Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Bank investasi global Citigroup memangkas proyeksi harga bitcoin (BTC) dalam 12 bulan ke depan.
Ini seiring melambatnya kemajuan legislasi kripto di Amerika Serikat (AS) yang dinilai dapat menghambat adopsi institusional dan aliran investasi baru ke aset digital.
Dikutip dari CoinDesk, Minggu (22/3/2026), dalam catatan riset terbaru, analis Citigroup menurunkan target harga bitcoin menjadi 112.000 dollar AS dari sebelumnya 143.000 dollar AS.
Baca juga: Robert Kiyosaki Prediksi Harga Bitcoin Bisa Tembus 750.000 Dollar AS
Ilustrasi bitcoin. Proyeksi untuk harga ether juga dipangkas menjadi 3.175 dollar AS dari 4.304 dollar AS.
Penurunan target ini dikaitkan dengan tertundanya pembahasan rancangan undang-undang struktur pasar kripto di Senat AS, yang sebelumnya diperkirakan dapat memberikan katalis regulasi bagi pertumbuhan industri aset digital.
“Katalis regulasi akan mendorong adopsi dan arus lebih lanjut, tetapi peluang untuk legislasi AS tahun ini semakin menyempit,” kata kepala riset makro kuantitatif global dan DeFi Citigroup Alex Saunders dalam catatan tersebut, dikutip dari TradingView.
Menurut Citi, kemajuan regulasi di AS menjadi faktor penting untuk mendorong permintaan dari investor institusional, termasuk potensi peningkatan aliran dana melalui produk exchange-traded fund (ETF) berbasis kripto.
Baca juga: Harga Bitcoin Turun ke 69.200 Dollar AS, Ultimatum Trump ke Iran Picu Volatilitas
Rancangan undang-undang yang dikenal sebagai Digital Asset Market Clarity Act sebelumnya telah disetujui oleh DPR AS.
Namun, pembahasannya terhenti di Komite Perbankan Senat sejak awal tahun akibat perbedaan pandangan terkait aturan stablecoin.
Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.Ketidakpastian ini membuat peluang pengesahan regulasi pada 2026 dinilai semakin menyempit, sehingga mengurangi ekspektasi pasar terhadap katalis pertumbuhan industri kripto dalam jangka pendek.
Citigroup menilai, jika legislasi tidak segera disahkan, dampaknya dapat dirasakan pada permintaan investor dan arus modal masuk ke pasar kripto.
Baca juga: Harga Bitcoin Bertahan di 70.000 Dollar AS, Analis Soroti Sinyal Reset Siklus
Selain itu, dinamika politik menjelang pemilihan umum sela di AS juga dinilai dapat memengaruhi proses legislasi.
Menurut warta Reuters, beberapa anggota parlemen mendorong aturan yang lebih ketat, termasuk larangan bagi pejabat publik untuk memperoleh keuntungan dari investasi kripto serta penguatan aturan anti pencucian uang.
Dalam skenario dasar (base case), Citigroup memperkirakan harga bitcoin mencapai 112.000 dollar AS dalam 12 bulan ke depan.
Namun, bank tersebut juga memaparkan kemungkinan pergerakan harga dalam rentang yang cukup lebar, tergantung kondisi makroekonomi dan permintaan investor.
Baca juga: Bitcoin Melemah ke 70.000 Dollar AS, Investor Respons Kebijakan Ketat The Fed
Dalam skenario resesi, Citi memperkirakan harga bitcoin dapat turun hingga 58.000 dollar AS.
Sebaliknya, dalam skenario optimistis yang didorong oleh permintaan investor akhir yang lebih kuat, harga bitcoin berpotensi naik hingga 165.000 dollar AS.
Untuk ether, Citi memperkirakan harga dapat turun hingga 1.198 dollar AS dalam kondisi ekonomi yang memburuk, namun berpotensi naik ke 4.488 dollar AS jika permintaan meningkat.
Bank tersebut juga mencatat, aktivitas pengguna pada jaringan Ethereum cenderung lemah dalam beberapa waktu terakhir, meskipun tren stablecoin dan tokenisasi aset dinilai dapat meningkatkan minat terhadap ekosistem tersebut.
Baca juga: Bitcoin Tembus 75.600 Dollar AS di Tengah Perang Timur Tengah, Kripto Jadi Safe Haven?
Ilustrasi kripto. Citigroup menilai level harga sekitar 70.000 dollar AS menjadi titik penting bagi pergerakan bitcoin dalam waktu dekat.
Level ini disebut sebagai harga sebelum pemilihan umum di AS dan berpotensi menjadi batas bawah pergerakan harga selama pasar menunggu kejelasan regulasi.
Dengan harga bitcoin yang sempat diperdagangkan di kisaran 74.000 dollar AS, Citi memperkirakan aset kripto terbesar tersebut berpotensi bergerak sideways hingga terdapat perkembangan signifikan terkait legislasi di AS.
Di sisi lain, analis pasar juga menilai bahwa faktor makroekonomi global, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral dan kondisi geopolitik, tetap menjadi penentu utama volatilitas harga kripto.
Baca juga: Harga Minyak Tembus 110 Dollar AS, Bitcoin (BTC) Ikut Bergejolak
Beberapa pengamat menyebut bitcoin masih memiliki potensi kenaikan hingga 120 persen dalam skenario optimistis, namun juga dapat turun sekitar 25 persen jika kondisi pasar memburuk.
Citigroup menekankan bahwa perkembangan regulasi akan sangat menentukan arah adopsi institusional terhadap aset digital.
Katalis regulasi yang jelas dinilai dapat mendorong aliran investasi melalui produk ETF serta meningkatkan partisipasi investor skala besar.
Sebaliknya, jika ketidakpastian regulasi berlanjut, pasar kripto berpotensi menghadapi periode konsolidasi yang lebih panjang.
Baca juga: Data Tenaga Kerja AS Negatif, Harga Bitcoin dan Kripto Kompak Melemah
Dengan demikian, bank tersebut menilai arah harga bitcoin dalam jangka menengah akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor regulasi, permintaan investor, dan kondisi makroekonomi global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang