JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI akan menyiapkan sebanyak 45 klinik untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi jemaah selama musim Haji 2026 di Mekkah dan Madinah.
Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, menyampaikan bahwa satu klinik kesehatan dapat melayani minimal 5.000 jemaah haji.
"Dengan kebijakan ini, di Mekkah akan didirikan 40 klinik kesehatan yang tersebar di 10 sektor untuk melayani jemaah. Di Madinah akan tersedia 5 klinik kesehatan di 5 sektor," ujar Liliek dalam keterangan pers, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Haji 2026, Kemenhaj Siapkan Skenario Mitigasi Hadapi Situasi Geopolitik di Timur Tengah
Selain itu, masing-masing Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) juga akan beroperasi di kedua kota tersebut.
"Dengan penambahan klinik dan penguatan layanan di KKHI, kami berharap pelayanan kesehatan bagi jemaah semakin optimal," ujarnya.
Untuk meningkatkan ketepatan penanganan medis, petugas kesehatan kloter juga akan dibekali pedoman rujukan berbasis tingkat keparahan penyakit atau severity level. Melalui sistem ini, petugas dapat menentukan apakah jemaah dapat dirujuk ke KKHI atau harus langsung ke rumah sakit Arab Saudi.
"Pendekatan severity level ini penting agar jemaah mendapatkan pertolongan yang cepat dan sesuai dengan kondisi kesehatannya," kata Liliek.
Lebih lanjut, Liliek menyampaikan, pemerintah Arab Saudi juga mensyaratkan supervisi dari penyedia layanan kesehatan swasta yang terakreditasi.
Baca juga: Imbas Konflik Timur Tengah, Menhaj Berusaha Cegah Naiknya Biaya Haji 2026
"Pada musim haji tahun ini, pengawasan layanan kesehatan jemaah haji Indonesia akan dilakukan oleh Saudi German Hospital," imbuhnya.
Sementara itu, penyediaan obat selama masa operasional haji akan didistribusikan dari KKHI di Mekkah dan Madinah ke seluruh tenaga kesehatan kloter yang mendampingi jemaah di hotel-hotel.
Jelang keberangkatan, Liliek mengingatkan jemaah untuk menjaga kesehatan sejak dini.
Jemaah diminta menjaga pola hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan sebelum makan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta rutin berolahraga ringan minimal 30 menit setiap hari.
Bagi jemaah dengan penyakit penyerta (komorbid), ia menekankan pentingnya kepatuhan dalam mengonsumsi obat sesuai resep dokter.
"Jemaah perlu istirahat cukup, minimal enam jam tidur setiap malam, serta menjaga pikiran tetap positif," pungkas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang