Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah TMII, Wisata Miniatur Indonesia yang Digagas Tien Soeharto

Kompas.com, 5 November 2025, 19:00 WIB
Krisda Tiofani,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Perlu waktu lama untuk menapaki keindahan puluhan provinsi di Indonesia. Lewat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), masyarakat Indonesia dan turis asing, dapat melihat garis besar keindahan budaya Tanah Air dalam waktu singkat.

Ini adalah gambaran besar Siti Hartina atau yang akrab disapa Tien Soeharto, saat pertama kali menggagas pembangunan TMII.

“Tempat ini (TMII) idenya dari Tien Soeharto saat pergi ke Belanda dan melihat satu tempat bernama Madurodan, tempat di mana ada landmark-landmark dunia,” kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jakarta, Indra Diwangkara, di tengah kegiatan Jakarta Ecotourism Festival 2025 rute Jakarta Timur, Selasa (4/11/2025).

Baca juga: Oakwood Hotel & Apartments Taman Mini Jakarta Diresmikan, Tarif Menginap Rp 800.000-an

Sementara itu, dikutip dari Kompas.com, Rabu (5/11/2025), inspirasi Tien Soeharto dalam menggagas TMII datang saat ia mengunjungi Disneyland di Amerika Serikat (AS) pada 1971.

Dalam buku “Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942” (1995) oleh Frances Gouda, ketika melihat Disneyland, Tien Soeharto lantas ingin bisa membangun taman bermain seperti Disneyland dengan menonjolkan spirit ke-Indonesiaan.

Sayangnya, rencana pembangunan miniatur Indonesia oleh Tien Soeharto ternyata mengundang protes dari mahasiswa karena dianggap menelan biaya fantastis hingga Rp 10,5 miliar.

Baca juga: Pengalaman Menonton Atraksi Burung di Taman Burung TMII

Padahal di waktu yang sama, mantan Presiden Soeharto sedang menyampaikan anjuran hidup prihatin lantaran sebagian besar masyarakat masih hidup dalam taraf kemiskinan. Soeharto bahkan menekankan agar pembangunan didasarkan pada skala prioritas.

Gagasan pembangunan TMII pun akhirnya dianggap bukan prioritas oleh para mahasiswa yang disampaikan dalam bentuk diskusi dan seminar.

Menanggapi protes tersebut, Tien Soeharto sampai menggelar konferensi pers yang juga dihadiri para pejabat tinggi negara dan menegaskan pembangunan TMII telah sesuai dengan prosedur, sebagaimana diberitakan dalam Harian Kompas pada 8 Januari 1972.

Baca juga: Harga Sewa Mobil di Manado, Ini Kisarannya

Terkait sumbangan dari pemerintah kepada Yayasan Harapan Kita selaku pengelola pembangunan TMII, Tien Soeharto menjawab tak ada masalah dan menilai wajar bila Yayasan Harapan Kita yang diketuai olehnya mendapat sumbangan dari pemerintah untuk pembangunan TMII.

“Akan tetapi, kalau pemerintah memberikan sumbangan apa salahnya," kata Tien Soeharto dalam berita tersebut.

Pembangunan TMII tetap berjalan, meski gelombang protes dari mahasiwa terus mengalir. Puncaknya, kekesalan mahasiswa terhadap pembangunan TMII terakumulasi dengan masalah kemiskinan dan korupsi pemerintahan terwujud dalam peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974).

Setelah kerusuhan Malari mereda, pembangunan TMII justru semakin dikebut. Mimpi Tien Soeharto untuk membangun miniatur Indonesia pun akhirnya terwujud. TMII diresmikan pada 20 April 1975.

Baca juga: Tak Perlu Tukar Uang, QRIS Bisa Dipakai di Korea Selatan Mulai 2026!

Halaman:


Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau