Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga BBM Tak Naik, Dinilai Bantu Jaga Daya Beli Masyarakat

Kompas.com, 31 Maret 2026, 19:23 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M Sarmuji menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas upaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan global yang meningkat akibat konflik geopolitik.

Apresiasi tersebut secara khusus ditujukan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang dinilai berhasil mempertahankan harga BBM tetap stabil di tengah lonjakan harga energi dunia.

Menurut Sarmuji, situasi global saat ini ditandai dengan ketidakpastian yang tinggi, terutama akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berdampak langsung terhadap harga energi.

Baca juga: Aturan Baru Terbit, Pembelian BBM Subsidi Maksimal 50 Liter per Hari

Ilustrasi BBM Pertamina di SPBU. Muhammad Idris/Money.kompas.com Ilustrasi BBM Pertamina di SPBU.

“Dalam kondisi seperti sekarang, bisa tidak naik harga, khususnya BBM subsidi, itu sudah merupakan perjuangan yang tidak mudah. Pemerintah menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada rakyat dengan menjaga daya beli di tengah tekanan global,” ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis, Selasa (31/3/2026).

Ia menilai, keputusan pemerintah untuk menahan kenaikan harga BBM, terutama BBM bersubsidi, merupakan langkah strategis di tengah tekanan eksternal yang semakin kompleks.

Sarmuji juga berharap konflik geopolitik yang terjadi dapat segera mereda sehingga tekanan terhadap harga minyak dunia berkurang dan tidak semakin membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Semoga konflik segera berakhir agar harga minyak dunia kembali stabil dan tidak terus membebani APBN,” kata dia.

Baca juga: Pertamina Jamin Stok BBM Aman, Harga Tak Naik per 1 April 2026

Lebih lanjut, Sarmuji menekankan bahwa stabilitas harga BBM memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional.

Perbandingan Harga BBM ASEAN 2026 Imbas Perang AS?Israel vs Iran, Singapura Termahal, Bagaimana Posisi Indonesia?SHUTTERSTOCK Perbandingan Harga BBM ASEAN 2026 Imbas Perang AS?Israel vs Iran, Singapura Termahal, Bagaimana Posisi Indonesia?

Menurut dia, kebijakan tersebut berpengaruh terhadap pengendalian inflasi dan menjaga biaya logistik agar tidak meningkat signifikan.

“Stabilitas harga BBM memiliki efek domino yang sangat besar terhadap perekonomian nasional, terutama dalam menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan biaya logistik tidak melonjak tajam,” ujarnya.

Selain itu, Fraksi Partai Golkar mendorong pemerintah untuk terus memperkuat strategi mitigasi risiko di sektor energi. Beberapa langkah yang disoroti antara lain optimalisasi cadangan energi nasional, diversifikasi sumber energi, serta peningkatan efisiensi distribusi BBM agar tepat sasaran.

Baca juga: Pemerintah Jaga Pasokan BBM untuk Rakyat Kecil

Sarmuji juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan subsidi dan kompensasi energi agar kebijakan yang dijalankan tetap akuntabel dan berkelanjutan.

“Ke depan, tantangan sektor energi masih akan sangat dinamis. Karena itu, konsistensi kebijakan dan kecepatan respons pemerintah menjadi kunci. Fraksi Partai Golkar DPR RI akan terus memberikan dukungan sekaligus pengawasan konstruktif agar kebijakan energi nasional tetap berpihak pada kepentingan rakyat,” kata Sarmuji.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau