Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Reaksi Melambat Saat Puasa, Pengendara Diimbau Lebih Hati-hati

Kompas.com, 22 Februari 2026, 12:22 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Stanly Ravel

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang waktu berbuka puasa, kondisi lalu lintas di banyak kota besar biasanya semakin padat.

Pada saat yang sama, para pengendara sepeda motor sudah berada dalam kondisi lelah setelah beraktivitas seharian tanpa asupan makanan dan minuman.

Situasi ini menjadi lebih berisiko bagi pemotor karena mereka tidak memiliki perlindungan bodi kendaraan seperti pengemudi mobil.

Baca juga: Jangan Anggap Remeh, 4 Kesalahan Ini Bikin Baterai Hybrid Cepat Drop

Kombinasi kelelahan fisik, rasa lapar, serta dorongan ingin segera tiba di rumah sebelum adzan, diam-diam bisa menurunkan konsentrasi saat berkendara.

Potret kondisi Pantura Demak saat berbaikan, nedan jalan berlumpur dan tidak aman dilintasi pengendara motor, Senin (26/1/2026)KOMPAS.COM/NUR ZAIDI Potret kondisi Pantura Demak saat berbaikan, nedan jalan berlumpur dan tidak aman dilintasi pengendara motor, Senin (26/1/2026)

Dalam kondisi seperti itu, pengendara motor menjadi lebih rentan karena keseimbangan, refleks tangan, dan fokus visual sangat menentukan keselamatan.

Menurut Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, penurunan fokus saat puasa bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan berkaitan dengan kondisi fisiologis tubuh.

“Ketika seseorang berpuasa, kadar gula darah kan biasanya menurun, tubuh mengalami dehidrasi, itu berpengaruh terhadap konsentrasi serta waktu reaksi saat berkendara,” kata Agus kepada Kompas.com, Minggu (22/2/2026).

Ia menjelaskan, konsentrasi yang menurun membuat pemotor lebih lambat merespons situasi tak terduga, seperti kendaraan di depan yang mendadak mengerem, pengendara lain berpindah jalur tanpa sein, atau pejalan kaki yang menyeberang di sela kemacetan.

Dalam kondisi normal, waktu reaksi rata-rata sekitar 1 detik. Namun saat tubuh lelah dan kurang fokus, respons tersebut bisa melambat.

Baca juga: Jawa Tengah Jadi Tujuan Favorit, 38,71 Juta Orang Diprediksi Mudik

“Selisih sepersekian detik saja sangat menentukan. Di kecepatan 60 km per jam, kendaraan bisa melaju belasan meter dalam satu detik. Kalau reaksinya terlambat, jarak pengereman jadi tidak cukup,” ujarnya.

Ilustrasi berkendara di kemacetanDok. Wahana Honda Ilustrasi berkendara di kemacetan

Pada sepeda motor, keterlambatan reaksi tidak hanya berdampak pada jarak pengereman, tetapi juga pada stabilitas kendaraan. Saat tubuh lemas dan konsentrasi menurun, kontrol terhadap setang, tuas rem, dan keseimbangan motor bisa terganggu. Risiko tergelincir atau terjatuh pun meningkat, terutama di tengah kepadatan lalu lintas menjelang berbuka.

Selain faktor fisik, Agus menilai aspek psikologis juga berperan besar. Menjelang magrib, banyak pemotor terdorong agar bisa segera sampai rumah tepat sebelum adzan. Tekanan ini membuat emosi lebih mudah tersulut, apalagi ketika terjebak macet.

Kondisi tersebut berpotensi memicu keputusan berisiko, seperti menyalip secara agresif, memacu motor melebihi batas kecepatan, atau menerobos lampu kuning yang hampir berubah merah. Padahal, kemampuan menilai risiko juga cenderung menurun ketika tubuh dalam keadaan lelah.

Agus menyarankan agar pengendara menyadari keterbatasan tubuh saat berpuasa dan tidak memaksakan diri.

Baca juga: Seberapa Jauh Darion PHEV Berjalan Tanpa Mesin Bensin?

Salah satu langkah sederhana adalah berangkat lebih awal agar tidak terburu-buru di jalan. Menjaga kecepatan tetap stabil, mempertahankan jarak aman, serta menghindari manuver mendadak menjadi kunci keselamatan.

Pemudik motor melintas di Jalan Raya Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). KBO Satlantas Polres Bogor Iptu Ardian Novianto mengatakan lalu lintas kendaraan di jalur Puncak, Bogor mengalami peningkatan yang signifikan pada arus mudik Lebaran 2025 dan mencapai puncaknya pada Jumat (28/3/2025) malam dengan tujuan ke wilayah regional Jawa Barat seperti Cianjur, Cianjur Wetan dan Bandung. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/rwa.ARIF FIRMANSYAH Pemudik motor melintas di Jalan Raya Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). KBO Satlantas Polres Bogor Iptu Ardian Novianto mengatakan lalu lintas kendaraan di jalur Puncak, Bogor mengalami peningkatan yang signifikan pada arus mudik Lebaran 2025 dan mencapai puncaknya pada Jumat (28/3/2025) malam dengan tujuan ke wilayah regional Jawa Barat seperti Cianjur, Cianjur Wetan dan Bandung. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/rwa.

“Jangan kejar waktu, tapi kejar selamat. Terlambat beberapa menit itu biasa, yang penting sampai rumah dalam keadaan aman,” katanya.

Ia menambahkan, bila merasa sangat lelah atau mulai kehilangan fokus, pemotor sebaiknya menepi sejenak untuk beristirahat. Keselamatan di jalan jauh lebih penting daripada sekadar tiba tepat waktu untuk berbuka.

Baca juga: Jangan Anggap Remeh, 4 Kesalahan Ini Bikin Baterai Hybrid Cepat Drop

Dengan memahami bahwa puasa dapat memengaruhi konsentrasi dan waktu reaksi, para pengendara motor diharapkan lebih waspada dan bijak dalam mengambil keputusan. Sebab di atas roda dua, satu momen lengah saja bisa berujung fatal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau