Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ganti Ukuran Pelek Mobil Jangan Asal, Ada Perhitungannya

Kompas.com, 25 Februari 2026, 11:02 WIB
Ruly Kurniawan,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Mengganti pelek sering jadi pilihan pemilik mobil untuk meningkatkan tampilan kendaraan agar terlihat lebih sporty dan proporsional. Namun, perubahan ukuran tidak boleh hanya mempertimbangkan aspek estetika.

Jika tidak dihitung dengan tepat, penggantian pelek justru bisa mengurangi kenyamanan berkendara hingga memengaruhi komponen kaki-kaki.

Kumar dari Kickoff Ciputat, toko pelek dan ban mobil di kawasan Cipayung, Ciputat, mengatakan pemilik kendaraan perlu memahami beberapa hal penting sebelum memutuskan mengganti ukuran pelek.

Baca juga: Komparasi Pikap Mahindra Scorpio Vs Mitsubishi Triton

pelek mobilkompas.com/nanda pelek mobil

“Jangan hanya melihat model atau ukuran yang lebih besar. Yang paling penting adalah perhitungannya tepat supaya mobil tetap nyaman dan aman digunakan,” ujar Kumar kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Hal utama yang harus diperhatikan adalah menjaga diameter keseluruhan roda atau outer diameter tetap mendekati ukuran standar pabrikan.

Diameter ini dihitung dari titik tengah pelek hingga bagian terluar ban. Ukuran pelek memang bisa dinaikkan atau diturunkan, tetapi diameter total ban sebaiknya tidak berubah jauh dari spesifikasi awal.

Menurut Kumar, perubahan diameter yang terlalu besar atau kecil dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari ban berisiko mentok ke spatbor, gangguan pada bearing dan ball joint, hingga penurunan kenyamanan dan stabilitas saat berkendara.

Sebagai contoh, ukuran 225/35 R19. Angka 225 menunjukkan lebar ban dalam milimeter, sementara angka 35 merupakan aspect ratio atau tinggi dinding ban sebesar 35 persen dari lebar tersebut.

Baca juga: Mana yang Lebih Kuat, Pelek Casting, Flow Forming, atau Forged?

Ilustrasi pelek mobilScott Chu Ilustrasi pelek mobil

“Semakin kecil aspect ratio, dinding ban semakin tipis. Biasanya kalau ukuran pelek diperbesar, ban yang digunakan juga lebih tipis. Dampaknya, kemampuan ban dalam meredam getaran ikut berkurang,” kata Kumar.

Secara umum, kenaikan ukuran pelek satu hingga dua inci masih tergolong aman selama diameter keseluruhan roda tetap sesuai perhitungan.

Namun, patokan tersebut bukan aturan mutlak karena yang paling menentukan adalah kesesuaian ukuran ban dengan pelek dan spesifikasi kendaraan.

Selain ukuran, kualitas pelek juga tidak boleh diabaikan. Produk dengan kualitas rendah berisiko mengalami masalah seperti pelek tidak presisi (peyang), material yang lebih rapuh, hingga kebocoran halus atau pinhole.

Kebocoran jenis ini membuat tekanan angin berkurang secara perlahan dan sulit dideteksi tanpa pemeriksaan khusus.

Baca juga: Toyota Fortuner Terbaru Tertangkap Sedang Uji Jalan di Thailand

Pinhole biasanya tidak terlihat dengan mata. Cara mengeceknya bisa dengan merendam atau menyiram pelek menggunakan air. Kalau ada kebocoran, akan muncul gelembung,” ujarnya.

Jadi, supaya tidak salah memilih, Kumar menyarankan pemilik kendaraan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan toko atau bengkel spesialis sebelum membeli.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau