KOMPAS.com – Sejumlah peneliti internasional, sebagian besar dari University of Edinburgh, Skotlandia mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama DinoTracker.
Aplikasi ini, yang cara kerjanya dijelaskan dan dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS), diklaim mampu mengidentifikasi jejak kaki (footprint) dinosaurus yang terbentuk puluhan juta tahun lalu.
DinoTracker sejatinya bukan aplikasi mobile yang bisa dipasang di smartphone melalui Google Play Store atau Apple App Store.
Sistem ini tersedia sebagai aplikasi berbasis web dan kode sumber open-source yang dapat diakses gratis melalui platform GitHub, serta dijalankan melalui komputer untuk keperluan riset dan edukasi.
Baca juga: Asal Muasal Game Dinosaurus Chrome yang Bisa Dimainkan 17 Juta Tahun
Nah, salah satu peneliti yang terlibat dalam pengembangan DinoTracker, Steve Brusatte, mengatakan bahwa aplikasi ini dibuat dengan memanfaatkan teknologi AI untuk membantu paleontolog menganalisis jejak dinosaurus secara lebih objektif.
Secara umum, berdasarkan pengujian internal, sistem AI DinoTracker mampu menghasilkan klasifikasi jejak kaki dinosaurus yang selaras dengan analisis pakar manusia, dengan tingkat akurasi hingga sekitar 90 persen.
Menurut Brusatte, DinoTracker diharapkan dapat mempermudah sekaligus membantu menjawab sebagian tantangan yang selama ini dihadapi para paleontolog dalam mempelajari sejarah kehidupan Bumi di masa lalu.
Beberapa tantangan tersebut antara lain kemiripan bentuk jejak kaki antar-spesies dinosaurus, hingga pengaruh jenis dan kontur permukaan tanah tempat jejak tersebut terbentuk.
“Saat menemukan jejak dinosaurus, kami sebagai paleontolog seperti mencoba mencocokkan sepatu 'Cinderella' dengan pemiliknya," kata Brusatte dalam pernyataannya kepada TheGuardian, dikutip KompasTekno.
Baca juga: Instagram Blokir Puluhan Akun Pelacak Jet Pribadi Selebritas dan Tokoh Publik
"Sebab, bentuk jejak kaki juga akan dipengaruhi oleh jenis pasir atau lumpur, serta bagaimana dinosaurus itu melangkah,” imbuh Brusatte.
Selain itu, para ilmuwan hampir tidak pernah menemukan fosil dinosaurus tepat di samping jejak kaki yang ditinggalkannya.
Akibatnya, proses identifikasi selama ini kerap bergantung pada interpretasi tidak langsung yang biasanya rentan keliru.
Tampilan aplikasi DinoTracker.Selama ini, sistem AI dalam paleontologi umumnya dilatih dengan cara memberi label setiap jejak kaki dinosaurus berdasarkan spesies atau kategorinya.
Namun, pendekatan tersebut dinilai berisiko karena kesalahan pada label awal bisa diwariskan ke sistem AI.