KOMPAS.com - Sebuah robot berbentuk kucing datang dari abad ke-22, dikirim ke masa lalu untuk membantu kehidupan bocah laki-laki yang sering sial dan jadi ledekan teman-temannya.
Itulah kisah Doraemon, manga asal Jepang yang populer di Asia, termasuk Indonesia.
Penayangannya di televisi menemani masa muda generasi milenial dan gen z.
Sebelum ada gempuran kemajuan teknologi, televisi adalah satu-satunya hiburan audio visual yang mudah dijangkau pada tahun 1990-an.
Setiap Minggu pagi, beragam cerita robot kucing biru tak pernah absen menemani hari libur anak sekolah. Doraemon bersama Nobita dan teman-temannya menghadirkan imajinasi indah periode itu.
Ketika kabar penghentian penayangan di RCTI+ mencuat pada awal 2026, banyak warganet yang merasa kehilangan teman masa kecilnya.
Maka tak salah jika penghentian penayangan itu disebut sebagai penanda berakhirnya suatu era.
Sembari bernostalgia, mari mengulik alasan mengapa Doraemon begitu populer.
Berdasarkan catatan Britannica, Doraemon masuk dalam kategori manga terlaris, bersanding dengan One Piece dan Dragon Ball.
Doraemon diciptakan oleh duo Fujiko Fujio, nama pena dari dua sahabat masa kecil, Fujimoto Hiroshi dan Abiko Motoo.
Robot kucing futuristik tersebut pertama kali diterbitkan pada 1969. Manga aslinya hanya berjumlah 45 jilid dan berakhir pada 1996.
Namun, hingga kini kisah Doraemon masih bergulir dan bertahan dengan relevansi zaman.
Berdasarkan data per 2023, manga aslinya telah dicetak lebih dari 300 juta kopi.
Manga Doraemon diadaptasi menjadi serial animasi televisi pada 1979 dan pada tahun berikutnya dibuat menjadi film.