Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengamat: WFH-1 Potensi Tekan Produktivitas Industri dan Pendapatan UMKM

Kompas.com, 22 Maret 2026, 10:10 WIB
Kiki Safitri,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Rencana penerapan kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan (WFH-1) oleh pemerintah dinilai berpotensi menekan pendapatan sejumlah sektor, terutama transportasi dan usaha kuliner kecil.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmi Radhi menilai, kebijakan tersebut memang ditujukan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), namun di sisi lain berpotensi menimbulkan dampak ekonomi bagi pelaku usaha.

Ia menjelaskan, berkurangnya mobilitas masyarakat akibat WFH-1 akan langsung berdampak pada sektor transportasi, termasuk ojek online (ojol), serta pelaku UMKM yang bergantung pada aktivitas pekerja kantoran.

Baca juga: Purbaya: Kebijakan WFH Bisa Hemat Penggunaan BBM 20 Persen

Ilustrasi ojek online.SHUTTERSTOCK/CREATIVA IMAGES Ilustrasi ojek online.

“WFH-1 berpotensi menurunkan pendapatan bagi sektor transportasi, termasuk jasa ojol, warung-warung UMKM yang selama ini menyediakan makan siang bagi ASN dan pekerja swasta, dan usaha lainnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (22/3/2026).

Tak hanya itu, kebijakan tersebut juga dinilai dapat berdampak pada sektor industri, khususnya manufaktur, apabila diterapkan secara luas.

“Mewajibkan WFH-1 bagi pekerja swasta di sektor manufaktur juga berpotensi menurunkan produktivitas kerja yang pada akhirnya merugikan sektor tersebut,” imbuh Fahmi.

Ia menekankan, pemerintah perlu menghitung secara matang antara manfaat dan biaya dari kebijakan tersebut agar tidak menimbulkan efek negatif yang lebih besar.

Baca juga: Menko Airlangga Pastikan Penerapan WFH Usai Lebaran, Berlaku buat ASN dan Swasta

“Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan masak-masak dengan menghitung secara teliti cost and benefit WFH-1. Jangan sampai penerapan ini memberikan manfaat penghematan subsidi BBM, tetapi sektor lain justru menanggung biayanya,” tegasnya.

Ilustrasi BBM, penyaluran BBM di SPBU. Isi BBM Pertamina lebih baik dengan nominal ganjil?SHUTTERSTOCK/ANDRI WAHYUDI Ilustrasi BBM, penyaluran BBM di SPBU. Isi BBM Pertamina lebih baik dengan nominal ganjil?

Rencana kebijakan WFH-1 sendiri muncul di tengah tekanan global akibat lonjakan harga minyak dunia.

Penutupan Selat Hormuz karena konflik geopolitik mendorong harga minyak Brent menembus 112,19 dollar AS per barrel pada 20 Maret 2026.

Sebagai negara net importer, kenaikan harga minyak tersebut berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional, mulai dari membengkaknya subsidi BBM, meningkatnya inflasi impor, hingga melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.000 per dollar AS.

Baca juga: IEA Peringatkan Krisis Minyak Terbesar, Dorong WFH hingga Berkendara Lebih Pelan

Untuk menekan beban subsidi, pemerintah berencana menerapkan WFH-1 bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pekerja swasta.

Kebijakan ini diperkirakan dapat menghemat konsumsi BBM hingga 20 persen jika diterapkan secara konsisten.

Namun demikian, efektivitas kebijakan ini dinilai masih menjadi tantangan.

Perubahan pola kerja masyarakat tidak mudah dilakukan tanpa adanya faktor pendorong yang kuat.

Baca juga: Fleksibilitas Kerja WFH, Apindo Soroti Dampak pada Dunia Usaha

“Tidak mudah mengerahkan seluruh ASN dan pekerja swasta untuk menerapkan WFH-1 secara konsisten. Bisa saja mereka tidak bekerja dari rumah, melainkan work from everywhere di tempat wisata, sehingga konsumsi BBM tidak berkurang signifikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan WFH saat pandemi Covid-19 didukung oleh faktor pembatasan aktivitas yang ketat.

Sementara dalam kondisi saat ini, tidak ada faktor paksaan yang cukup kuat.

“Tanpa variabel paksa, sangat sulit WFH-1 bisa diterapkan secara konsekuen,” tegas dia.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau