JAKARTA, KOMPAS.com – Pelek mobil penyok atau peang menjadi salah satu masalah yang cukup sering dialami pemilik kendaraan.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga bisa berdampak pada kestabilan mobil.
Banyak orang mengira pelek penyok hanya terjadi karena menghantam lubang besar.
Padahal, ada faktor lain yang ikut berperan, terutama saat mobil digunakan dalam perjalanan jauh.
Runang dari HWS Wheel, Car Part & Accessories di kawasan H. Nawi, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa suhu pelek saat digunakan juga memengaruhi risiko kerusakan.
“Penyok, ya. Jadi ketika kita berkendara, apalagi dengan jarak yang sudah cukup jauh, putaran dan gesekan pasti menghasilkan panas," ujar Runang kepada Kompas.com, belum lama ini.
"Saat pelek sudah mulai hangat atau panas karena pemakaian, lalu tiba-tiba menghantam lubang, tonjolan, polisi tidur, atau sesuatu yang tidak sempat kita hindari atau rem, pelek seperti ‘dikagetkan’," katanya.
“Karena kondisinya sudah hangat atau panas akibat penggunaan, ketika terkena benturan mendadak, bisa saja menjadi peyang. Sebab, ada efek panas di situ,” ujar Runang.
Panas Berpengaruh?
Runang menjelaskan, saat mobil melaju, roda terus berputar dan bergesekan dengan aspal.
Proses ini menimbulkan panas, terutama setelah perjalanan cukup jauh atau saat mobil dipacu dalam kecepatan tinggi.
Ketika pelek yang sudah panas menghantam lubang atau permukaan jalan yang keras secara tiba-tiba, struktur logamnya lebih rentan berubah bentuk.
Ibarat logam yang dipanaskan, daya tahannya bisa sedikit menurun dibanding saat kondisi dingin.
Jika benturan cukup keras, pelek bisa langsung penyok atau berubah bentuk (peyang). Dampaknya, mobil bisa terasa bergetar saat melaju, setir tidak stabil, hingga ban haus tidak merata.
Beberapa penyebab umum yang bikin pelek penyok adalah:
https://otomotif.kompas.com/read/2026/02/27/104200315/penyebab-pelek-mobil-penyok--bukan-cuma-lubang-panas-juga-berperan