Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kasus Akuisisi Twitter, Elon Musk Terancam Ganti Rugi Puluhan Triliun Rupiah

Kompas.com, 21 Maret 2026, 06:34 WIB
Erlangga Djumena

Editor

Sumber CNBC

CALIFORNIA, KOMPAS.com - Putusan mengejutkan datang dari pengadilan California Amerika Serikat. Juri menyatakan bahwa Elon Musk menyesatkan pemegang saham Twitter menjelang akuisisi perusahaan media sosial tersebut senilai 44 miliar dollar AS, berdasarkan putusan yang dirilis pada Jumat (20/3/2026) waktu setempat.

Nilai ganti rugi dalam kasus ini tidak main-main, bisa mencapai hingga 2,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 43,94 triliun (kurs Rp 16.900), menurut pengacara penggugat.

Gugatan class action Pampena v. Musk diajukan setelah Musk merampungkan pembelian Twitter pada Oktober 2022 dengan harga 54,20 dollar AS per saham atau sekitar Rp 915.980 per saham. Setelah diakuisisi, Twitter diubah namanya menjadi X, lalu digabungkan dengan xAI dan SpaceX.

Baca juga: Elon Musk Gaungkan Lagi Dogecoin ke Bulan saat Harga Bitcoin Tertekan

“Ini adalah contoh nyata tentang apa yang tidak boleh dilakukan kepada investor ritel—orang-orang yang punya dana pensiun, anak, tabungan, seperti guru, pemadam kebakaran, dan perawat,” ujar pengacara investor, Joseph Cotchett seperti dilansir dari CNBC, Sabtu (21/3/2026).

“Kasus ini bukan soal Musk semata, tapi soal keseluruhan praktiknya,” tambah dia.

Kasus ini berakar dari perubahan sikap Musk setelah mengajukan penawaran membeli Twitter pada April 2022. Ia mulai meragukan jumlah bot dan akun palsu di platform tersebut, bahkan menyebut akuisisi itu “ditunda sementara” sampai data tersebut bisa dibuktikan.

Pernyataan itu berdampak besar. Saham Twitter langsung jatuh hampir 10 persen dalam satu hari perdagangan. Setelah melalui proses selama empat hari, juri secara bulat menyatakan cuitan Musk pada 13 dan 17 Mei bersifat menyesatkan secara material.

Para investor menilai langkah Musk merupakan upaya menekan harga agar bisa membeli Twitter lebih murah dari penawaran awal.

Ilustrasi Elon Musk ganti nama Twitter jadi XTech Crunch Ilustrasi Elon Musk ganti nama Twitter jadi X
Mereka juga mengaitkannya dengan tekanan di saham Tesla, yang berpotensi memaksa Musk menjual lebih banyak saham untuk membiayai akuisisi.

Penggugat mengaku menjual saham di bawah harga 54,20 dollar AS setelah merespons pernyataan Musk, sehingga mengalami kerugian signifikan.

Meski begitu, juri juga menyatakan Musk tidak terbukti menjalankan skema khusus untuk menipu investor.

Tim hukum Musk membela bahwa pernyataan kliennya didasarkan pada kekhawatiran yang valid terkait bot, spam, dan akun palsu di Twitter, bukan manipulasi pasar.

Putusan ini menjadi pukulan telak secara reputasi bagi Musk. Namun dari sisi finansial, dampaknya relatif kecil jika dibandingkan dengan total kekayaannya yang mencapai sekitar 650 miliar dollar AS atau setara Rp 10.985 triliun.

Baca juga: Elon Musk: AS 1.000 Persen Bisa Bangkrut akibat Utang Nasional

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau