Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengusaha Kritisi Pembatasan Kuota Turis ke TN Komodo 1.000 Orang Per Hari

Kompas.com, 18 Februari 2026, 16:00 WIB
Nansianus Taris,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

LABUAN BAJO KOMPAS.com - Gabungan Pengusaha Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri) mengkritisi uji coba kuota turis di Taman Nasional Komodo sebanyak 1.000 orang per hari sejak Januari hingga Maret 2026 yang diberlakukan oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut)  

Ketua Gahawisri Labuan Bajo, Budi Widjaja mengatakan sebagai pelaku industri yang setiap hari berada di lapangan, pihaknya berdiri pada dua prinsip yakni komodo harus dijaga dan ekonomi masyarakat harus bertumbuh. Kedua prinsip ini, menurutnya, tidak boleh dipertentangkan.

"Penetapan kuota statis 1.000 pengunjung per hari terdengar tegas. Namun ketegasan tanpa presisi berisiko menjadi kebijakan yang tidak adaptif," tegas Budi di Labuan Bajo, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Mulai 2026, Kunjungan ke TN Komodo Dibatasi Maksimal 1.000 Orang per Hari

Ia mengungkapkan kawasan TN Komodo tidak homogen. Pulau Rinca memiliki boardwalk yang dirancang untuk meminimalkan dampak ekologis.

Kemudian, spot bahari tersebar di perairan luas serta jalur trekking memiliki pola distribusi waktu berbeda.

"Mengapa seluruh kawasan dipukul rata dengan satu angka? Konservasi modern bukan lagi pendekatan batasi dulu, evaluasi nanti," tegas Budi.

Ia menyebut, konservasi modern adalah manajemen berbasis zonasi, data real-time, dan evaluasi berkala. Indonesia Emas membutuhkan tata kelola kelas dunia, bukan pendekatan administratif yang seragam.

Ia membeberkan, tren kunjungan sejak 2018 menunjukkan total kunjungan tahunan kurang lebih 300.000–400.000 wisatawan. Rata-rata harian berkisar 800–1.100 orang.

"Lonjakan di atas 1.000 hanya terjadi sekitar kurang lebih 90 hari saat peak season. Pada low season, angka bisa jauh di bawah 800. Beberapa periode bahkan tutup akibat faktor cuaca. Artinya, kuota 1.000 per hari sepanjang tahun tidak mencerminkan dinamika riil," ungkap dia.

Baca juga: Tur Operator Rugi Imbas Penutupan Akses ke TN Komodo Secara Beruntun

Ia menambahkan, kebijakan statis diterapkan pada sistem yang dinamis.Di situlah ketidaktepatan terjadi. Sebagai pelaku wisata, dirinya melihat dampaknya secara langsung.

Asumsi konservatif, 500 wisatawan tertolak saat peak season. Rata-rata pengeluaran Rp7.000.000 per orang. Peak season efektif kurang lebih 90 hari.

"Perhitungannya, 500 × Rp 7.000.000 = Rp3,5 miliar per hari. Rp3,5 miliar × 90 hari = Rp315 miliar per tahun potensi perputaran ekonomi yang tertahan. Ini belum termasuk pajak hotel dan restoran, PNBP kawasan, PAD daerah, Multiplier effect ke UMKM, Serapan tenaga kerja lokal," jelas dia.

Pihaknya tidak menolak pembatasan. Namun, menolak kebijakan yang kehilangan presisi dan tidak adaptif terhadap data.

Sebelumnya diberitakan, Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) mulai memberlakukan pembatasan jumlah pengunjung di Taman Nasional Komodo.

Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga mengatakan pihaknya mulai memberlakukan pengaturan kunjungan wisata melalui sistem kuota kunjungan di seluruh Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) TN Komodo.

"Pemberlakuan kebijakan tersebut diawali dengan tahap uji coba pada periode Januari sampai dengan Maret 2026," kata Hendrikus dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (4/1/2026).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau