Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kontroversi Impor Pikap India: DFSK Siap Penuhi Kebutuhan Lokal

Kompas.com, 27 Februari 2026, 15:01 WIB
Janlika Putri Indah Sari,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Impor truk dan mobil pikap asal India untuk sarana operasional Koperasi Desa Merah Putih terus menjadi pemberitaan media nasional pekan ini.

Pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara akan membawa kendaraan niaga dari Tata Motors dan Mahindra & Mahindra Ltd.

Meski telah ada industri mobil nasional namun pemerintah memilih memasok kebutuhan koperasi desa lewat impor.

Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile, Cing Hok Rifin mengatakan, pihaknya sebenarnya sanggup untuk mendukung kebutuhan PT Agrinas jika segmen tersebut adalah Pikap 4x2.

"Pada prinsipnya, kami siap mendukung kebutuhan PT Agrinas dan Koperasi Merah Putih untuk unit pikap 4x2. Mengingat fasilitas pabrik kami mampu memproduksi hingga 25.000 unit per tahun, keberadaan pabrik DFSK di Indonesia menjamin komitmen ketersediaan layanan purna jual jangka panjang dibandingkan dengan unit impor. Selain itu, jaringan diler 3S kami telah tersebar di seluruh Indonesia," kata Cing Hok Rifin kepada Kompas.com, Kamis (26/2/2026).

Baca juga: Di Tengah Tantangan Industri, Astra Otoparts Catat Laba Rp 2,2 Triliun

Sebagai informasi Super Cab hingga saat merupakan pikap andalan DFSK yang diproduksi secara lokal oleh PT Sokonindo Automobil.

Pabrik DFSK berlokasi di Cikande, Serang, Banten.

Biaya perawatan DFSK Super Cab cuma Rp 6.859 per hariFoto: DFSK Biaya perawatan DFSK Super Cab cuma Rp 6.859 per hari

DFSK memasarkan Super Cab di Indonesia pertama kali pada 2017.

Secara spesifikasi, Super Cab merupakan pikap dengan mesin 1.500cc dengan bak yang lega di kelasnya.

Dimensi baknya, memiliki panjang 2.470 mm, lebar 1.670 mm, dan tinggi bak 340 mm.

Baca juga: AHM Sebut Faktor Pendorong Penjualan Motor Awal 2026

Cing Hok Rifin juga menyebutkan, nilai TKDN Super Cab saat ini kurang lebih 30 persen.

Hingga saat ini, DFSK telah menjual lebih dari 15.000 unit di Indonesia dan juga melakukan ekspor ke Asia Tenggara.

"Saat ini nilainya kurang lebih 30 persen. Kami akan terus meningkatkan angka tersebut melalui kerja sama dengan pemasok suku cadang lokal di Indonesia," katanya.

Terkait ekosistem kendaraan niaga di Indonesia, Cing Hok Rifin juga berharap pemerintah mengutamakan produk dalam negeri dalam penyerapan APBN.

"Hal ini penting untuk menunjang perputaran ekonomi nasional, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja di sektor otomotif dan industri suku cadang lokal," katanya.

Sementara itu, untuk menjaga pangsa pasar tahun ini DFSK akan tetap fokus pada penjualan retail secara langsung melalui diler-diler yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau