Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kecelakaan dan Konflik di Jalan Bisa Berawal dari Kurangnya Pemahaman Pengemudi

Kompas.com, 27 Februari 2026, 10:12 WIB
Muhammad Fathan Radityasani,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus kecelakaan hingga konflik antar pengguna jalan belakangan kembali marak terjadi. Mulai dari tabrakan akibat ugal-ugalan sampai aksi arogansi di jalan raya menunjukkan bahwa risiko berkendara bukan hanya soal kemampuan mengemudi.

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, banyak pengemudi masih menganggap berkendara hanya membutuhkan keterampilan teknis. Padahal, ada sejumlah faktor lain yang menjadi penentu keselamatan di jalan.

Menurut dia, mengemudi membutuhkan kombinasi kesiapan yang lengkap, bukan sekadar bisa mengendalikan kendaraan.

Baca juga: Waspada Mobil Bekas Tabrakan Berat, Deteksi Kerusakan sampai Sasis

Angga wisatawan asal Bogor, Jawa Barat, dan Perwira Pos Pam IPTU Mustofa saat diwawancarai soal insiden cekcok yang terjadi di jalir wisata Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/12/2025)KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Angga wisatawan asal Bogor, Jawa Barat, dan Perwira Pos Pam IPTU Mustofa saat diwawancarai soal insiden cekcok yang terjadi di jalir wisata Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/12/2025)

“Membawa mobil ini tidak hanya memerlukan keterampilan, tetapi juga ketertiban, ketertiban administrasi, mental, kesehatan, kewaspadaan terhadap segala kemungkinan terburuk, dan terakhir adalah empati,” kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (26/2/2026).

Ia menjelaskan, empat aspek utama yang wajib dimiliki pengemudi meliputi keterampilan, kewaspadaan, kedisiplinan, serta empati terhadap pengguna jalan lain.

Parameter tersebut, menurutnya, harus dipahami setiap orang yang mengoperasikan kendaraan di ruang publik. Jusri menilai banyak insiden di jalan terjadi karena hilangnya empati dan meningkatnya sikap arogan antar pengendara.

Baca juga: Misi Elektrifikasi, Toyota Jual Veloz Hybrid EV Harga Spesial


“Kita lihat kasus-kasus insiden lain kok bisa sampai bunuh-bunuhan, karena masalah empati, masalah arogansi, masalah eksklusivitas,” ujarnya.

Selain itu, perilaku tidak tertib seperti mengebut dan mengabaikan aturan lalu lintas juga menjadi pemicu utama kecelakaan. Kombinasi antara emosi, ego, dan kurangnya kesadaran risiko membuat potensi tabrakan semakin besar.

“Semua parameter itu selalu memicu terjadinya kecelakaan,” kata Jusri.

Karena itu, ia menekankan keselamatan berkendara harus dimulai dari perubahan pola pikir, bahwa jalan raya adalah ruang bersama yang menuntut tanggung jawab sosial setiap pengguna.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau