Co-CEO Asus, S.Y. Hsu, secara terang-terangan mengakui bahwa laptop murah Apple tersebut adalah sebuah "kejutan" besar yang memaksa para pabrikan PC untuk segera merespons.
Pengakuan ini dilontarkan Hsu dalam sesi earnings call kuartal Q4 2025 Asustek Computer Inc, pada pekan ini.
"Secara historis, strategi harga Apple selalu berada di segmen premium. Jadi, ketika mereka merilis produk yang sangat ramah kantong, ini jelas merupakan kejutan bagi seluruh industri," ungkap Hsu.
Meski mengakui besarnya ancaman tersebut, Wu sempat berusaha meremehkan spesifikasi MacBook Neo.
Ia berpendapat bahwa laptop dengan RAM 8 GB tersebut memiliki keterbatasan perangkat keras dan lebih cocok diposisikan sebagai peranti "konsumsi konten" layaknya sebuah tablet.
Namun, klaim Wu tersebut berbanding terbalik dengan ulasan para penguji gadget. Sejumlah reviewer membuktikan bahwa MacBook Neo mampu melibas sofware berat, seperti DaVinci Resolve, Final Cut Pro, hingga Adobe Lightroom tanpa kendala berarti.
Sadar akan performa MacBook Neo yang di luar dugaan, Wu memastikan bahwa seluruh rantai pasok industri PC kini sedang memutar otak untuk merespons langkah Apple.
"Saya rasa semua vendor PC, termasuk vendor hulu seperti Microsoft, Intel, dan AMD, menanggapinya dengan sangat serius. Seluruh ekosistem PC akan meluncurkan produk yang sepadan untuk bersaing dengan Apple," tegas Wu.
Krisis komponen dan rantai pasokan
Ancaman terbesar bagi pabrikan PC Windows sebenarnya terletak pada jurang perbedaan rantai pasokan, seperti dirangkum KompasTekno dari MacRumors.
MacBook Neo ditenagai oleh chip iPhone, yakni A18 Pro, yang diproduksi secara masif di bawah perjanjian pasokan langsung antara Apple dan pabrikan semikonduktor TSMC.
Skema ini membuat Apple sepenuhnya kebal dari krisis pasokan yang saat ini tengah membuat pusing kompetitornya.
Di kubu seberang, produsen PC Windows tengah dihantam krisis inflasi komponen yang sangat parah. Intel baru saja menaikkan harga CPU laptop entry-level mereka hingga lebih dari 15 persen.
Di saat bersamaan, harga memori DRAM yang meroket juga mengancam mendongkrak harga laptop mainstream hingga 40 persen pada tahun ini.
Kekurangan pasokan memori inilah yang diyakini bakal sangat menyulitkan pabrikan Windows untuk meracik perangkat tandingan dengan harga serendah Apple.
Meski dihimpit keunggulan harga Apple, CFO Asus, Nick Wu, menyoroti adanya benteng ekosistem yang mungkin bisa menahan laju migrasi pengguna.
Menurut Wu, kubu Apple dan kubu Intel memiliki basis pelanggan yang sangat tersegmentasi akibat perbedaan software bawaan.
"Tidak mudah bagi pengguna untuk berpindah di antara kedua ekosistem ini," jelas Wu.
Ke depannya, Hsu berjanji bahwa seluruh ekosistem PC akan segera meluncurkan sejumlah produk tandingan untuk melawan dominasi baru Apple.
Namun, baik Hsu maupun Wu sepakat bahwa hasil akhir dari persaingan pasar ini masih sangat sulit diprediksi dan membutuhkan waktu lebih untuk diobservasi.
Di tengah guncangan ini, Asus sendiri memproyeksikan adanya penyusutan pengiriman PC sebesar 20 persen secara kuartal-ke-kuartal pada Q1 2025, sebelum diprediksi kembali tumbuh 30 persen pada Q2 2025.
Meski pasar tengah bergejolak, pabrikan asal Taiwan itu tetap ambisius mengejar target untuk meraup lebih dari 30 persen pangsa pasar laptop kecerdasan buatan (Copilot+ PC) di akhir tahun ini seiring dengan tren AI.
https://tekno.kompas.com/read/2026/03/14/08020077/macbook-neo-bikin-industri-laptop-windows-geger