Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasar Saham Asia Menguat Usai Trump Beri Isyarat Bakal Hengkang dari Iran

Kompas.com, 1 April 2026, 13:09 WIB
Agustinus Rangga Respati,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar saham Asia melonjak pada Rabu pagi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, AS akan meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Hal tersebut akan dilakukan terlepas dari apakah kesepakatan telah tercapai dengan Teheran atau tidak.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik hampir 4 persen pada perdagangan awal. Sementara Kospi di Korea Selatan naik lebih dari 6 persen. Namun, kedua indeks tersebut masih diperdagangkan lebih rendah daripada sebelum perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Juni diperdagangkan 1,2 persen lebih tinggi menjadi 105,36 dollar AS per barrel.

Hal ini terjadi setelah harga Brent untuk pengiriman bulan Mei naik sebesar 64 persen pada Maret dan mencatat rekor kenaikan. Kenaikan terjadi karena Iran mengancam akan menyerang kapal-kapal yang menggunakan Selat Hormuz, yang secara efektif menutup jalur pelayaran utama tersebut.

Kemarin, Trump mengatakan Iran memohon untuk membuat kesepakatan.

Baca juga: Sinyal Perdamaian Iran Tekan Harga Minyak Dunia

Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya memiliki kemauan untuk mengakhiri perang, tetapi menuntut jaminan tertentu untuk mencegah terulangnya agresi di masa depan.

Sebagai catatan, patokan global untuk minyak adalah kontrak untuk membeli satu barrel minyak mentah Brent satu bulan ke depan. Ketika harga ini naik, biasanya harga bahan bakar juga ikut naik, karena minyak merupakan komponen kunci.

Economist Intelligence Unit Nicolas Daher mengatakan, lonjakan harga minyak pada Maret lalu merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak 1990 ketika invasi Irak ke Kuwait. Waktu itu, invasi menyebabkan pasokan minyak kedua negara terhenti dan mengakibatkan guncangan pasokan energi.

"Hal ini juga memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak yang meluas dari negara-negara Teluk lainnya, yang menyebabkan lonjakan biaya energi," kata dia dikutip dari BBC, Rabu (1/4/2026).

Ia menambahkan, lonjakan harga terbaru ini dipicu oleh ekspektasi, konflik akan berlanjut setidaknya hingga akhir April.

Baca juga: Purbaya Pastikan APBN Aman Meski Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS

Pengamat Saxo Bank Ole Hansen menyampaikan, perusahaan penyulingan minyak juga semakin agresif dalam mengajukan penawaran untuk minyak mentah. Mereka berupaya meningkatkan produksi seiring pasar di seluruh dunia dilanda kekurangan bahan bakar jet dan diesel.

Pertempuran terus berlanjut di Timur Tengah. Ibu kota Lebanon, Beirut, dihantam serangan udara pada hari Selasa, dengan militer Israel mengatakan bahwa serangan itu menargetkan tokoh senior Hizbullah.

Trump diperkirakan akan menyampaikan pidato kepada publik pada Rabu malam tentang perang tersebut.

Negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan sangat terpukul oleh konflik ini karena sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah.

Sedangkan, pasar keuangan di kedua negara berfluktuasi tajam dalam beberapa pekan terakhir karena investor bereaksi terhadap perkembangan perang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan Sulfur di Tengah Gejolak Global
Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan Sulfur di Tengah Gejolak Global
Industri
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di NTT Dikebut, Sebagian Mulai Beroperasi Tahun Depan
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di NTT Dikebut, Sebagian Mulai Beroperasi Tahun Depan
Ekbis
Rupiah Menguat ke Rp 16.979, Pasar Cermati Sinyal Reda Konflik Timur Tengah
Rupiah Menguat ke Rp 16.979, Pasar Cermati Sinyal Reda Konflik Timur Tengah
Ekbis
Tambak Udang Sumba Diproyeksi Serap 8.820 Tenaga Kerja, Bidik Devisa Rp 4,5 Triliun per Tahun
Tambak Udang Sumba Diproyeksi Serap 8.820 Tenaga Kerja, Bidik Devisa Rp 4,5 Triliun per Tahun
Ekbis
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di Sumba Dibiayai Pinjaman Asing
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di Sumba Dibiayai Pinjaman Asing
Ekbis
Menaker Akan Evaluasi Imbauan WFH Swasta, BUMN, dan BUMD dalam 2 Bulan
Menaker Akan Evaluasi Imbauan WFH Swasta, BUMN, dan BUMD dalam 2 Bulan
Ekbis
Stok BBM Indonesia Aman, Pertamina: Cadangan Dalam Kondisi Cukup
Stok BBM Indonesia Aman, Pertamina: Cadangan Dalam Kondisi Cukup
Ekbis
Jamkrindo Syariah Bukukan Laba Bersih Rp 141,03 Miliar pada 2025
Jamkrindo Syariah Bukukan Laba Bersih Rp 141,03 Miliar pada 2025
Syariah
Danamon (BDMN) Setor Dividen Rp 142,19 per Saham, Total Rp 1,4 Triliun dari Laba 2025
Danamon (BDMN) Setor Dividen Rp 142,19 per Saham, Total Rp 1,4 Triliun dari Laba 2025
Ekbis
Wisman Tumbuh Dua Digit, Turis China Melonjak Tajam pada Februari 2026
Wisman Tumbuh Dua Digit, Turis China Melonjak Tajam pada Februari 2026
Ekbis
Tambak Udang KKP di Waingapu Ditargetkan Produksi 52.000 Ton per Tahun
Tambak Udang KKP di Waingapu Ditargetkan Produksi 52.000 Ton per Tahun
Ekbis
Efisiensi MBG: Demi Keadilan Gizi dan Tanggung Jawab Fiskal
Efisiensi MBG: Demi Keadilan Gizi dan Tanggung Jawab Fiskal
Ekbis
WFH 1 Hari per Pekan, Hak Pekerja Wajib Tetap Dibayar Penuh
WFH 1 Hari per Pekan, Hak Pekerja Wajib Tetap Dibayar Penuh
Ekbis
Diskon Tarif Listrik Rp 10.000 Via PLN Mobile, Cek Cara Mendapatkannya
Diskon Tarif Listrik Rp 10.000 Via PLN Mobile, Cek Cara Mendapatkannya
Ekbis
Empat Hari Kerja, Tujuh Hari Berpikir: ASN Bekerja atau Sekadar Hadir?
Empat Hari Kerja, Tujuh Hari Berpikir: ASN Bekerja atau Sekadar Hadir?
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau