Salin Artikel

AS Resmi Larang Router Terbaru Buatan Asing

Langkah ini merupakan tindak lanjut langsung dari "Ketetapan Keamanan Nasional" yang diterbitkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump pada Jumat pekan lalu.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah untuk melindungi infrastruktur telekomunikasi AS dari ancaman serangan siber dan spionase.

Aturan pemblokiran ini mengejutkan banyak pihak karena skalanya yang sangat luas. FCC secara resmi memasukkan kategori "semua router yang diproduksi di negara asing" ke dalam daftar hitam (covered list).

Meski aturan FCC tidak secara khusus menyebutkan satu negara tertentu, para analis industri sepakat bahwa target utamanya adalah membendung perangkat keras asal China.

Saat ini, produk perusahaan China diperkirakan menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar router rumahan di Amerika Serikat.

Pabrikan besar seperti TP-Link, yang didirikan di China dan kini bermarkas di California, dilaporkan tengah diselidiki oleh pemerintahan AS terkait potensi risiko keamanan dari perangkatnya.

Namun, efek dari aturan pemblokiran ini justru ikut memukul raksasa teknologi asal AS sendiri. Merek-merek router populer buatan AS, seperti Netgear, Google Nest, Amazon Eero, Cisco, dan Linksys, terancam tidak bisa merilis model baru di negaranya sendiri.

Pasalnya, hampir sebagian besar perangkat keras dari merek-merek tersebut dirakit dan diproduksi di pabrik luar negeri, seperti di Taiwan, Vietnam, Thailand, dan China.

Ancaman spionase

Pihak FCC berargumen bahwa router buatan asing telah menciptakan celah kerentanan fatal.

Perangkat ini sejatinya bertindak sebagai gerbang utama yang menghubungkan komputer, ponsel, dan perangkat pintar warga sipil ke jaringan internet, sehingga keberadaannya sangat krusial dan rawan disusupi.

Menurut laporan komisi tersebut, peretas semakin sering memanfaatkan celah pada router rumahan. FCC secara spesifik menuding bahwa router asing telah memfasilitasi kampanye peretasan skala besar seperti operasi Volt, Flax, dan Salt Typhoon.

Serangan-serangan tersebut diketahui secara agresif menargetkan sektor infrastruktur kritis Amerika, mulai dari sistem komunikasi, jaringan energi, transportasi, hingga fasilitas air.

Aturan ketat ini dibuat demi memutus kelonggaran rantai pasok dan memastikan tidak ada "pintu belakang" (backdoor) yang tertanam secara bawaan pada jaringan rumah warga AS.

Nasib router lama dan pengecualian

Lantas, bagaimana nasib router WiFi buatan luar negeri yang saat ini sudah telanjur digunakan oleh konsumen di rumah?

FCC memastikan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk pengajuan perizinan model perangkat baru, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Engadget. 

Aturan ini tidak berlaku untuk semua produk router luar negeri yang sudah dipasarkan di AS.

Konsumen masih bisa menggunakan router yang sudah dibeli sebelumnya, dan toko tetap diperbolehkan menjual model yang telah mendapatkan persetujuan FCC sebelum kebijakan ini diterapkan.

FCC memberikan kelonggaran berupa dukungan pembaruan software untuk perangkat yang terdampak, setidaknya hingga 1 Maret 2027 mendatang.

FCC juga masih membuka peluang bagi produsen untuk tetap memasarkan produknya melalui mekanisme persetujuan bersyarat.

Izin ini dapat diberikan oleh lembaga seperti Departemen Keamanan Dalam Negeri, dengan syarat perusahaan menunjukkan rencana untuk memindahkan sebagian produksi ke dalam negeri AS.

https://tekno.kompas.com/read/2026/03/25/08320067/as-resmi-larang-router-terbaru-buatan-asing

Terkini Lainnya

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com