JAKARTA, KOMPAS.com – PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia dan menawarkan saham perdana kepada publik.
Perusahaan logistik ini berpotensi menarik minat investor seiring prospek sektor logistik yang terus tumbuh.
WBSA akan melepas maksimal 1,8 miliar saham atau setara 20,75 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga penawaran berada di kisaran Rp 150 hingga Rp 170 per saham, dengan target dana hingga Rp 306 miliar.
Layanan WBSA mencakup rantai logistik end to end. Perusahaan mengelola transportasi darat, freight forwarding, pergudangan, hingga Inland Logistics Terminal.
Kinerja keuangan menunjukkan kondisi yang solid. Total aset tercatat Rp 1,15 triliun dan laba bersih Rp 24,39 miliar per September 2025.
Baca juga: Kasus IPO POSA: OJK Denda Rp 5,62 Miliar, Benny Tjokro Dilarang di Pasar Modal
Berikut jadwal dan struktur penawaran saham WBSA:
Jumlah saham: maksimal 1,8 miliar saham
Harga penawaran: Rp 150 hingga Rp 170 per saham
Target dana: hingga Rp 306 miliar
Kepemilikan publik: 20,75 persen
Masa penawaran umum: 1 hingga 8 April 2026
Tanggal pencatatan: 10 April 2026
Mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan, investor ritel berpeluang mendapat penjatahan minimum 10 lot per Single Investor Identification untuk emisi kategori tertentu, termasuk WBSA.
Batas maksimal pemesanan ditetapkan 10 persen dari total nilai IPO atau Rp 30,6 miliar per SID. Investor juga harus memastikan dana tersedia dalam sistem pemesanan.
Dana hasil IPO akan digunakan untuk ekspansi anorganik. Salah satu rencana utama adalah akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik untuk memperkuat lini angkutan laut.
Baca juga: Arus Balik Ketapang Padat, Truk Logistik Meningkat
Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas Sergio Ticoalu menilai momentum IPO ini perlu direspons dengan strategi yang matang.
“Kami mendorong investor untuk memanfaatkan momentum IPO ini dengan strategi yang matang dan berbasis informasi. Aplikasi IPOT hadir sebagai partner investasi yang mendukung perjalanan investor, dari pemula hingga profesional,” ujar Sergio.
Akses investor ritel juga didukung platform digital. Melalui aplikasi IPOT, investor bisa memesan saham e-IPO secara praktis.
Sergio menyebut minat investor ritel terhadap IPO terus meningkat.
“Kami melihat minat investor ritel terhadap IPO terus meningkat. Melalui aplikasi IPOT, kami ingin memastikan akses yang lebih inklusif, cepat, dan berbasis teknologi agar investor dapat mengambil keputusan investasi secara lebih tepat,” paparnya.
Aplikasi tersebut menyediakan fitur pemesanan terintegrasi, sistem pengembalian dana cepat, hingga tampilan saham sebelum pencatatan.
Fitur indikator real time juga membantu investor membaca pergerakan saham sejak awal perdagangan.
“Fitur real-time indicator yang kami hadirkan juga menjadi diferensiasi penting, terutama untuk saham IPO yang belum memiliki data historis. Ini membantu investor membaca pergerakan pasar sejak awal,” tambahnya.
Investor dapat memantau status penjatahan secara langsung melalui aplikasi.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang