Sebelum Seperti Sekarang, YouTube Dulu Hampir Jadi Aplikasi Cari Jodoh

Kompas.com, Diperbarui 08/03/2026, 13:34 WIB
Zulfikar Hardiansyah

Penulis

Ringkasan:

  • YouTube awalnya hampir dibuat sebagai aplikasi kencan, karena para pendirinya, Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim, ingin membangun platform berbasis video, tetapi belum menemukan bentuk penggunaan yang jelas selain perkenalan diri untuk mencari pasangan.
  • Konsep aplikasi cari jodoh tersebut gagal total, lantaran tidak ada pengguna yang mengunggah video perkenalan diri dalam lima hari pertama, sehingga para pendiri memutuskan menghapus ide kencan dan membuka YouTube untuk semua jenis video.

KOMPAS.com - Mendengar nama YouTube, sebagian besar orang bisa dengan mudah merujuk ke platform streaming video. Rasanya tidak mungkin YouTube diasosiasikan dengan platform di luar streaming video.

Namun, berbalik drastis dengan kondisi saat ini, YouTube ternyata dulu hampir dirancang bukan sebagai wadah berbagi dan streaming video. Siapa sangka para pendirinya dulu membuat YouTube sebagai aplikasi cari jodoh atau dating apps mirip Tinder.

Baca juga: Indonesia Jadi Salah Satu Penonton Terbesar Konten AI Slop di YouTube

YouTube jadi aplikasi kencan

Fakta YouTube jadi aplikasi kencan ini sempat dijelaskan salah satu pendirinya, Steve Chen, dalam acara talkshow di ajang festival SXSW pada 2016 silam. Chen selalu yakin bahwa platform YouTube yang akan dibangun akan berkaitan dengan video.

Akan tetapi, saat awal membuat YouTube, mereka belum memiliki gambaran pasti pengaplikasian dari platform video itu. Mereka lantas berpikir jika fasilitas kencan menjadi pilihan menarik untuk mengisi platform video.

"Kami selalu berpikir ada sesuatu yang berhubungan dengan video di sana, tetapi apa sebenarnya pengaplikasian praktisnya?" kata Chen.

"Kami pikir kencan akan menjadi pilihan yang paling jelas,” imbuhnya, sebagaimana dilansir dari Cnet.

Baca juga: MTV Tutup 5 Channel Musik, Imbas YouTube dan Medsos

Lebih lanjut, Chen menjelaskan gambaran YouTube sebagai aplikasi cari jodoh adalah seseorang yang lajang membuat video perkenalan diri dan mengatakan apa yang tengah mereka cari.

Namun, setelah lima hari, sayangnya tidak ada seorang pun yang mengunggah video perkenalan diri untuk cari jodoh di YouTube. Lantas, para pendiri yang terdiri dari Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim, mulai mempertimbangkan kembali.

"Oke, lupakan aspek kencan. Mari kita buka untuk video apa pun," kata Chen.

Nama domain didaftarkan saat Valentine

Alhasil, YouTube menjadi tempat untuk berbagai jenis video seperti yang kita kenal saat ini, bukan untuk mencari jodoh. Sejak dibeli Google pada 2006 senilai 1,6 miliar dollar AS, YouTube terus meroket sebagai platform streaming video.

Saat ini, YouTube memiliki lebih dari 2,5 miliar pengguna aktif bulanan secara global. Kemudian, YouTube menjadi tempat bagi kreator di seluruh dunia dengan lebih dari 500 jam video diunggah setiap menitnya.

Meski sekarang ikonik dengan platform streaming video, sejarah YouTube hampir jadi aplikasi cari jodoh tidak dapat dilupakan. Bahkan, salah satu sejarah uniknya adalah nama domain YouTube didaftarkan saat hari Valentine, tepatnya 14 Februari 2005.

Baca juga: 2 Cara Menghapus History YouTube di HP dan Laptop dengan Mudah

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau