KOMPAS.com - Unitree H1, sebuah robot humanoid mengamuk hingga nyaris "menyerang" teknisi pabrik perusahaan pengembang robot, Unitree Robotics. Insiden ini terekam dalam kamera CCTV yang terpasang di area pabrik tersebut.
Video rekaman tersebut beredar di media sosial X (dahulu Twitter) maupun TikTok.
Berdasarkan video tersebut, robot berbentuk tubuh manusia ini awalnya diam, tetapi terpasang pada sebuah derek kecil. Ketika tengah diuji coba oleh beberapa teknisi, robot itu mendadak mengayunkan tangannya, bergerak maju, seolah ingin melepaskan diri.
Pergerakannya itu mengenai berbagai benda di dekatnya, hingga nyaris menyerang dua teknisi yang berada di sekitarnya. Satu teknisi berada di depan robot dan sisanya ada di belakang. Keduanya lantas panik dan berupaya melindungi diri.
Baca juga: Amazon Perkenalkan Vulcan, Robot yang Punya Indra Peraba
Insiden ini bisa ditangani setelah salah satu teknisi menarik derek dan mencoba menyetop "amukan robot" lebih lanjut.
Menurut sejumlah laporan, penyebab anomali robot ini adalah karena coding yang error. Sebab, Unitree H1 sebenarnya dirancang dapat beroperasi sebagai pendamping manusia, bukan membahayakan orang-orang.
Dilansir Times of India, Unitree H1 kabarnya dibanderol seharga 650.000 yuan (sekitar Rp 1,4 miliar).
Belum ada tanggapan resmi dari pihak Unitree Robotics, sebagai pengembang robot humanoid Unitree H1, setidaknya hingga saat ini, dihimpun KompasTekno dari International Business Times, Senin (12/5/2025).
Adapun video keributan oleh robot ini bisa dilihat pada posting berikut.
Just moments ago, a robot in a lab suddenly went berserk, marking the first robot rebellion in human history. pic.twitter.com/6iTjgXA6bX
— ??Cyber Taoist??????? (@136Division) May 2, 2025
Karena malfungsi robot ini, kekhawatiran akan teknologi robot humanoid kembali mencuat.
Kekhawatirannya bukan hanya mencakup praktik malfungsi, tetapi juga menandai kerentanan dalam program yang mengoperasikan robot ini, maupun dari sisi hardware-nya.
Baca juga: Ketika Manusia dan Robot Adu Cepat di Ajang Lari Maraton...
Selain itu, insiden ini juga mencerminkan bagaimana kesalahan kecil dalam coding, mampu mengubah mesin yang pada dasarnya didesain untuk membantu manusia, menjadi sebuah ancaman nyata.
China diketahui sedang getol menunjukkan kemajuan teknologi di bidang robotika dan kecerdasan buatan (AI).
Bulan April lalu misalnya, sebanyak 21 robot humanoid ikut berpartisipasi dalam ajang Yizhuang Half Marathon sejauh 21 kilometer di Beijing, China, berbarengan dengan ribuan pelari manusia.
Robot-robot berkaki dua tersebut berasal dari sejumlah perusahaan teknologi asal China, seperti X Humanoid, DroidVP, dan Noetix Robotics.
Dalam video yang beredar di internet, robot-robot ini berlari di jalur khusus, tidak menyatu dengan pelari manusia. Pun, 21 humanoid ini ditemani pelatih/operator manusia di sepanjang lomba. Beberapa pelatih bahkan harus membantu menopang robot secara fisik.
Dari 21 robot yang ikut serta, hanya ada empat robot yang berhasil menyelesaikan lomba dalam batas waktu empat jam yang ditentukan (cut-off time).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang