga radius sekitar 50 meter dari lokasi.

Warga berharap pemerintah segera menangani persoalan ini secara menyeluruh. Mereka menilai penumpukan sampah tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Salah satu warga, Suyitno, bahkan meminta Gubernur Pramono turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya.

“Nah, ini buktinya masih ada (penumpukan sampah). Ya itu, ini buktinya sampah masih numpuk. Makanya Gubernur turun ke bawah, jangan cuma hanya terima laporan dari anak buahnya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Megapolitan
Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...
Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...
Megapolitan
Tumpukan Sampah di Pasar Kopro Dibersihkan, Pengangkutan Kembali Normal
Tumpukan Sampah di Pasar Kopro Dibersihkan, Pengangkutan Kembali Normal
Megapolitan
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Megapolitan
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Megapolitan
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
Megapolitan
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Megapolitan
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Megapolitan
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Megapolitan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Megapolitan
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Megapolitan
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Megapolitan
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Megapolitan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Sampah Masih Menumpuk, Pramono Tambah 20 Truk untuk Kramat Jati
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat