Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Momentum mudik dan perayaan Idul Fitri 2026 diperkirakan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun ini.
Pemerintah, bank sentral, pelaku usaha, hingga ekonom menilai peningkatan konsumsi masyarakat, percepatan belanja negara, serta berbagai stimulus kebijakan dapat mendorong aktivitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah program untuk menjaga daya beli sekaligus mendorong mobilitas masyarakat selama Ramadhan hingga Lebaran.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Pelit Lapangan Kerja
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.Ia menyebut kebijakan tersebut antara lain pemberian potongan harga (diskon), penerapan skema work from anywhere (WFA), serta berbagai bantuan sosial dan bantuan pangan.
“Berharap dengan kemenangan ini kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 5,5 persen,” ujar Airlangga saat ditemui dalam acara open house Lebaran, Sabtu (21/3/2026).
Dalam kesempatan itu, Airlangga juga menyinggung dinamika global yang masih menjadi tantangan bagi perekonomian.
“Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir batin dan dalam suasana ini tentu kita mengharap kita bersama-sama menghadapi gejolak krisis minyak ke depan,” ucap dia.
Baca juga: Purbaya dan Airlangga Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Kuat
Bank Indonesia (BI) menilai momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 diprakirakan meningkat ditopang permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga yang menguat seiring perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga di tengah berlangsungnya perang di Timur Tengah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 meningkat ditopang permintaan domestik,” ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI Maret 2026, Selasa (17/3/2026).
Ia menambahkan, mobilitas masyarakat yang tinggi selama HBKN seperti Tahun Baru Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri menjadi faktor pendorong konsumsi.
Baca juga: Pemerintah Harap Lebaran Angkat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026
“Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 itu masih akan tetap tinggi,” jelas Perry.
Menurut dia, peningkatan konsumsi juga didukung berbagai program stimulus pemerintah, pelonggaran kebijakan moneter BI, serta perbaikan ekspektasi konsumen.
Selain konsumsi, investasi diperkirakan tetap tumbuh, didorong realisasi program pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan proyek hilirisasi sumber daya alam.
“Jadi dukungan pertumbuhan ekonomi akan tetap tinggi pada Kuartal I. Dan tentu saja itu kami perkirakan juga akan tetap tinggi dan juga akan mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan,” tuturnya.
Baca juga: Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen
BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen secara tahunan.
Pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dapat berada di atas 5 persen, seiring terjaganya daya beli masyarakat selama Ramadhan hingga Lebaran.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,6 hingga 5,7 persen.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui usai melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).“Pertumbuhan ekonomi bisa 5,6-5,7 persen, kalau perkiraan kasar ya. Itu sudah lumayan bagus lah, di tengah gejolak global sekarang,” ujarnya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Baca juga: BI: Hari Raya hingga THR Topang Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026
Ia mengatakan dampak konflik global masih berupaya diserap pemerintah agar tidak langsung dirasakan masyarakat, salah satunya dengan memastikan subsidi energi tetap berjalan.
“Dampak global saat ini masih belum terasa karena di-absorb (diserap) oleh pemerintah. Jadi kita menjaga betul supaya masyarakat bisa beraktivitas dengan normal,” kata Purbaya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya